Monday, 7 October 2013

KeIndonesiaan dan Peradaban Kita



Syarat terbentuknya masyakat madani bukan hanya dengan prasyarat demokrasi, yang seringkali ditunggangi oleh tendensi kekuasaan dan modal, tetapi juga dengan KEADILAN sebagai isi dan substansi demokrasi terlebih filsafat moral dalam Agama sebagai tujuan etika. Keadilan bukan hanya teriakan menuntut dari dalam jiwa manusia yang fitrah, tetapi juga keadilan mesti ditopang dengan sebuah nilai yang mengacu di alam sebagai institusi sosial yang lahir karena produksi pengetahuan yang tidak kehilangan nilai hubungan antara teologi dan budaya.
          

  Di tengah kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia yang berpegang teguh kepada Pancasila dan UUD 1945 yang telah diletakkan the founding fathers kita, hari-hari ini keduanya banyak digunakan hanya sebagai slogan, padahal kita  ketahui betapa besar peran Pancasila dan UUD 1945 dalam menopang kehidupan kita dalam berbangsa. Spiritnya universal pada waktu yang sama muncul dari kearifan budaya Ke Indonesiaan kita yang religius.
Mengapa nilai Pancasila yang begitu luhur cenderung tampak kehilangan efektifitas? Bukan Pancasilanya, Bukan UUD 1945, tetapi dari problem nilai modernitas yang semu telah mengalihkan perhatian manusia Indonesia dari nilai luhur dan Akhlak berbangsa ke persaingan modal, politik, menang atas syahwat kekuasaan. Hal ini tentu bukan hal yang mudah, apalagi sekedar teriakan, khutbah moral, penataran, kursus.
Kita perlu meninjau berbagai pandangan alternatif  kerangka epistemologi baru melihat hubungan keadilan dalam kerangka Agama dan Filsafat Etika (Islam) yang semangatnya mengisi nilai dasar kita sebagai bangsa yaitu Pancasila dan UUD 1945 yang merupakan kerangka final dalam konteks kebangsaan kita, tetapi dinamika filsafat Agama dan Irfan dalam tinjauan berbagai perspektif termasuk pemikiran Imam Khomeini layak kita pertimbangkan, bukankah pemerintahan Islam a la Imam Khomeini adalah sebuah eksperimen hubungan agama dan demokrasi yang saat ini terbukti masih berjalan dan bahkan tampak menjadi kekuatan penyeimbang mungkin alternatif dari kecenderungan ketidakadilan global.
Kita memerlukan banyak kajian dalam bahasa Agama Islam yang mungkin dapat berkontribusi bagi pengembangan budaya Indonesia kita yang religius yang berdasarkan atas Pancasila dan UUD 1945. Sosok dan kepribadian Imam Khomeini dari perspektif religius dan kepemimpinan sosialnya tentu tidak mungkin dilepaskan dari peran Islam yang diyakini dan dijalankannya. Sebut saja, bagaimana pengaruh pemahaman keagamaan dalam tradisi pemikiran di Iran dengan Islam Syiahnya yang kaya dengan kajian filsafat dan tasawuf, studi Ilmu-ilmu Islam seperti kalam, figh dan UshulFigh banyak diperkaya dengan tradisi filsafat dan tasawuf.
Spiritualitas yang terbangun secara epistemik dari hubungan akal dan hati dan penerapannya dalam syariat, sehingga tampak bahasa agama mereka memiliki kerangka yang membedakan dengan baik mana yang hukum-hukum yang tetap (qath’i) dan mana hukum-hukum yang berubah (dzanni), mana yang baik dan buruk, sah dan tidak sah, halal dan haram,  karena hukum agama tidak terjebak semata pada normatifitas dan historisitas. Keperluan membuka diri dengan berbagai pandangan yang muncul dari kearifan budaya masyarakat, memungkinkan sebuah “dialektika” Islam dan budaya menjadi sebuah proses yang terus berkembang, menguat dan menjadi tradisi. Dari sini, tradisi yang berbasis nilai budaya dan teologi dengan kerangka sistem pandangan dunia dan epistemologi Islam menunjukkan kemampuan adaptasinya secara alami.
Islam sebagai sebuah sistem pandangan dunia tampak dengan jelas dicapai melalui proses epistemologi yang mandiri dalam kerangka berpikir manusia dan mengaitkan dirinya dengan nilai acuan yang muncul di tengah masyarakat. Jadi, kemungkinan melahirkan manusia dengan kepribadian religius epistemik, akhlak tetapi tegas terhadap kezaliman pada saat yang sama tidak kehilangan arti pada proses budaya dan transformasi ideologi dalam budaya yang hidup. Budaya dan teologi akan menjadi simpul peradaban yang berbasis pada kerangka KEADILAN. 
Imam Khomeini bisa menjadi sebuah kajian menarik, dari berbagai dimensi persoalan yang diutarakan di atas, untuk memperkaya kajian ke Indonesiaan kita. Bukankah sebagai sebuah ide dari manapun layak kita apresiasi apalagi jika secara empiris ide-ide tersebut sudah teruji secara sosial dan budaya.
(A. M. Safwan, Pengasuh Pesantren Mahasiswa Madrasah Murtadha Muthahhari Yogyakarta, Direktur RausyanFikr Institute)

No comments:

Post a Comment