Tuesday, 10 September 2013

Segera Terbit: Belajar dari Gerakan Islam Abad 20

Judul       : Belajar dari Gerakan Islam Abad 20; 
Subjudul : Dari Krisis Gerakan Menuju Gerakan Pembaharuan
Penulis    : Murtadha Muthahhari

Melakukan reformasi adalah semangat Islam. Seorang muslim adalah reformis dan paling tidak protagonis reformasi karena seorang muslim adalah musalman. Melakukan perubahan ditekankan dalam Alquran  sebagai salah satu sifat kenabian. Hal ini memiliki nilai sama dengan ajaran Islam lainnya seperti  nilai “benar” (sesuai norma) dan “tidak benar” (tidak sesuai norma). Namun tentu saja, semua yang termasuk dalam “boleh” dan “tidak boleh” tidak selalu mencakup reformasi sosial. 

Dengan demikian, tugas yang mengikat bagi seorang muslim untuk menyadari apa yang kita lakukan itu adalah benar, yang mana hal ini sangat krusial dalam reformasi sosial. Merupakan hal yang sangat penting bahwa di zaman kita, kita memiliki sensitivitas positif dan relevan untuk perkembangan reformasi sosial di masyarakat. Namun, kecenderungan ini nampaknya dilakukan secara berlebihan dan reformasi sosial menjadi tak dihargai. Setiap pelayanan dievaluasi dalam istilah reformasi sosial dan pentingnya seseorang hanya diakui, satu-satunya, melalui keterlibatannya dalam reformasi sosial. Cara berpikir ini nampaknya tidak adil. Reformasi sosial di sebuah masyarakat tak diragukan lagi adalah sebuah pelayanan, tetapi tidak semua pelayanan adalah sebuah reformasi sosial. Seorang dokter yang menunggui pasiennya sejak subuh sampai malam melakukan pelayanan sosial, tetapi tidak melakukan perubahan sosial.  







No comments:

Post a Comment