Sunday, 6 October 2013

Revolusi Islam Iran adalah hasil Evolusi Kebudayaan; Living Tradition Agama dan Budaya


Revolusi Islam di Iran tampaknya bukan hanya masalah politik-kekuasaan tetapi juga adalah masalah kebudayaan yang berkembang dalam sejarah peradaban mereka yang panjang (7000 tahun).  Secara kebudayaan, masyarakat Iran sudah hidup dalam cita rasa budaya yang berkualitas (musik, kaligrafi, sastra, bahasa) yang pengaruhnya menyebar ke berbagai belahan dunia termasuk Asia Tenggara dan Indonesia secara khusus.
            Sebagaimana kita ketahui bahwa kebudayaan itu adalah hasil/produk berpikir manusia. Jika begitu besar pengaruh kebudayaan Iran pada kualitas kehidupan masyarakatnya, maka dapat dilacak pada kuatnya tradisi intelektual yang ada pada mereka (karya-karya filsafat dan tasawuf misalnya banyak merujuk kepada pemikir-pemikir dari Iran / Persia ).  Bagaimana melihat peran intelektualisme tersebut?
Kualitas pemahaman menentukan kualitas dari sikap hidup yang dipilih manusia, tradisi intelektual adalah disiplin imajinasi yang menuntut deskripsi dan analisa serta kesimpulan yang tidak gegabah dalam memaknai diri dan lingkungannya secara kritis (hubungan lahir-batin). Kualitas ini ditunjang dengan tradisi lisan/bertutur dalam corak yang estetis / puitis dan tradisi tulisan yang menggambarkan tema yang luas (metafisika, musik, etika, politik hingga rumah tangga) dalam bahasa yang tidak normatif, tetapi menggambarkan dengan dinamis situasi batin manusia dalam mempertautkan pikiran dan perasaannya (filsafat psikologi). Tulisan dalam pemaknaan seperti ini masih jarang ditemukan di tempat lain, pemaknaan ekstensif tentang hubungan manusia-Tuhan-alam.
Poin-poin analisa  tersebut diataslah yang menjadi landasan saya memahami sejarah panjang yang mempengaruhi lahirnya revolusi Islam. Bahwa independensi dan kepercayaan diri terbangun karena kuatnya tradisi intelektual masyarakat yang bertautan dengan kecenderungan mistis masyarakatnya. Kuatnya akar mistis (spiritualitas) yang ditransformasikan dengan tradisi intelektual, menjadikan masyarakat berada dalam relasi tradisi yang hidup dan berkembang dengan jiwa imajinasinya yang tentunya berimplikasi pada kreatifitas dalam membangun hubungan kehidupannya dengan lingkungan sosialnya.
Secara singkat, revolusi Islam Iran bersandar pada evolusi kebudayaan yang berbasis pada tradisi intelektual dan spiritualitas  (mistisisme), hal ini yang membangun kohesifitas budaya masyarakat Iran, sikap bersama yang kuat pada tradisi, membangkitkan spirit masyarakat untuk senantiasa berkembang, kreatif dan imajinatif. Dengan, spirit itu menjadi faktor kemandirian masyarakat dalam berusaha menjawab permasalahan dan tantangan kehidupan mereka. Mereka menjadi masyarakat yang produktif karena ditunjang oleh kepercayaan kepada kemampuan manusia untuk merespon persoalan diri dan lingkungannya dalam tatanan kosmologi (Tuhan-Manusia-Alam). Tampaknya, budaya bersinggungan dengan intelektual sebagai living tradition oleh karena autentisitas yang dikontruksi oleh tradisi berpikir meneguhkan dan memperkuat serta mengarahkan budaya masyarakat yang telah lama hidup dengan tradisi mistis kepada religiusitas keagamaan. Faktor Agama sebagai bentuk pertemuan evolusi kebudayaan masyarakat dengan sebuah Ajaran Ilahiah yang bertemu dalam simpul intelektualitas dan spiritualitas yang begitu kuat ditopang oleh Agama.
Dalam bahasa Ayatullah Syahid  Muthahhari bahwa bangsa Iran menciptakan karya-karya agung mereka dalam rangka berkhidmat kepada Islam. Selain kekuatan cinta dan iman, kekuatan lain tidak mampu menciptakan mahakarya seperti itu. Pada hakikatnya, Islam-lah yang membangkitkan potensi bangsa Iran, meniupkan jiwa/semangat baru serta memberikan geloranya.Bila tidak demikian, mengapa mereka tidak menampakkan tekad ini di jalan agama mereka sebelumnya?
 Revolusi Islam Iran pada akhirnya adalah hubungan timbal balik yang konstruktif dalam menjelaskan pengaruh Islam terhadap kebangkitan budaya. Imam Khumaini yang hadir dari living tradition tersebut adalah sosok par excellence yang menjadi simpul yang menggambarkan puncak kemajuan hubungan Agama dan Budaya. Sebuah revolusi yang dievolusi oleh hubungan Agama dan Budaya serta kepemimpinan.
            Uraian tersebut menjadi penting buat saya dalam mendudukkan revolusi Islam Iran sebagai bahan menjelaskan pentingnya living tradition kepada generasi baru, bahwa sebuah pencapaian dan kemajuan menuntut pentingnya mendidik generasi muda kepada pentingnya tradisi intelektual, kehidupan agama (etika dan moral yang bersandar kepada Tuhan) yang mampu mereka dialogkan dan kontruksi bagi pengembangan kebudayaan agar agama hidup sebagai living tradition (tradisi yang hidup). Mendidik generasi baru dengan spirit revolusi Islam berarti bahwa membangun independensi tidak dicapai secara instan /cepat saji, butuh proses dan kedalaman. Pendidikan harusnya membangun kedalaman bukan pendangkalan (how to) kepada anak didik. Transformasinya bukan semata dengan pengetahuan ensiklopedis, tahu banyak hal tetapi sedikit-sedikit, tetapi sangat penting dan mendesak tranformasi moral dan etika melalui pengajaran yang logis dan imajinatif.
            Belajar dari revolusi Islam Iran, kita dapat menggunakan sebagai ajaran moral kepada anak didik bahwa perubahan besar tidak terjadi tiba-tiba, bahwa perubahan besar pasti akan terjadi pada anak didik jika mereka memahami dengan baik dan dalam arti kemandirian. Revolusi Islam Iran adalah pelajaran moral dan etik bahwa membela kebenaran itu adalah prinsip yang imajinatif dan itu  bukanlah hal yang enak, bahwa hidup dengan kebenaran tidak setara dengan hidup enak, pergi ke Mall, main Play station, facebook, rekreasi. Semua yang enak tersebut tentulah bukan sesuatu yang haram, tetapi mencapai sesuatu nilainya setara dengan tingkat kesulitannya.
            Revolusi Islam Iran mengajarkan kepada saya bahwa living tradition agama dan budaya karakternya tersimpulkan dalam teori orang besar/kepemimpinan (Imam Khumaini). Dalam hal ini, mengajarkan kepada anak didik karakter independen dan teguh kepada kebenaran membutuhkan simpul, dan simpulnya itu adalah para pendidik dengan keteladanan dan sikap hidupnya.

Wallahu’alam bi al shawab ,
A.M. Safwan

Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa
Madrasah Murtadha Muthahhari RausyanFikr Yogyakarta


No comments:

Post a Comment