Tuesday, 29 August 2017

KERJA BERSAMA ADALAH SYARAT TAKWA DAN KEADILAN

DIRGAHAYU
72 Tahun Indonesia
KERJA BERSAMA
KERJA BERSAMA ADALAH SYARAT
TAKWA DAN KEADILAN
Ungkapan KERJA BERSAMA adalah ungkapan yang menunjukkan arti yang setara di hadapan TUHAN...(non hegemonik)
Mungkin pernyataan Imam Ali yang diulas Murtadha Muthahhari berikut ini bisa membantu menggambarkan FILSAFAT dari KERJA BERSAMA dalam menjaga hak masyarakat:
" Siapapun yang memiliki derajat setinggi apapun, tidaklah boleh mempunyai anggapan bahwa dia mempunyai kedudukan sedemikian tinggi hingga sama sekali tidak memerlukan kerjasama dengan yang lain. Begitu juga terhadap orang yang dianggap mempunyai kedudukan yang rendah dan tidak terpandang, tidaklah boleh seseorang berpikiran bahwa orang itu sedemikian rendahnya hingga tidak layak diajak bekerja sama atau membantu dirinya"
" Tidak seorangpun lebih tinggi dan lebih rendah dari derajat dan kedudukan KERJA SAMA SOSIAL. Semua orang mempunyai keperluan dan keperluan ada pada setiap orang"
Tujuan semua itu untuk mencapai persatuan dan terpenuhinya hak masyarakat. Sejauh dan setinggi apapun kemampuan berpikir dan amal perbuatan seseorang tidak akan mampu menyamai pikiran dan amal perbuatan yang dilakukan masyarakat.
Dengan demikian KERJA BERSAMA didasari bahwa kebesaran dan kekuatan seorang figur/individu tidak akan mempunyai pengaruh yang lebih besar dan efektif serta tidak akan mampu menyamai kekuatan masyarakat.
Saya sering mengungkapkan kepada teman-teman santri dalam keseharian di pondok, sehebat apapun kamu berpikir dan berbuat tetap belum berarti besar dibanding kemampuan berpikir dan berbuat dalam sebuah kerja tim.
Secara etika dan moral, tampaknya kebesaran moral seorang figur/.individu nilainya dilihat dari sejauh mana dia mampu mengantarkan masyarakat pada MORAL BERSAMA secara objektif. Mungkin saya bisa mengatakan, kebenaran subjektif kita secara individu perlu diantarkan ke masyarakat dalam sebuah kebenaran objektif.
Apakah kebenaran objektif itu? Ketika subjektivisme moral kita masing-masing tidak menghalangi kita secara objektif untuk bisa KERJA BERSAMA dalam menjaga masyarakat. Di mana letak objektivitas kebenaran itu? KEADILAN adalah dasar dan tujuan kerja bersama ini.
Mungkin ungkapan Imam Ali (saya kutip dari Muthahhari) berikut ini dapat mengukuhkan keadilan dalam sebuah kerangka ADIL sejak dalam pikiran:
" Tidak ada seorang pun dan tidak ada kedudukan apapun yang begitu tinggi sehingga tidak dapat dikritik"
" Salah satu sifat orang yang mencintai kebenaran bahwa ia menerima untuk mendengarkan nasihat dan kritikan yang membawa kepada perbaikan"
Mungkin inilah kesimpulan KERJA BERSAMA:
1. Tidak memandang remeh orang lain untuk diajak kerjasama sebodoh apapun kita menilai orang itu.
2. Syarat kerja bersama adalah hati yang terbuka untuk musyawarah, menerima nasihat dan kritikan. Oleh karena kebenaran dari kita tidak akan berarti tanpa bertemu dengan kebenaran orang lain dalam tujuan objektif kebenaran itu.
3. Tujuan objektif dari sebuah kebenaran adalah KERJA BERSAMA, orang yang menghindari kerja bersama secara objektif akan menghalangi dirinya untuk sampai kepada HAKIKAT kebenaran itu (al Haqq)
4. Kerja Bersama adalah sebuah tanda bahwa kemampuan individu kita telah berarti di hadapan TUHAN, sebagai firmanNYa: " Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa....(Alquran)
5. KERJA BERSAMA adalah KEBAJIKAN dan TAKWA yang berdiri kukuh dalam usaha untuk saling membantu
Mungkin ciri orang bertakwa: SALING MEMBANTU/ KERJA BERSAMA
Berkah Jumat
" WA anta yaa mawlaaya kariimun min awlaadil kiraam
Wa ma'muurun bid dhiyaafati wal ijaarati"
Wahai maula kami, engkaulah pelayan yang sebenarnya
Kerja bersama karena kita adalah pelayan bagi sesama
Wallahu'alam bi al shawab
Salam atas Nabi al Mustafa Muhammad SAW
Sayyidul Wujud KhataminNabiy
A.M. Safwan, Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari-RausyanFikr

Poligami Kosmik Dengan Mbak SAMAWA

Catatan Kecil dalam rangka HARI MAHABBAH
Poligami Kosmik Dengan Mbak SAMAWA
( 3 isteri dalam 1 tubuh)
Saya nikahkan Jiwa (nafs/diri) saya, kata seorang perempuan dalam IJABnya
Saya terima JIWAnya, kata seorang pria dalam QABULnya
Apa yang ada di JIWA perempuan yang diterima seorang pria?
Kehidupan JIWA akan dipenuhi oleh CINTA, inilah yang diserahkan seorang perempuan dalam ijabnya.
Dalam pernikahan kosmik,, arti cinta setelah pernikahan berbeda dengan cinta sebelum pernikahan. Apa yang dapat mencapai CINTA (mahabbah) dalam pernikahan? Mungkin menikahi 3 jiwa dalam diri perempuan yaitu Jiwanya mbak Sakinah, Jiwanya mbak Mawaddah, dan Jiwanya mbak Wa Rahmah (Mbak SAMAWA), JIWA perempuan yang Sakinah (damai), Mawaddah (cinta), dan Rahmah (kasih sayang)
Pertemuan dengan CINTA dalam pernikahan alamiah dalam kosmologi bersyaratkan pernikahan kosmik yang Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah.
Menurut saya IJAB QABUL menandai pernikahan "poligami kosmik" dalam diri perempuan dengan 3 kosmik JIWA yaitu poligami dengan "Mbak" Sakinah, mbak Mawaddah, mbak Rahmah
Mungkin penting mencapai poligami kosmik itu (Mbak SAMAWA), kita bercinta dengan 3 jiwa perempuan (mbak SAMAWA) dalam 1 diri perempuan. IMajinasi 3 jiwa perempuan dalam 1 diri perempuan akan menjadi imajinasi pernikahan kosmik yang sangat indah.
Pagi kita bersama Mbak Sakinahnya Diri Perempuan
Sore kita bersama Mbak Mawaddahnya Diri perempuan
Malam kita bersama Mbak Wa Rahmahnya Diri perempuan
Poligami kosmik mungkin begitu imajinatif, indah dan menghangatkan jiwa karena mata memandang 1 tubuh dalam diri perempuan dengan 3 jiwa perempuan
Mungkin baik mempersiapkan poligami kosmik dalam pernikahan monogami. Secara kosmik, sehari-hari kita sudah bersama 3 jiwa perempuan dalam 1 diri perempuan
"Perkawinan alamiah adalah monogami" (adaptasi pemikiran Muthahhari)
"ALangkah salah pahamnya laki-laki yang dalam relasi seksualnya tidak menemukan CINTA dalam diri perempuan"" (Adaptasi sebuah pernyataan Ibn 'Arabi)
Mungkin memang dalam aspek tertentu hukum poligami adalah hukum suci untuk menjawab problem sosial bukan berangkat dari persoalan individu laki-laki dalam rekreasi dan petualangan seks.
Mungkin poligami (sosial) mensyaratkan monogami yang sempurna SAMAWAnya (individu), itupun hukum poligami bukan kewajiban.
Mungkin penting kajian pranikah dalam dimensi KOSMIK PEREMPUAN
Bi haqqi Zahra binti Rasulillah SAW.
Wallahu'alam bi al shawab
A.M.Safwan, Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari-RausyanFikr

Thursday, 9 June 2016

Catatan Kecil Dialog dengan Prof.Hefner Islam Syiah, Filsafat Islam dan Ke Indonesiaan



A.M. Safwan (Madrasah Muthahhari - RausyanFikr Institute)

Hari ini Kamis, 26 Mei saya menerima kunjungan ilmiah/intelektual Prof. Robert W.Hefner, seorang Antropolog dari Universitas Boston, Amerika Serikat, Prof.Hefner pernah beberapa tahun (sekitar akhir tahun 1990-an) berada di Indonesia sebagai dosen tamu di Universitas Gadjah Mada dan melakukan penelitian di Indonesia, salah satunya tentang Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia.

Kunjungan ke tempat kami, dikatakannya bukan sedang dalam penelitian khusus, tetapi sebagai seorang intelektual yang menurut saya beliau adalah seorang peneliti yang simpatik, ramah dan terbuka dia ingin mengetahui (sense seorang peneliti) dinamika Islam Indonesia. Prof Hefner (yang sudah berusia 62 tahun) juga mengikuti dinamika gerakan-gerakan Islam di Indonesia termasuk isu Islam syiah di Indonesia, belakangan ini. Kami berbincang berdua saja dengan santai sekitar 2 jam sekitar masalah Islam di Indonesia, termasuk persoalan pemikiran Islam Syiah dan bagaimana pemikiran Islam Syiah dalam konteks ke Indonesiaan dan relasi pemikiran Islam Syiah dengan tradisi filsafat Islam dan Barat.

Friday, 27 May 2016

Catatan Kecil Dialog dengan Prof.Hefner: Islam Syiah, Filsafat Islam dan Ke Indonesiaan



A.M. Safwan (Madrasah Muthahhari - RausyanFikr Institute)

Hari ini Kamis, 26 Mei saya menerima kunjungan ilmiah/intelektual Prof. Robert W.Hefner, seorang Antropolog dari Universitas Boston, Amerika Serikat, Prof.Hefner pernah beberapa tahun (sekitar akhir tahun 1990-an) berada di Indonesia sebagai dosen tamu di Universitas Gadjah Mada dan melakukan penelitian di Indonesia, salah satunya tentang Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia.

Kunjungan ke tempat kami, dikatakannya bukan sedang dalam penelitian khusus, tetapi sebagai seorang intelektual yang menurut saya beliau adalah seorang peneliti yang simpatik, ramah dan terbuka dia ingin mengetahui (sense seorang peneliti) dinamika Islam Indonesia. Prof Hefner (yang sudah berusia 62 tahun) juga mengikuti dinamika gerakan-gerakan Islam di Indonesia termasuk isu Islam syiah di Indonesia, belakangan ini. Kami berbincang berdua saja dengan santai sekitar 2 jam sekitar masalah Islam di Indonesia, termasuk persoalan pemikiran Islam Syiah dan bagaimana pemikiran Islam Syiah dalam konteks ke Indonesiaan dan relasi pemikiran Islam Syiah dengan tradisi filsafat Islam dan Barat.

Monday, 23 May 2016

Catatan atas kasus Pemerkosaan dan Pembunuhan Yuyun dan Eno



Epistemologi Seksualitas dan Kejahatan Seksual
Darurat Rasionalitas, Darurat Keluarga
A.M.Safwan- Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari RausyanFikr

Kita tertegun dan kaget serta prihatin dan duka yang mendalam atas dua kasus sebulan terakhir ini yaitu pembunuhan setelah sebelumnya memperkosa korbannya. Yuyun, remaja belia (SMP) di Rejang Lebong Bengkulu dan Eno, buruh pabrik di Tangerang. Pelaku diancam dengan pasal berlapis karena ada pemerkosaan, pembunuhan berencana, pencurian. Ancamannya bisa hukuman mati dan penjara seumur hidup.

Dari informasi yang tersebar luas saya mencatat beberapa fakta: 1. Korbannya adalah perempuan dengan penampilan yang bersahaja, tidak menor dan seksi, bukan tipe perempuan elit, 2. Pelakunya berkelompok, Yuyun oleh 12 orang dengan 7 anak dibawah umur, Eno oleh 3 orang dengan 1 anak dibawah umur, 3. Pelaku bersama antara pria dewasa dan anak dibawah umur, 4. Korban diperkosa dan dibunuh bahkan Eno dengan cara yang sadis diduga dengan cangkul yang menancap di tubuh Eno, Yuyun dengan kondisi kemaluan yang lebam, 5. Korban ditemukan dalam keadaan sudah meninggal.