Sunday, 6 September 2015

Kosmologi Poligami

Oleh A.m.Safwan - Madrasah Muthahhari Yogyakarta

secara sederhana dalam bahasa awam, poligami adalah pernikahan seorang pria dengan lebih dari satu perempuan (konteks hukum Islam 2-4 perempuan dalam satu masa)
Dalam Alquran surah Al Nisa di awal ayat, diperkenankannya poligami jika kamu bisa berbuat adil.
Dengan demikian secara awam, HUKUM poligami adalah sah dengan syarat ADIL . Jadi, ada TEKS hukum dan ada KONTEKS Adil dalam poligami.
Di kalangan para pengkaji studi teks ada metode studi teks yang disebut hermeneutika (TEKS, KONTEKS dan PENAFSIR ).
Jadi dalam permasalahan poligami unsur TEKSnya telah ada, unsur KONTEKSnya telah ada, tinggal unsur PENAFSIRNYA yang belum diletakkkan.
Saya dalam hal ini sebagai Unsur PENAFSIR, sebagai penafsir tentu harus memiliki kriteria BENAR-SALAH /otoritas agar unsur subjektivitas bisa dievaluasi.
PENAFSIR


Poligami secara hukum sah menurut saya dan tidak terbantahkan sebagaimana Nabi Saw melakukannya. Karena keyakinan saya berdasarkan akal dan fakta ilmiah, Nabi SAW melakukan poligami dalam konteks yang ADIL.. Nabi Saw adalah penafsir yang utuh atas keabsahan hukum Poligami dan sebagai pelaku poligami yang berdasarkan sejarah adalah manusia yang adil.
Penafsiran selanjutnya, bagaimana dengan ummat Nabi Muhammad Saw. Pembahasannya seperti diatas diperkenankan dengan dasar ADIL. Artinya hukum diberikan sebagai landasan untuk seluruh umat yang meyakini Islam.
Berdasarkan itu, Kaum Adam yang mau menikah untuk isteri yang ke 2 mereka memiliki 2 landasan: Hukum kebolehannya dan kemampuannya untuk berlaku ADIL.
Penafsiran tentu diletakkan dalam konteks kemampuan setiap pribadi kaum Adam apakah mereka bisa adil. Permasalahan poligami berarti berkaitan dengan persoalan konteks sosial pria (keadilan hubungannya dengan dirinya dengan orang lain ) bukan berkaitan dengan dirinya semata (syahwat, nafsu).
Jadi, mungkin perlu ada semacam konstruksi logika induksi (partikular perception, ilmiah inderawi) atas poligami, kita mungkin bisa menyebutnya TAFSIR SOSIAL ATAS POLIGAMI., karena permasalahannya bukan lagi sah atau tidaknya teks hukumnya tetapi kemampuan kontekstual pria untuk ADIL.
Tentu, menurut saya Nabi yang Mulia Al Mustafa Muhammad Saw menikah lagi bukan karena persoalan hawa nafsunya,
Dalam bahasa Muthahhari: kemampuan Nabi menyelesaikan problem sosial masalah seksualitas dan keluarga dalam tradisi arab jahiliah dengan menyampaikan dan melaksanakan hukum poligami tersebut sehingga struktur sosial masyarakat mampu memberikan tempat terhormat pada perempuan waktu itu.
Dalam bahasa Syariati, perkawinan poligami Nabi Saw menggambarkan bagaimana sisi humanis manusia agung ini menempatkan hubungan yang bijaksana dengan semua isterinya sekalipun ada dinamika hubungan diantara perempuan2 di sisi Nabi dan kaitan isteri-isteri Nabi Saw dengan sepak terjang dakwah Nabi.
Dalam hal ini, sebagai awam, saya menafsirkan:
1. keabsahan poligami berkaitan dengan persoalan struktur sosial perempuan
2. Konteks keadilan dalam perkawinan poligami Nabi menempatkan sebuah persoalan relasi individu dengan individu lainnya dalam hubungan keluarga dan tanggungjawab isteri-isteri Nabi terhadap keharusan mereka menjaga jalan dakwah Nabi,
3. Ada konteks Kosmologi yang menarik dalam menjelaskan hubungan : Alam ---Jiwa -- TUHAN , oleh karena fakta setiap Jiwa manusia punya kecenderungan alamiah dan kemampuan berbeda dalam hal rasionalitas seksualitas dan spiritual mengelola kecenderungan.
Begini mungkin:
Kosmologi Poligami
1. Di Alam, ada relasi perempuan dan laki-laki dalam bentuk pernikahan, fakta bahwa mereka diciptakan berpasangan dan saling membutuhkan, tetapi fakta ada yang tingkat kebutuhannya berelasi dengan kemampuan memenuhi kebutuhan ada juga yang tidak.
2. Di Jiwa, Ada relasi kosmik, yaitu kemampuan pria menempatkan 2 hubungan kosmologi: antara diri Pria dengan Tuhan dan diri Pria dengan perempuan.
3. Di Tuhan, ada penempatan spritualitas pasangan, jadi pria keniscayaannya berhubungan secara alamiah dengan perempuan. Kepastian di Tuhan bahwa perkawinan tsb antara Pria dengan Perempuan bukan pria dengan pria atau perempuan dengan Perempuan.
Jadi masalah kosmologi poligami bukan di Tuhan tetapi di Hubungan Jiwa- Alam., disinilah saya menempatkan konteks keadilan di Alam sebagai Tafsir sosial atas poligami.
Sebagai awam saya akan mengatakan dalam bahasa kosmologi:
Saya akan menikah poligami jika saya....
Saya tidak akan menikah secara poligami oleh karena saya....
Jadi, jangan ngotot-ngototanlah, pro poligami atau anti poligami. Sebagai awam, biasa sajalah, Apalagi semata-mata, selalu bawa-bawa Nama TUHAN, dan sejumlah kemampuan membuat imajinasi yang yang tidak epistemik mengenai keutamaan2 perempuan dan laki-laki yang seringkali dibawa ke dalam konteks poligami (padahal menurut saya out of context).
Apalagi mengatakan, perempuan yang paling baik keimanan dan takwanya kemungkinan besar menerima untuk dinikahi secara poligami.
Ah, ada-ada saja kau!
Maafkan, semoga jumat berkah mendoakan kita!
Salam untuk Sayyidah Aminah
Salam untuk Sayyidah Khadijah
Salam untuk Sayyidah Fatimah
Salam untuk Sayyidah Zaenab
Wallahu'alam bi al-shawab.

No comments:

Post a Comment