Tuesday, 24 September 2013

Agama dan Negara

Tesis yang mungkin penting dalam diskursus Agama dan Negara :

Membangun Nasionalisme Integratif yang disupport oleh gerakan sosial yang dibentuk oleh Pandangan Dunia Agama. sehingga demokrasi dan pandangan profan lainnya menjadi basis 'dialektika" Agama dan negara seperti demokrasi religius yang diijtihadkan Imam Khumaini. Ini bisa disebut filsafat politik Islam yang realis (realisme teologi politik Islam) bukan romantisme negara Islam yang kehilangan basis induktif (dinamika masyarakat).

Sehingga kontekstualisasi Islam Indonesia (secara induktif) menjadi penting untuk didisposesikan dengan basis teori Politik Islam. Kalau Iran ada wilayah Al Faqih dengan persentuhan minimal dengan demokrasi, maka nasionalisme integratif Islam Indonesia penting menjadi sebuah kerangka demokrasi religius dengan persentuhan dengan nalar politik Islam.

Dalam kerangka pandangan politik Imam Ali, simpul demokrasi harus terutama pada peletakan fungsi penting kepemimpinan. Sehingga demokrasi dalam nalar politik Islam adalah basis kedaulatan bangsa. Demokrasi tampaknya diarahkan terutama pada aspek kedaulatan nasional.

Inilah mungkin refleksi kebangkitan nasional yang berarti penting untuk kedaulatan nasional. Posisi kesejahteraan dalam demokrasi tampaknya adalah kamuflase, begitu juga demokrasi sebagai liberalisme konstitusional juga sulit lepas dari oligarki.

Jadi, mungkinkah kita berharap kebangkitan nasional dari oligarki partai politik dengan demokrasi kesejahteraan bukan kedaulatan dalam demokrasi. Dalam nalar politik Islam, partai politik bukan simpul kedaulatan, tetapi kekuatan kepemimpinan masyarakat. Jokowi adalah fenomena kemasyarakatan bukan kontribusi partai politik.

wallahu'alam

oleh. A.m. Safwan (Madrasah Murtadha Muthahhari)
dalam rangka Peringatan milad Imam Ali dan Hari Kebangkitan Nasional
Rausyan Fikr Institute Yogyakarta, 31 Mei 2013 (pkl.20.00 wib) 

No comments:

Post a Comment