Monday, 7 October 2013

Perilaku Keagamaan: Konflik Keluarga, Teologi dan Ruang Sosial


Kasus Sampang terbaru ini tampaknya memang ada konflik keluarga. Kebencian terhadap saudara sendiri, ada yang menguak aroma cinta asmara. Konflik keluarga sebagai pemicu konflik tsb bisa jadi punya alasannya sendiri. Pada sisi lain, di wartakan di sebuah stasiun televisi, pendapat masyarakat Sampang yang tidak setuju adanya keyakinan dalam agama yang berbeda dengan mayoritas, termasuk pendapat pejabat poitik lokal Sampang yang dengan gamblang menolak keberadaan kelompok Tajul sebagai kelompok yang bertentangan dengan keyakinan agama masyarakat (mayoritas). Komnas HAM juga menyampaikan hasil investigasinya, kuatnya pengaruh faktor politik (PILKADA) dalam memicu konflik ini sebagai basis dukungan politik dan pembiaran negara dan fatwa lembaga agama. Alhasil, yang mengemuka sebagai faktor yang sering tampil dalam pemberitaan dan informasi lapangan adalah: Konflik keluarga, dasar keyakinan, legitimasi fatwa, Politik. Peran negara. Semua ada dasar pembenarannya secara faktual data dan faktanya terbaca secara terbuka oleh publik awam seperti saya ini.


Jika negara menyatakan ini berawal dari konflik keluarga mungkin beralasan, tetapi mungkin lebih beralasan lagi bahwa konflik keluarga telah diperluas ke ruang sosial dan ranah teologi. Apalagi sekarang telah terjadi perbuatan melawan hukum dengan jatuhnya korban dan kehilangan tempat tinggal bagi ratusan warga kelompok Tajul. Jadi, tentu itikad baik negara mengirimkan pejabat setingkat menteri ke Sampang harus kita apresiasi bukan karena datang untuk mendamaikan konflik keluarga tetapi menyelesaikan problem sosial dan hukum kasus ini.

Selanjutnya, konflik berbasis teologi. Saya mendefenisikan secara sederhana teologi sebagai keyakinan dalam agama. Dalam kasus sampang, terlihat bahwa yang berkonflik ada 2 kelompok teologi yang berbeda dalam banyak hal keyakinan mereka. Teologi tersebut di satu sisi memang menampilkan wacana adanya perbedaan tersebut dalam sejarah dan doktrinnya serta filsafatnya, tetapi cara berteologi tidak harus berarti perbedaan tersebut menjadi tragedi berdarah seperti ini. Teologi dan cara/perilaku berteologi adalah 2 hal yang bisa dipahami terpisah tetapi dalam prakteknya sulit memisahkannya, apalagi menganalisa cara berteologi dengan aspek komunal (kelompok), antara pimpinan kelompok dan para pengikut kelompok. Bisa jadi banyak variasi dalam melihat relasi konflik keluarga, konflik teologi, konflik sosial.
Dalam kasus Sampang ini, hipotesisnya mengandung kebenaran adanya konflik keluarga (pimpinan kelompok), mengandung kebenaran juga adanya konflik teologi (melibatkan 2 kelompok teologi): Apakah konflik teologi ini didasarkan oleh determinasi pimpinan kelompok sehingga kelompok menjadi ikut terbawa oleh karena ikatan kelompok kepada pimpinan kelompok telah terbangun sebagai kesadaran cara/perilaku berteologi? Atau, apakah pimpinan kelompok (Tajul) merasa keberatan konflik keluarga ini dibawa ke konflik teologi dengan melibatkan kelompoknya sebagai bentuk tekanan terhadap Tajul melalui tekanan kepada kelompok Tajul? Saya cenderung kepada hipotesis terakhir ini. 
Cara/perilaku berteologi bersentuhan dengan pikiran (filsafat) dan perasaan (psikologi). Jika saya menggunakan kecenderungan hipotesis saya di atas, maka konflik teologi (berbasis kelompok) ini menjadi pemicu kasus ini di ruang sosial, sedangkan pihak pimpinan kelompok (kontra Tajul) menggunakan cara berteologinya yang didominasi perasaan (konflik keluarga) atas pikirannya (Teologi)
Kira-kira pemetaan saya seperti ini, sekedarnya:
Tajul (pimpinan kelompok):  konflik keluarga minus teologi
Pimpinan kelompok lainnya (Kontra Tajul): Konflik keluarga plus teologi
Kelompok Tajul dan kelompok lainnya: Representasi kelompok teologi
Ruang sosial: politik lokal, penegak hukum, fatwa ulama, kelompok teologi, faktor ekonomi.

Jadi, ada jejak teologi dalam konflik ini, terepresentasi dalam konflik kelompok ini yang dipisahkan oleh ikatan teologinya satu dengan lainnya). Jadi, teologi dan cara berteologi memang rawan menjadi konflik sosial jika bersentuhan dengan perasaan individu (konflik keluarga) dan tendensi politik (pilkada) dan teologi kelompok masing2. Dengan demikian konsep teologi sulit dipisahkan dengan doktrin teologi. Pada doktrin inilah kelompok dan kepentingan akan juga punya pengaruh. Konflik sosial yang dipicu oleh konflik teologi tidak akan sama di ruang sosial yang lain.

Mungkin menarik melihat Agama, politik, dan sistem sosial adalah satu sistem pandangan dunia (ummah dan Imamah), sehingga keyakinan teologi (individu) tidak dirancukan dalam representasi keompok teologi. Betapa tidak mudahnya, ketika ide/keyakinan menjadi kelompok. Bukankah, yang masuk surga atau neraka itu masing2 pemilik ide bukan kelompok. Jadi kita butuh teori kelompok (Ummah) yang kondusif bagi teologi yang Rahmatan Lil’alamin..
Tetapi apapun, korban harus diselamatkan, pelaku perlu diamankan, hukum mesti ditegakkan.
Wallahu’alam

A M Safwan, Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa
Madrasah Murtadha Muthahhari RausyanFikr Jogja

No comments:

Post a Comment