Sunday, 6 October 2013

KEBENARAN, KERAGAMAN, DAN DIALOG

Dalam tradisi pemikiran Islam, pengetahuan adalah konstruksi dinamis (Al Nazhariah al-Intiza’/ teori disposesi ) antara ide dan realitas. Dalam konsepsi (tashawwur) mengandalkan kekuatan ide/gagasan yang mandiri hingga derajat niscaya (badihi) tetap/tidak bergerak sedangkan dalam penilaian (tashdiq) bersandar pada realis objektif yang mengalir/bergerak dalam hubungan sesuatu  di alam materi dan non materi. Secara singkat, konsepsi akan menjadi eksistensi yang mandiri-mutlak sedangkan realitas objektif senantiasa bergerak dalam perubahan (mumkim al wujud)  hubungan antara aktualitas dengan potensi. Jadi, dalam tradisi pemikiran, kita menerima adanya kebenaran yang mutlak-absolut dan juga menerima fakta / realitas yang mengandung hubungan yang senantiasa berubah.


Dalam konsepsi, ada kebenaran mutlak tentang adanya yang benar dan adanya yang salah, dan tidak mungkinnya berkumpul 2 hal yang bertentangan (benar-salah) secara mutlak dalam konstruksi ide. Sedangkan dalam realitas objektif, kebenaran dan kesalahan adalah keadaan yang mengalir di alam, manusia menerima sebuah proses perjalanan menuju kesempurnaan apa yang dikonsepsikan sebagai kebenaran mutlak di atas agar bisa menjadi sandaran penilaian dalam memproses hubungan jiwanya dengan kebenaran dan kesalahan. Kebenaran mutlak dalam ide adalah sandaran keyakinan tetapi keyakinan ini dinilai dengan adanya pergerakan/ perubahan/kondisi.perpindahan/evolusi diri dalam menuntaskan kemampuan memisahkan benar dan salah di alam termasuk dirinya sebagai realitas alam.  Maka yang mutlak akan berhubungan dengan yang  relatif dalam hubungan pengetahuan ide dan realitas.
Semua yang saya bangun dalam diri sebagai konsepsi keharusannya pada saya sampai pada derajat keniscayaannya, pada waktu yang sama, keniscayaan yang dicapai sebagai keyakinan, akan berhubungan dengan keniscayaan keyakinan orang lain/agama/kelompok yang juga mereka peroleh. Maka, jadilah persoalan keyakinan /ideologi itu akan bersentuhan dengan keyakinan/ideologi orang lain/agama/kelompok dalam realitas objektif. Karena keyakinan adalah masalah pemikiran/konsep maka tidak mungkin keyakinan dihukum tetapi keyakinan adalah masalah batin (intelektual dan spiritual) yang melahirkan sebuah sikap saling memahami landasan sistem pemikiran orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita. Intinya, keyakinan disikapi melalui diskusi dan dialog (teoretis).
Saya percaya/yakin akan adanya kebenaran mutlak (ide), tetapi saya juga menerima fakta/realitas adanya perbedaan keyakinan (realitas objektif). Maka pengetahuan dalam tradisi pemikiran Islam yang saya yakini bahwa kebenaran mutlak adalah konsepsi yang unitas, tetapi perbedaan keyakinan (relativitas hubungan) adalah realitas objektif. Maka, saya menerima kemutlakan dan juga menerima relativitas, penerimaan ini bersifat niscaya/mutlak dalam pengetahuan.
Persoalannya kini bukan adanya kebenaran mutlak dan relativitas kebenaran sebagai pengetahuan yang niscaya, tetapi mencari kesesuaiannya / hubungannya / kopulatifnya antara yang mutlak dan yang relatif. Oleh karena itu, persoalan yang lebih mendasar menemukan hubungan antara yang mutlak dan relatif, hubungan di antara benar-salah, baik dan buruk.
Inilah dasar intelektual dan spiritual mengapa dialog/kajian/diskusi adalah syarat utama. Karena tendensi ideologi akan berhadapan dengan keragaman dalam realitas objektifnya, persoalan ini adalah persoalan teoretis yang perlu dicari /dirumuskan jawaban teoretisnya. Maka, dialog adalah peluang dan tantangan intelektual dan spiritual. Dalam bahasa pemikiran Islam, Dialog memerlukan pengetahuan dan kesucian.
Bagaimana dengan perspektif  perjalanan kehidupan agama. Saya meyakini agama saya dengan pendekatan intelektual (rasional-niscaya) tentang kebenarannya tetapi pandangan keagaamaan yang berbeda dalam realitas objektif saya pandang sebagai fakta bahwa manusia menjalani proses menguji kebenaran yang dikonsepsi dan diyakininya dalam realitas objektif, sehingga perbedaan agama adalah realitas objektif. Maka tendensi agama bukan membuat agama menjadi satu (karena realitas objektif tidak satu, bahkan dalam teologipun tetap ada Tuhan dan ada bukan Tuhan (kejamakan). Dengan begitu, rumusannya ada pemikiran agama (filsafat-akidah) dan ada jalan beragama (syariat dan akhlak). Pemikiran agama adalah persoalan intelektual dan ini adalah ruang kajian /diskusi/dialog) sedangkan jalan beragama adalah masalah spiritual dan ini perjalanan menuju kebenaran (dalam oposisi benar-salah dalam realitas objektif). Saya memahami kebenaran mutlak dalam keyakinan/ konsepsi saya (intelektual) tetapi saya menghormati perbedaan keyakinan dalam realitas objektif (spiritual)

Dialog sebagai Agenda Budaya
Tampaknya, dialog sebagai agenda budaya, tidak terlihat sungguh-sungguh dikondisikan oleh pemerintah. Kritik terhadap kehadiran MUI dalam wacana sesat – mensesatkan. Saya menghargai pendapat hukum (fatwa) ulama terhadap isu kesesatan sebuah ajaran, tetapi fatwa kesesatan harus berada dalam bingkai intelektualisme-dialogis (teoretis) bukan dalam posisi impunitas sosial (praktis). Tampaknya, tantangan utama masyarakat sipil adalah membentuk suatu relasi yang jelas antara keagamaan Keislaman dan Keindonesiaan dalam bingkai the founding fathers kita: NKRI, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika.
Tantangan kelompok agama, adalah kesediaan untuk menapak masalah dialog agama bukan semata sebagai masalah praktis tetapi juga meletakkannya sebagai masalah teoretis yang terkandung dalam jiwa-intelektualisme dan spritualisme manusia. Jadi, keagamaan memang adalah masalah teoretis dan praktis, sedangkan keIndonesiaan kita adalah masalah praktis. Maka ke Indonesiaan harus menjamin masalah teoretis manusia (Kebebasan beragama dan berkeyakinan)  dan mengatur masalah praktis (sosial, budaya, politik).  Keduanya tidak bisa dicampur adukkan, pada saat yang sama, dialogpun harus berarti secara teoretis. Toh, buat saya Tuhan adalah milik semua alam kosmos (manusia dan alam), jadi realitas Tuhan jauh lebih prinsip daripada agama. Maka, dialog agama tidak mungkin menggeser posisi keberiman terhadap Tuhan. Jadi, agama apapun, tidak beragama sekalipun, Tuhan bisa diletakkan dalam semua agama, bahkan yang tidak beragama. Tuhan adalah klaim universal. Bahasa dan makna Tuhan dalam agama adalah dinamika intelektual-batin manusia. Buat saya, dialog perlu menuntaskan problem intelektual ini sembari dialog dalam tendensi praktis adalah jalan yang juga tidak mungkin diabaikan.

Penutup
1.      Keragaman adalah etika dan estetika dalam hubungan pengetahuan dan spiritualitas, sehingga proses kematangan spiritual dalam realitas objektif menguji psikologi manusia yang tidak terlepas dari cara pandangnya terhadap dunia (world view), sehingga agama adalah hubungan dinamis antara pengetahuan dan spiritual (filsafat dan psikologi) atau dalam bahasa wahdah alwujud adalah hubungan TUHAN-MANUSIA-ALAM. Keragaman adalah sandaran saya untuk senantiasa berpikir, merenung, memahami serta realistis dalam beragama. Yogyakarta adalah tempat yang sejauh ini relatif kondusif. Di mana kota ini adalah kota mahasiswa/intelektual kritis pada saat yang sama ada wibawa /spiritualitas Kesultanan yang kondusif bagi pluralitas dan multikultural
2.      Pengkerdilan terhadap keragaman karena ketidaksiapan untuk berdiskusi./dialog untuk menguji kebenarannya dan memahami kebenaran orang lain. (faktor intelektual dan spiritual)
3.      Pertemuan semua agama adalah dalam wilayah etika. Menurut saya inilah keperluan objektivikasi. Keindonesiaan menurut saya adalah pertemuan indah/ajaran agama yang ada dalam sebuah persentuhan etika sosial. Disinilah, tantangan kelompok agama menawarkan perspektif etika sosial yang dirumuskan dari doktrin keagamaannya.
  Wallahu’alam bi al shawab


Disampaikan dalam Sarasehan Tantangan Radikalisme Agama, Perspektif Kaum Muda Lintas Agama-Kelompok-Ajaran, yang dilaksanakan dalam rangka Peringatan 90 Tahun Kolese St. Ignatius Yogyakarta, 24 Februari 2013

Oleh :
A.M. Safwan
Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa
Madrasah Murtadha Muthahhari RausyanFikr Yogyakarta

No comments:

Post a Comment