Saturday, 5 October 2013

Syi’ah, Islam dan KeIndonesiaan

          
 Islam sebagaimana agama lainnya memiliki sejumlah aspek ajaran, para penganutnya punya pendekatan dalam memahami pokok ajarannya. Perbedaan itu tentu wajar, karena agama hidup dalam ruang sejarah, interpretasi, dinamika keyakinan dan pengalaman keagamaan, cara berpikir, sistem peribadatan. Hal ini terangkum sebagai pendekatan mazhab. Islam pun mengenal beberapa mazhab, yang banyak menarik kontroversial mungkin adalah Islam mazhab Syi’ah.
            Mazhab syi’ah adalah mazhab yang dikembangkan dari garis pemikiran mazhab agama yang dikembangkan oleh Imam Ja’far Shadiq ra., dalam sejarah dikenal banyak Imam Mazhab seperti Imam Syafi’i berguru langsung kepada Imam Ja’far Shadiq. Mazhab Syi’ah ini dikenal dengan sebutan Mazhab Ja’fari. Menurut pandangan saya, Syi’ah sebagai sistem mazhab yang diajarkan oleh Imam Ja’far Shadir secara terbuka baru setelah generasi sahabat nabi. Oleh karena itu, KeIslaman awal generasi sahabat nabi secara umum adalah Islam, seluruh sahabat nabi adalah generasi Islam awal.
            Dengan pemahaman seperti itu, menurut saya, Islam adalah fundamental awal kesadaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw kepada para pengikutnya apapun kemudian mazhabnya yang berkembang belakangan sebagai sebuah garis yang menarik dari inti ajaran kenabian yaitu Tauhid dan hari kiamat.  Maka sejak awal, perspektif saya tentang Mazhab/ajaran adalah berada dibawah naungan agama Islam. Dari sinilah dasar berpikir tulisan ini beranjak.
            Syi’ah sendiri artinya pengikut. Jika dikaji dari generasi Islam awal yaitu generasi sahabat nabi, maka para pengikut Syi’ah adalah istilah yang dilekatkan kepada para pengikut Imam Ali bin Abi Thalib yang menganggap bahwa hak kepemimpinan Islam paska wafatnya Rasulullah Saw. adalah hak Ilahi yang diamanahkan kepada AhlulBayt Nabi (Keluarga Nabi Muhammad yang suci) dalam klaim mereka atas wasiat Nabi yang diberikan kepada Imam Ali. Berbeda dengan itu, para sahabat Nabi lainnya seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab beranggapan bahwa Nabi tidak meninggalkan wasiat tentang kepemimpinan Islam sepeninggalnya, oleh karena itu para sahabat nabi menganggap setelah Kenabian tertutup dengan Muhammad Saw. tidak ada lagi kepemimpinan Islam yang dipilih oleh Allah, tetapi kepemimpinan Islam dikembalikan kepada pilihan umat.
            Latarbelakang tersebutlah yang melahirkan peristiwa yang dikenal sebagai peristiwa Saqifah yaitu peristiwa yang terjadi di Balairung Saqifah Bani Sa’adah dengan pengangkatan Sahabat Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Nabi (kelompok yang belakangan disebut Ahl Sunnah-Sunni ), pada pihak lainnya, sekelompok lainnya menolak pengangkatan tsb, yang belakangan disebut pengikut Syi’ah. Oleh karena itu, perbedaan tersebut terjadi dalam alam berpikir Islam kekuasaan politik paska wafatnya Nabi Muhammad Saw. Secara singkat, inilah perbedaan politik dalam nalar kepemimpinan Islam.
            Dengan hadirnya perbedaan tersebut, sempat memicu konflik tetapi kemudian Imam Ali mengambil sikap diam atas sebuah prinsip kemaslahatan umat.  Dapat dinyatakan disini bahwa sikap persatuan diatas perbedaan sikap politik adalah jauh lebih mendasar agar umat Islam tidak berpecah belah sebagaimana sikap yang diambil oleh Imam Ali tersebut. Namun demikian upaya menjaga persatuan Islam bukan tanpa persoalan tersendiri, oleh karena memang perbedaan itu menguat menjadi komunalisme dan reaksi terhadap sikap politik yang diambil oleh para pengikut Imam Ali yang menolak bay’at terhadap Sahabat Abu Bakar karena menganggap itu bukan otoritas manusia tetapi otoritas Ilahi. Jikalau tuntutan bay’at tidak dipaksakan dari para sahabat nabi yang meyakini khalifah-- bukan Imamah dalam tradisi Syi’ah---maka konflik akan lebih mudah diredam. Sebagaimana kita ketahui dalam setiap konflik seyogyanya ke 2 pihak saling menahan diri, dari sisi pengikut Imam Ali yang sudah mengambil sikap diam atas Saqifah tersebut demi maslahat umat pada satu sisi sikap sahabat yang menuntut agar para pengikut Imam Ali (Syi’ah Ali) membay’at Abu Bakar sebagai Khalifah, wajar terjadi munculnya simpul konflik di sini. Tetapi saya meyakini, krisis ini hanya terjadi dilevel pengikut bukan dilevel kebijaksanaan umum Imam Ali atau Sahabat Abu Bakar walaupun memang akar teoretis permasalahannya dimulai dari sini.
            Hal ini tentu menarik untuk membangun sikap kedewasaan umat untuk saling menghargai sikap politik yang mungkin memiliki akar teologis yang berbeda dalam memahami ajaran Islam. Oleh  karena itu Ke Syi’ahan atau ke Sunnian adalah Ke Islaman itu sendiri dalam dinamika penafsiran. Menjadi Syi’ah atau menjadi Sunni tidak berkaitan dengan kafir atau tidaknya seseorang, kedua mazhab itu berada dalam garis teologi Islam.
            Dari sini pemahaman saya ketika saya memilih Syi’ah adalah sebuah keyakinan akan sebuah pendekatan tertentu terhadap Islam yang berbeda dengan pendekatan lainnya, karena itu menjadi Syi’ah adalah sebuah dinamika berkeyakinan terhadap pentingnya senantiasa mencari sebuah pendekatan yang lebih komprehensif, dalam Islam Syi’ah saya meyakini kekomprehensifan ajarannya tetapi tidak sekalipun ada muatan untuk menganggap orang lain kafir di luar ajaran Syi’ah bahkan dalam ranah yang lebih luas, konsep keselamatan bertumpu pada 2 hal yaitu prinsip ajaran dan sikap terhadap ajaran. Betapapun kita meyakini sebuah prinsip ajaran, tetapi sikap terhadap ajaran adalah sebuah ruang intelektual yang dinamis dan hati yang  terbuka / lapang terhadap adanya perbedaan (spiritual) dalam ruang sosial (Bil Hikmah).
Islam Syi’ah membawa sebuah kehidupan dalam persentuhan secara dinamis antara intelektualisme, spiritualisme, dan tanggungjawab sosial. Inilah yang buat saya pengalaman menarik dalam persentuhan saya dengan ajaran ini, yang tidak memisahkan kehidupan ke 3 sisi tersebut sebagai pengejawantahan kesadaran agama. Dengan persentuhan ini, pengalaman keagamaan tidak akan melepaskan konteks hubungan individu dan masyarakat. Individu dengan sebuah keyakinan agama akan hidup dalam masyarakat yang tidak mungkin lepas dari ruang kebudayaan masyarakat. Maka Konteks Ke Indonesiaan dimaknai sebagai sebuah entitas budaya yang berpuncak menjadi sebuah sistem bermasyarakat dalam sebuah kontrak sosial yang disebut negara. Oleh karena itu, KeIndonesiaan adalah sebuah ruang budaya dimana berlangsung sebuah dinamika keagamaan Islam (intelektual, spiritual, dan tanggungjawab sosial) dalam berlomba-lomba dalam kebenaran (Ke Syi’ahan, Ke Sunnian atau yang lainnya).  Objektivikasi ajaran (Syi’ah/Sunni) akan teruji dalam dinamika keagamaan tadi dalam ruang budaya (KeIndonesiaan).  Kasus Sampang, saya pandang dalam relasi seperti ini.
Keyakinan keagamaan tidak mungkin tanpa dinamika intelektual, spritual, dan tanggungjawab sosial yang hidup dalam kontekstualisasi KeIndonesiaan sebagai puncak budaya masyarakat yang objektivikasinya adalah negara berdasarkan hukum/konstitusi (bukan hukum agama atau negara agama). Pancasila dan UUD 1945 adalah filosofi Ke Indonesiaan kita sebagai refleksi budaya yang adiluhung yang justeru membuka ruang agama dan keyakinan yang ‘berdialektika’ dalam intelektualisme, Spiritual dan tanggungjawab Sosial.
Wallahu’alam.
           
A.M.Safwan, Pengasuh Ponpes Mahasiswa Madrasah Murtadha Muthahhari
RausyanFikr Jogja


No comments:

Post a Comment