Thursday, 28 January 2016

Intelektualisme Aktifis, Kewargaaan dan Kampung

A.M.Safwan, JAKFI - Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari

Saya adalah seorang warga dunia dengan
sebuah pandangan dunia (filsafat dan agama)
Saya adalah seorang warga negara Indonesia dengan
sebuah pandangan kebangsaaan
Saya adalah seorang warga Yogyakarta dengan
sebuah pandangan kebudayaan
Saya adalah seorang warga masyarakat kampung dengan
sebuah pandangan dunia, kebangsaaan dan kebudayaan


Di kampung pandangan dunia, kebangsaaan dan kebudayaan
saya senantiasa diuji kelayakannya
Hidup di kampung bertumpu pada hidup damai/toleran dan
kebersamaan sosial bermakna secara sejati
karena kami warga kampung dan kerja di kampung
untuk tujuan semesta (dunia), kebangsaaan dan kebudayaan

Di kampung, pandangan dunia, pandangan kebangsaan dan pandangan kebudayaan dapat segera bermakna
secara sosial
Dengan begitu prinsip hidup di kampung adalah terbuka (inklusif)
sejatinya hidup di kampung BUKAN dengan rumah dengan tembok dan berpagar besar, pintu selalu tertutup dan sepi
siang dan malam. Ini bukan ciri warga kampung

Kegiatan di rumah kita ingin diketahui dan diikuti warga kampung, kegiatan di rumah kita cenderung diharapkan menjadi bagian dari kehidupan dan dinamika kampung
Inilah visi inklusif kampung. Selayaknya kita kembali HIDUP di kampung utk belajar menjadi warga dunia, warga negara Indonesia dan warga kota.

Hidup di kampung bukan manusia yang kampungan (terbelakang, kolot). oleh karena makna sosial pandangan dunia, pandangan kebangsaan dan pandangan kebudayaan menjadi tradisi yang hidup sebagai kearifan lokal yang menjaga kampung.

Di kampung saya menjadi MANUSIA KAMPUNGAN BARU dalam arti warga yang memiliki tradisi pandangan dunia, kebangsaan dan kebudayaan.

Indahnya kampung karena hidup sebagai tradisi yang mengalir dalam kearifan sebagai mazhab pemikiran kampung yang organik.
Saya banyak melakukan kegiatan dan diskusi dengan aktifis kampus tetapi kami menghidupkan tradisi itu di kampung sebagai
aktifisme intelektual (intelektual aktifis).
Inilah intelektualisme Kampung
Intelektualisme kampung adalah pemikiran yang hadir sebagai
pandangan dunia (filsafat dan agama), pandangan kebangsaan, pandangan kebudayaan
Wujudnya adalah sikap dan perilaku sehari-hari yang terbuka

Intelektualisme kami adalah keseharian sikap dan perilaku
Di kampung,
Pandangan dunia (filsafat dan agama) kami hidup sebagai
tradisi pemikiran yang hidup di kampung yang terbuka (fitrah)
Pandangan kebangsaaan kami hidup dari fondasi pandangan dunia yang terbuka/inklusif dan pandangan kebudayaan kami sebagai warga kota yang progressif
Tetapi kami tetap ingin terus berusaha hidup di kampung
dengan intelektualisme aktifis sebagai tradisi yang hidup
(living tradition)

Saya cuma berimajinasi agar kelak ada manfaatnya untuk menyambut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2016
Agar Kampung dapat dijaga dan dikembangkan
Semoga menjadi Kampung Asean dengan living tradition
(Agama, kebangsaaan dan kebudayaan)
Demi NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika

Wallahu'alam
Salam atas Al Mustafa Muhammad Saw dan keluarganya
serta para pengikut setianya.

*) Pokok-pokok pikiran yang saya siapkan sebagai narasumber
sebuah pelatihan Pengelolaan Keberagaman Pemuda Lintas Iman di Yogyakarta 2016

No comments:

Post a Comment