Sunday, 6 October 2013

Dialog Memerlukan Kultur Intelektual dan hubungan Sosial Catatan Kasus Syiah di Sampang diantara Keyakinan Teologis dan Kejahatan Kemanusiaan

Hampir 5 bulan sejak Agustus 2012 hingga Januari 2013 ini sebuah kelompok pengajian Islam Syiah di Sampang terusir dari rumah dan sumber penghidupan sehari-hari mereka dan tinggal di GOR Sampang, Madura. Terdapat sekitar 84 KK yang harus mengungsi pada awalnya dengan sekitar 300-an orang dan kini tinggal 200-an, oleh karena diantara mereka ada yang harus / terpaksa meninggalkan pengungsian untuk tetap bisa melanjutkan pendidikan di luar Sampang, terdapat juga yang pergi untuk tinggal dengan keluarganya di sekitar ladang pertanian mereka agar tetap bisa mengelola sumber pendapatan mereka.
Fakta yang diungkapkan oleh Pemerintah Pusat melalui Menteri Agama Republik Indonesia bahwa kasus ini berawal dari konflik keluarga antara adik dan kakak yaitu Rois dan Kyai Tajul Muluk (pemimpin kelompok Syiah Sampang) yang kemudian memicu konflik, berbarengan dengan pengungkapan fakta dari Pemda Sampang bahwa ini adalah penolakan masyarakat Sampang terhadap keberadaan Syiah di Sampang yang didukung fatwa MUI Jawa Timur dan MUI Sampang.
 

Fakta yang gamblang bahwa salah satu anggota kelompok Syiah Sampang tewas dalam penyerangan ratusan orang dan rumah-rumah mereka dibakar dan mereka ditekan untuk direlokasi. Fakta yang gamblang bahwa Bupati saat itu ikut menolak warganya sendiri yang menganut keyakinan Syiah. Fakta yang lebih gamblang bahwa kini ratusan pengungsi tersebut hampir 5 bulan tinggal di GOR Sampang dan mereka tidak mendapat kejelasan dari pihak terkait sampai kapan mereka harus tinggal di pengungsian dan bagaimana rencana penyelesaian kasus mereka agar mereka bisa kembali punya rumah dan bekerja menjalani kehidupan sehari-hari menjalankan agama dan keyakinannya dengan baik karena itu dilindungi oleh UUD 1945 sebagai konstitusi negara kita. Oleh karena itu, simpul pertama masalah ini bahwa ada tindakan kriminal atau kejahatan yang dilakukan terhadap kelompok Syiah Sampang dan menimbulkan korban jiwa dan harta serta psikologis yang berat.
Artinya tentu bahwa siapapun korbannya, mereka harus dibela haknya sebagai korban dan negara wajib menjamin hak-hak korban kejahatan ini. Saya memandang sampai saat ini sebagaimana banyak kalangan juga memandang bahwa Pemerintah tidak berpihak pada penyelesaian masalah yang dihadapi korban. Konstruksi penyelesaian masalah banyak dibebani dengan prasangka teologis dari ajaran Syiah yang dianut para korban. Pemerintah lewat Presiden SBY langsung tampak menunjukkan itikadnya untuk menyelesaikan persoalan ini tapi sampai ditingkat pemerintah lokal (Pemda) kita tidak melihat jabaran operasional bagaimana penyelesaiaan masalah ini oleh karena harus berhadapan dengan budaya politik lokal (hubungan penguasa – ulama – masyarakat). Hal ini juga yang menyulitkan resolusi konflik yang dilakukan oleh elemen masyarakat sipil (LSM dan ormas) dalam membangun dialog sebagai awal yang harus ditempuh dalam setiap upaya perdamaian.
 

Pentingnya dialog ini agar dapat meredam prasangka yang mungkin berkembang meluas menjadi isu teologis, yang memang biasanya menjadi sasaran utama dari setiap target konflik. Dalam kasus Sampang, ikhtiar dialog sudah pernah terwujud, sayang sekali, persoalan budaya politik lokal gampang mengalihkan cita-cita mulia membangun dialog. Apa sebabnya? Saya berpendapat, kuatnya peran ulama setempat yang sesungguhnya memiliki peran strategis dan menjadi simpul penting penyelesaian kasus Sampang belum tampak kesungguhan membangun dialog. Pihak korban, pada dasarnya adalah minoritas yang sangat minor, mereka adalah pihak yang setiap saat siap berdialog, apalagi mereka menantikan dan menanti hingga kini penyelesaiannya yang tak kunjung jelas.
 

Secara struktural dan kultural dialog yang konstruktif bagi itikad perdamaian tidak tampak. Elemen resolusi konflik tampak sulit di dekati apalagi diajak dalam sebuah mediasi yang konstruktif. Satu catatan penting saya, bahwa kasus ini adalah penyerangan sekelompok orang Islam menyerang kelompok Islam Syiah. Secara praktis kepentingan teologis itu ada, tapi apa mungkin kejahatan dipicu oleh motif teologis secara murni (yang sakral dan suci)? Fakta ada perbedaan teologis antara pihak penyerang dan pihak yang diserang, tetapi fakta ada kejahatan kemanusiaan (kriminal) juga fakta yang lebih gamblang dan mudah dijadikan acuan pelanggaran hukum. Saya melihat ini sebagai tragedi teologis dengan pemicu psikologis-politik . Maksud saya, ada bumbu teologis yang terasa tetapi ada kepongahan manusia yang pekat di dalamnya yang sulit dicerna oleh akal sehat manusia (beragama atau tidak beragama sekalipun). Tampaknya Pemerintah sudah mengawalinya dengan akal sehat tapi berakhir dengan aroma psikologi politik, Pemerintah tampak masuk sebagai pembela korban tetapi membiarkan pelaku bergentayangan, yang akhirnya, yang bergentayangan justeru yang kini menjadi faktor yang menyulitkan penyelesaian kasus Sampang ini, Sosoknya jelas, tetapi tidak bisa disentuh.

DIALOG ADALAH BASIS UTAMA : Teoretis dan Praktis
Dengan gambaran singkat di atas, konstruksi dasar sebuah persentuhan teologi dengan realitas sosial bahwa keyakinan teologis dapat menjadi pemicu yang efektif bagi pelaku kejahatan, padahal kejahatan adalah dasar utama kehadiran teologis untuk membimbing manusia melawannya. Dialog adalah masalah kandungan batin manusia, dialog bukan hanya masalah praktis tetapi juga teoretis. Secara praktis, dialog memerlukan iklim sosial yang kondusif secara budaya. Secara teoretis, dialog memerlukan prasyarat dasar pengetahuan. Oleh karena itu, dialog adalah masalah intelektual (pengetahuan), spiritual (kandungan batin), dan sosial (individu-teologis dan masyarakat-realitas sosial).
 

Jika prasyarat teoretis-praktis itu tidak tampak atau tidak diusahakan terus menerus, maka sulit mendapatkan penyelesaian dari setiap konflik secara komprehensif. Teologipun mensyaratkan dialog batin manusia dengan Tuhannya dalam memaknai kejahatan yang muncul dari diri dan lingkungan yang mempengaruhi hubungan dirinya dengan Tuhan. Kenyataan bahwa manusia memiliki kondisi/potensi melakukan kejahatan dan kebaikan adalah disadari manusia baik itu kejahatan/kebaikan yang dapat dilakukan untuk dirinya maupun untuk orang lain. Secara teoretis, dialog adalah masalah batin yang membutuhkan intelektualisme (keterbukaan dan kejujuran bahwa potensi kejahatan dan kebaikan ada pada setiap manusia yang beragama atau tidak beragama). Secara praktis, dialog harus menjadi agenda kebudayaan oleh masyarakat ataupun oleh pemerintah.
 

Tampaknya, dialog sebagai agenda budaya, tidak terlihat sungguh-sungguh dikondisikan oleh pemerintah. Kritik terhadap kehadiran MUI dalam wacana sesat – mensesatkan. Saya menghargai pendapat hukum (fatwa) ulama terhadap isu kesesatan sebuah ajaran, tetapi fatwa kesesatan harus berada dalam bingkai intelektualisme-dialogis (teoretis) bukan dalam posisi impunitas sosial (praktis). Tampaknya, tantangan utama masyarakat sipil adalah membentuk suatu relasi yang jelas antara keagamaan Keislaman dan Keindonesiaan dalam bingkai the founding fathers kita: NKRI, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika.
 

Tantangan kelompok agama, adalah kesediaan untuk menapak masalah dialog agama bukan semata sebagai masalah praktis tetapi juga meletakkannya sebagai masalah teoretis yang terkandung dalam jiwa-intelektualisme dan spritualisme manusia. Jadi, keagamaan memang adalah masalah teoretis dan praktis, sedangkan keIndonesiaan kita adalah masalah praktis. Maka ke Indonesiaan harus menjamin masalah teoretis manusia (Kebebasan beragama dan berkeyakinan) dan mengatur masalah praktis (sosial, budaya, politik). Keduanya tidak bisa dicampur adukkan, pada saat yang sama, dialogpun harus berarti secara teoretis. Toh, buat saya Tuhan adalah milik semua alam kosmos (manusia dan alam), jadi realitas Tuhan jauh lebih prinsip daripada agama. Maka, dialog agama tidak mungkin menggeser posisi keberiman terhadap Tuhan. Jadi, agama apapun, tidak beragama sekalipun, Tuhan bisa diletakkan dalam semua agama, bahkan yang tidak beragama. Tuhan adalah klaim universal. Bahasa dan makna Tuhan dalam agama adalah dinamika intelektual-batin manusia. Buat saya, dialog perlu menuntaskan problem intelektual ini sembari dialog dalam tendensi praktis adalah jalan yang juga tidak mungkin diabaikan.
Wallahu’alam bi al shawab


A.M. Safwan
Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa
Madrasah Murtadha Muthahhari RausyanFikr Yogyakarta

No comments:

Post a Comment