Tuesday, 10 September 2013

Perjumpaan Islam dan Kebudayaan antara Massa dan Tokoh Besar serta Kebenaran*


Pada 23-24 Agustus 2013 saya berada di Bengkulu, untuk pertama kali saya akan berkunjung ke kota ini. Saya membaca,mendengar dan menonton tentang Perayaan Tabot (Tabuk) yang sudah berlangsung lama dan sudah menjadi agenda kebudayaan Propinsi Bengkulu. Perayaan ini dikaitkan dengan Asyura dan Imam Husain cucu Nabi Muhammad Saw.

Ingin melihat langsung situs, artefak, assesoris, referensi, tuturan sejarah dan filosofi budaya serta relevansi ideologi.

Kalau memang historisitas Asyura telah bernilai budaya di Bengkulu bahkan menjadi salah satu budaya utama maka menarik menganalisa keterkaitan budaya dengan ideologi masyarakat, karena budaya adalah produk berpikir dan ideologi adalah sistem berpikir yang berada dalam pengaruh ranah teori dan praktik.

Mengapa ada budaya yang secara artefak begitu massif tetapi secara substantif belum tampak ideologis? Apa keperluan ideologi dengan budaya? Apakah pendidikan pancasila (ideologi) telah dibangun dengan salah satu aspek budaya lokal ini?
Kalau belum, tesisnya pasti pada kebudayaan yang tertutup, karena Pancasila kita adalah ideologi terbuka.

Tantangan kebudayaan Kita mungkin, bagaimana Islam yang salah satu perannya adalah memperkuat budaya yang humanis dan egaliter serta Ilahiah dapat hadir sebagai sistem nilai moral tanpa terjebak dalam formalisme an sich?

Asyura,Karbala dan Imam Husain cucu Nabi Saw adalah sisi sejarah dan ideologi Islam (Tipologi Ali Syariati), sedangkan Tabot (Tabuk) di Bengkulu adalah salah satu sisi budaya Asyura yang menjadi agenda tahunan kebudayaan masyarakat. Dengan menggunakan analisis tipologi Ali Syariati, bagaimana agenda kebudayaan di Bengkulu ini menjadi basis penguatan budaya masyarakat yang resisten terhadap penindasan? apa penandanya dalam hirarki masyarakat terutama dalam peran cendekiawan yang muncul dari pergulatan nilai Islam dan budaya ini?

Ataukah ini adalah sejarah yang terbelah yang belum menuntaskan transformasi nilainya? atau bahkan nilainya telah terbajak modernitas karena tidak melahirkan pemikiran sejarah yang tipologi?

Jika benar, mungkin ini menjadi pembenaran dalam sejarah dan kebudayaan di nusantara kita yang semakin tergerus oleh arus kebudayaan modern dan posmodern,
bahwa kebudayaan kita tidak memiliki ikatan dengan karakter sejarah yang tipologi, atau sejarah yang dibentuk oleh realisme tokoh besar yang mengkontinukan sejarah tsb. Kita punya orang besar dalam sejarah (tipologi) seperti Soekarno, Hatta dan Gusdur, mereka sangat otentik tetapi tampaknya belum ada yang mengganti peran mereka juga secara otentik.

Sebuah hipotesis, saya menilai tidak lahirnya pemimpin baru yang berkarakter dan otentik serta kontinuitas dari sejarah oleh karena kebudayaan kita bertumpu pada budaya massa sehingga peringatan sejarah kita tidak memiliki ikatan ideologi (tipologi), kecuali hanya serentetan seremoni yang berkarakter massa, kita mungkin khawatir menghidupkan secara massif transformasi pemikiran tokoh oleh karena khawatir kita kehilangan pamor, karena kita bersiap ingin menjadi tokoh tetapi tidak lahir dari karakter dan otentisitas nilai kita.

Budaya massa cenderung abai terhadap karakter dan otentisitas nilai kecendekiaan menjadi semata cenderung pada gaya hidup (life style).
Kebudayaan telah menjadi sangat material, kebudayaan adalah semata seperti pekerjaan mencari nafkah, kebudayaan bukan lagi kecendekiaan yang berarti perkhidmatan dan pelayanan.

Bagaimana selanjutnya?
kita perlu sebuah sejarah yang tipologi (tokoh besar) yang dapat mentransformasikan gagasan mereka secara lebih utuh sehingga watak pemikiran mereka (tokoh besar) mendorong munculnya pribadi yang otentik dan berkarakter.
Asyura dan Karbala dalam format budaya Tabot di Bengkulu mungkin akan sekedar menjadi upacara jika tidak melahirkan individu yang cendekia.
Saya belum mendengar nama besar yang dilahirkan tabot ini, walaupun ada nama besar yang menginspirasi perayaan Tabot ini yaitu: Al Husain.

Tantangan dan agenda kebudayaan Tabot adalah melahirkan cendekiawan besar yang otentik dan berkarakter karena ada nama besar di dalamnya: Al Husain

Kebudayaan Islami melahirkan manusia berkarakter dan otentik karena ada Rasululllah Saw di dalamnya. Mengapa masyarakat Islam cenderung tdak punya peran signifikan dalam kebudayaan yang melahirkan tokoh besar,
tampaknya ada tendensi memutuskan hubungan sejarah Islam yang otentik antara masyarakat Islam dan tokoh besarnya: Rasulullah Saw.

Kita perlu menilai kebenaran Tokoh Besar daripada sekedar ketenaran tokoh.
Kebudayaan mungkin penting ditautkan dengan KEBENARAN
karena seringkali kebudayaan menghindari berbicara Benar-salah.

Salam atas Al Husain cucu Nabi Saw.

wallahu'alam


*oleh AM Safwan, Pengasuh Ponpes Madrasah Murtadha Muthahhari

No comments:

Post a Comment