Thursday, 12 September 2013

Renungan Mengajar Filsafat Perempuan

oleh AM Safwan*


Akhir-Akhir ini saat saya mengajar Santri Akhwat
saya sering tertegun dengan analisa Ayatullah Muthahhari, Sachiko Murata (The Tao of Islam) dan Ayatullah Jawadi Amuli. Betapa tidak!
Allah SWT begitu rupa ingin melindungi Perempuan (sbg TajalliNya) bukan karena Kekurangan yang ada pada  Perempuan, justeru karena kekurangan yang ada di Laki2.


Mungkin menggelitik, biasanya yang dilindungi adalah yang berkekurangan. Untuk apa Allah SWT berkehendak menjaga Perempuan padahal Alllah dalam pandangan dunia Islam tidak memandang kekurangan pada perempuan.
Riwayat dikutip Imam Khumaini dan Ibn 'Arabi:
" Kalau Kau ingin Menghadap kepada Allah bawalah Shalat, Parfum, dan Wanita"

"KAsihan" dan berat betul pria itu menuju kepada Allah dia harus bawa Perempuan
padahal saya belum pernah mendengar riwayat  Perempuan menuju kepada Allah perlu membawa Laki2.

Min Nafsi Wahidah: Kalian (Adam dan Hawa diciptakan dari Diri yang Satu)
Adam diciptakan, kemudian Hawa, kemudian diciptakan ketertarikan Adam
Kepada Hawa

Adam "diturunkan" ke Bumi dan aktualisas kei Langit kembali melalui Hawa (perempuan)

Inna Lilllaahi wa Inna Ilaihi Rajiun, Ilaihinya Adam kepada Allah melalui Hawa

Kabarnya Imam Khumaini mengatakan Revolusi Islam Iran karena jasa perempuan
dengan sedikit nada bercanda Sachiko Murata mengatakan saat menganalisis hadis
yang cenderung dianggap bias gender tapi malah penafsiran Irfani Murata menyatakan bahwa hadis: Seorang isteri  kalo meninggalkan rumahnya wajib izin suaminya" adalah makna bahwa betapa menderitanya Laki2 (sang suami) kalo isterinya keluar dari rumahnya tanpa Ijin darinya sbg suamii, sebaliknya, suami tidak wajib izin, karena perempuan lebih kuat dtinggalkan tanpa ijin.(tentu apalagi dgn Ijin,peny)

Wahai laki-laki, berhentilah meremehkan perempuan, mereka adalah kekuatan Ilahi , mereka adalah Alam yang menerima Khalifah.

Tentu hadis itu secara tekstual-eksoterik mengandung persoalan jika dikajis secara kalam sosial, Kita perlu juga mengimbangi keberagamaan kalam dengan Irfani
BIAR YING YANG (kata Murata) dan Jalal-jamal (Kata Ayatullah Jawadi Amuli)

Perubahan dimensinya bersandar kepada Perempuan dan subsistem sosialnya di KELUARGA
Sebuah Revolusi Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis (Ayatullah Muthahhari)

Filsafat Kebudayaan dan Teori Sosial Perempuan
wallahu'alam 

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa
Madrasah Muthhahari RausyanFikr Jogja

No comments:

Post a Comment