Tuesday, 24 September 2013

KTT G-20: Presiden SBY Menentang Intervensi Militer di Suriah

Dalam pidato penutupan KTT G-20 di Saint Petersburg, Rusia, Presiden Rusia mengatakan, bangsa yang mayoritas Muslim paling padat penduduknya di dunia, Indonesia, adalah salah satu negara yang menentang serangan terhadap Suriah.

Indonesia dengan tegas menyerukan kepada masyarakat internasional untuk menahan diri mencari keadilan di luar hukum di Suriah, dan menunggu sampai penyelidik PBB mempublikasikan hasil investigasi mereka.

"Posisi Indonesia jelas. Presiden Yudhoyono telah menegaskan bahwa penggunaan senjata kimia terhadap warga sipil tak berdosa tidak dapat diterima, kita perlu memastikan siapa yang sebenarnya melakukan serangan itu. 

"Dalam hal ini, kita harus menunggu tim inspeksi PBB untuk mengumumkan hasil investigasinya, " kata Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa dalam pernyataan yang diterbitkan di situs resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Tanggapan internasional seharusnya tidak menimbulkan masalah yang lebih dan lebih buruk dari kemanusiaan. Penderitaan rakyat Suriah sudah terlalu lama, dan kita perlu memastikan tidak ada pendekatan militer yang digunakan, tetapi langkah-langkah diplomatik dan damai harus digunakan untuk menyelesaikan masalah, "tambah Natalegawa.

Dalam KTT G-20 di Saint Petersburg, Rusia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyeru  masyarakat internasional untuk tidak mengambil opsi tindakan militer dalam penyelesaian konflik di Suriah. Indonesia lebih memilih opsi politik dan di bawah mandat Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

“Tindakan militer untuk menghukum dan mencegah Suriah menggunakan senjata kimia, dan tanpa mandat PBB, bukan opsi yang tepat,” kata Presiden SBY dalam keterangan pers kepada wartawan, di Hotel Grand Emerald, St. Petersburg, Rusia, Jumat, 06/09/13,  pukul 18.00 waktu setempat atau 21.00 WIB.

Presiden merasa perlu menyampaikan keterangan ini karena tak kunjung ada penyelesaian internasional terhadap Suriah, sementara korban terus berjatuhan. 

Perdebatan mengenai langkah internasional terhadap Suriah di sela-sela KTT berlangsung alot. Indonesia, ujar Presiden SBY, memilih opsi solusi politik. "Yang diperlukan adalah aksi politik, dengan mandat dari PBB, dan lakukan gencatan senjata,”  tegas Presiden.

Menurut SBY, tindakan militer akan banyak memakan korban dan penderitaan warga Suriah makin berkepanjangan. “Penderitaan warga Suriah harus segera diakhiri, oleh karena itu dunia internasional harus merumuskan langkah tepat melalui penyelesaian politik,” SBY menjelaskan.

Menurut Presiden SBY, penyelesaian konflik Suriah harus memuat tiga elemen utama. Pertama, kekerasan harus segera diakhiri. Kedua, dengan diakhirinya perang saudara, maka bantuan kemanusiaan yang selama ini macet bias dijalankan kembali. Ketiga, tanpa opsi tindakan militer. “Tapi opsi politik,” Presiden mengenaskan kembali.

Presiden SBY juga bertemu dan melakukan komunikasi menyampaikan pandangan Indonesia dalam krisis Suriah tersebut dengan pemimpin dunia lainnya, termasuk dengan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon. Presiden SBY menyampaikan perlunya diambil langkah gencatan senjata segera. 

“Pemerintahan Bashar al-Assad dan oposisi harus menghentikan saling serang diantara mereka. PBB harus segera mengumumkan gencatan senjata,” ujar Presiden SBY.

Kepada negara-negara lain yang selama ini turut mengupayakan penyelesaian konflik Suriah, seperti Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Iran, dan Turki, harus bertemu. Organisasi kawasan juga dilibatkan, semisal Oganisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Liga Arab. Rumusan penyelesaian tersebut tetap harus dibawa ke PBB yang punya hak untuk memberi mandat.

“Setelah gencatan senjata terwujud, serahkan penyelesaian kepada bangsa Suriah sendiri. Jadi, kalau ada tersedia opsi lain selain militer, itulah yang seharusnya diambil,” Presiden SBY menandaskan. 

Sebelumnya Putin mengatakan, senjata-senjata kimia yang diduga digunakan di Suriah adalah provokasi yang dilakukan oleh pemberontak untuk menarik serangan asing.

"Tidak ada pembagaian pendapat 50/50 mengenai gagasan serangan militer terhadap Presiden Suriah Bashar Assad", jelas Putin membantah asumsi yang diklaim oleh AS.

"Hanya Turki, Kanada, Arab Saudi dan Perancis yang bergabung dengan AS dan mendorong intervensi", tegasnya.

Dalam KTT G-20 itu, Rusia, Cina, India, Indonesia, Argentina, Brasil, Afrika Selatan dan Italia berada di antara negara-negara ekonomi utama dunia secara tegas menolak intervensi militer. 


[IT/Onh/Ass/Sa/presidenri.go.id]

No comments:

Post a Comment