Sunday, 6 October 2013

TEOLOGI INKLUSIF; Perspektif Realisme Teologi Ayatullah Muhammad Baqir Shadr

I. Teologi Inklusif
   1.    Inklusif adalah cara berpikir dan sikap terbuka terhadap perbedaan, sikap inklusif penting untuk menampung pluralitas bangsa
  2.    Teologi sebagai keyakinan agama sebagai sumber penyelamatan (Cahaya/Nur)
  3.    Penekanan untuk memahami pesan Tuhan, kitab suci sebagai pesan Tuhan (4:131)
  4.    Takwa adalah mendekatkan diri kepada Tuhan, memelihara diri dari hal-hal yang menjauhkan diri dari Tuhan, kehadiran Tuhan (omnipresent) dalam keseharian
  5.    Pesan agama itu sama adalah monoteisme (Tauhid), the heart of religion, wilayah terdalam, Islam Fitrah (Murtadha Muthahhari), penerimaan Allah terhadap sikap hati bukan formal agama


II.    Pandangan teologi Ayatullah Muhammad Baqir Shadr
1.    Pandangan Spiritual kepada kehidupan dan alam secara umum. Islam mengakui hakikat jasmani (materi) dan ruhani (non materi) namun ia mengikat semua hakikat tersebut dengan penyebab pertama (sabab-musytarak) yang lebih dalam yaitu Tuhan.
2.    Metode rasional dalam pemikiran. Akal sebagai tolak ukur dari pemikiran dan hakim yang memutuskan di mana kita menghadapkan pada bukti-bukti ilmiah untuk mengatur dan menghasilkan sesuatu yang materi atau non materi.
3.    Tolak ukur praktis berdasarkan pandangan umumnya terhadap kehidupan dan alam serta kaitannya dengan Tuhan adalah Ridha Allah Swt bukan semata kenikmatan dan manfaat.

III.   Realisme Teologi dalam Buku Falsafatuna
1.    Kerangka Utama buku ini dalam struktur epistemologi. Kajian tentang teori dan doktrin (tashawwur dan tahsdiq) terumuskan dalam hubungan pengertian materi dan non materi dalam hubungan yang tak terpisahkan bukan dalam arti menyatu. Teori yang digunakan adalah teori gerak substansial (Al Harakah Al Jauhariyyah/ evolusi integrasi jiwa / filsafat psikologi). Intinya integrasi ide dan realitas dalam hubungan jiwa dengan alam. Bahwa kontruksi alam dibentuk oleh jiwa (nafs). Jadi, epistemologi Baqir Shadr tentang hal yang inderawi (materi) dan non inderawi (non materi). Epistemologi hal-hal yang inderawi akan berhenti pada tataran tersebut jika tidak dimungkinkan terbuka pemahaman epistemik tentang hal-hal yang non inderawi. Epistemologi “metafisika” (ontologi, wujud) inilah pintu masuk menjelaskan sisi Tuhan yang bukan semata intuitif (fitrah) tetapi juga menjadi rasional (aqliyyah).
2.    Jiwa dalam kontruksi buku Falsafatuna berarti adalah relasi dan integrasi pikiran (ushuli) dan perasaan (hudhuri). Secara sederhana, pensucian jiwa (Tazkiyan nafs) adalah melalui proses berpikir dan mengolah perasaan. Perasaan adalah subjektifikasi dan pikiran adalah objektifikasi. Perasaan ber Tuhan (intuitif) kemestiannya di pikirkan hingga mampu bernilai- proposisi benar-salah (aksiologi: etika dan hukum).
3.    Kejelasan posisi Benar-Salah dalam pemikiran, bahwa kebenaran secara filosofis bukanlah sesuatu yang relatif dan oposisi dan determinasi alam/sejarah yang senantiasa berubah. Bahwa kebenaran adalah kebenaran, karena Akal manusia menemukan dan menetapkannya (Rasional Mandiri)
4.    Kebenaran dalam nilai yang diterima secara rasional dan diyakini (teologi) berevolusi menuju realitas kebenaran (hubungan materi-non materi). Hubungan ini adalah realitas objektif yang dirasakan adanya (hudhuri). Inilah spiritualitas dalam tendensi realisme (materi-non materi) bukan idealisme (persepsi-non materi).
5.    Teologi inklusif Baqir Shadr dapat dirumuskan dalam prinsip:
1.      Adanya kebenaran dalam ide (keyakinan/teologis) dan evolusinya dalam realitas (materi-non materi) yang bersifat spiritual.
2.      Agama adalah basis nilai dan spiritualitas adalah realitas nilai dari kebenaran tersebut. Spiritualitas adalah evolusi dari hal-hal material ke hal-hal non material. Agama berperan memberikan jalan evolusi itu (shirath)
3.      Agama meniscayakan keterbukaan (rasional:materi-non materi) karena tujuannya adalah hal yang terdalam (spiritualitas). Formalisme agama adalah metode /bingkai dalam perjalanan teologi menuju spiritualitas (sophia perennis)
Wallahu’alam bi al shawab


TEOLOGI INKLUSIF; Perspektif Realisme Teologi
Ayatullah Muhammad Baqir Shadr
(Bedah Buku Falsafatuna, Gedung MUI Sulawesi Utara, Manado 28 Mei 2013, yang dilaksanakan oleh IJABI dan ABI Sulawesi Utara kerjasama RausyanFikr Institute Yogyakarta)
A.M. Safwan
Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Madrasah Murtadha Muthahhari
RausyanFikr Institute Yogyakarta


No comments:

Post a Comment