Sunday, 14 February 2016

LGBT : Fitrah, Kebangkitan Keluarga dan Masalah Kebudayaan Kita



A.M.Safwan - JAKFI, Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari

LGBT adalah akronim lesbian, gay, biseksual dan transgender. LGBT adalah fenomena dan fakta individu dan sosial dari orientasi seksual yang ada di sekitar kita. Ada beberapa catatan pendahuluan yang perlu didudukkan berkaitan dengan filsafat tentang seksual dan kenikmatan untuk memahami konteks permasalahan:

1. Sifat alamiah manusia untuk menikmati hasrat seksual (laki-laki maupun perempuan)
2. Objek yang dinikmati oleh hasrat seksual manusia bisa tubuh manusia, hewan atau bahkan benda.
3. Khusus kenikmatan yang didapat dari tubuh manusia, bisa lawan jenisnya bisa sejenisnya sekalian lawan jenisnya (LGBT), bisa lawan jenis yang adalah anak kandungnya sendiri (misalnya seorang ayah yang menikmati hasrat seksualnya melalui tubuh anak kandung perempuannya sendiri, atau seorang ibu yang menikmati hasrat seksualnya melalui anak kandung laki-lakinya sendiri.
4. Secara instingtif /naluri manusia menghendaki kenikmatan seksual. Jadi apa yang dihasratkan adalah basis naluriah dasar manusia.
5. Seksualitas dan kenikmatan adalah salah satu fondasi kemanusiaan. Dengan begitu, masalah seksualitas LGBT adalah masalah yang menyentuh aspek kemanusiaan yang ada pada diri manusia.
Bagaimana fakta dan kecenderungan ini berhadapan dengan fakta lain bahwa orientasi seksual adalah terhadap lawan jenis dan fondasi keluarga dalam agama dan budaya kita di Indonesia adalah laki-laki dan perempuan sebagai pasangan hidup?
Dalam analisis epistemologi, seksualitas dibentuk oleh dua hal yaitu : 1. Hasrat yang secara alamiah/instingtif ada pada diri manusia (ilmiah). 2. Pandangan tentang hak manusia terhadap apa yang dikehendaki dirinya berupa kebebasan dan tanggungjawab sebagai kerangka dasar etika (rasional).
Dengan demikian, pemenuhan hasrat seksual/kenikmatan keniscayaannya memiliki dampak etis (etika deskriptif/normatif/metaetik): boleh atau tidak, harus atau tidak, melanggar atau tidak, adil atau tidak, hak dan kewajiban. Dalam hal ini, baik yang pro LGBT ataupun yang anti LGBT sebaiknya menempatkan masalah etika/hak dan kewajiban dalam keinginannya mewujudkan orientasi seksual. Bahwa setiap orang memiliki hak atas dirinya tetapi pada waktu yang sama memiliki kewajiban terhadap orang lain. Di sinilah kemungkinan perbenturan itu muncul karena perbedaan orientasi yang berdampak secara individu dan sosial
Oleh karena itu perlu keduanya merumuskan kewajiban etik masing-masing terhadap yang lainnya. Perlu ada hukum yang menampung perbedaan hak dalam sebuah kewajiban yang diterima sebagai norma bersama. Bukan hal yang mudah tentunya tetapi harus kita lakukan agar tidak terjadi benturan /konflik yang mengganggu kepentingan bersama kita sebagai masyarakat dalam sebuah bangsa yang majemuk (Bhinneka Tunggal Ika) berdasarkan Pancasila, di mana agama dan budaya sebagai pandangan moral yang hidup dalam keyakinan masyarakat . Sebuah rumusan panjang dalam waktu yang juga panjang. Lalu bagaimana kita mendekati permasalahan ini dalam jangka pendek?

LGBT adalah Pseudo Imajinasi
Saya sendiri berpendapat berdasarkan konteks persoalan di atas dalam pandangan fitrah dan etik saya (agama) bahwa persoalan anti LGBT sebaiknya bukan pada kesan bahwa kita ingin memberangus hak orang untuk memenuhi kenikmatan seksualnya. Itu sesuatu yang melawan fitrah manusia yang merupakan fondasi awal kesadaran manusia yang justeru agama datang untuk memenuhi kebutuhan instingtif sesuai dengan pandangan ketuhanan (Tauhid Af’al-Tauhid perbuatan).
Dalam filsafat tentang seksualitas (Murtadha Muthahhari, Mulla Shadra), keinginan memenuhi hasrat seksualitas adalah sesuatu yang alamiah, sifat alamiah itu dipengaruhi oleh faktor imajinasi seksual. Jadi ada perbedaan antara hasrat seksual dan imajinasi seksual. Persoalannya bukan pada hasrat seksual sebagai kebutuhan untuk manusia mendapatkan kenikmatan, tetapi pada imajinasi seksual . Jadi seksualitas bukan hanya realitas tubuh tetapi juga adalah imajinasi /persepsi yang bertautan antara problem psikologis manusia dan rasionalitas seksualitas (persepsi imajinasi).
Saya berpendapat bahwa hasrat seksual adalah alamiah sedangkan imajinasi seksual dapat melampaui sifat alamiah hasrat. LGBT menurut hipotesis saya dalam banyak hal adalah hasrat seksual alamiah yang mengalami tekanan /hambatan sehingga mencoba mencari jalan aktualisasi hasrat dengan mengembangkan imaji-imaji seks lebih luas agar tetap memenuhi hak instingnya. Hipotesis lain, imajinasi seksual yang tidak terhambat dan bahkan terus terstimulasi hasrat sehingga kenikmatannya berpetualang kepada berbagai imanjinasi seksual yang terus menopang hasratnya.
LGBT kemungkinan adalah persoalan imajinasi seksual lebih dari sebatas hasrat seksual yang alamiah. Seperti ketika kita lapar kemudian kita makan. Setelah kenyang hasrat terpuaskan sementara, tetapi dengan imajinasi, kita masih mau makan lagi sekalipun sudah kenyang. Inilah yang saya maksud pseudo imajinasi karena tuntuan hasrat lanjutan yang pada prinsipnya tidak mau puas pada yang sudah dicapai / atau hasrat yang terpenjara, kemudian hasrat seksual keinginannya ditampung oleh imajinasi seksualnya yang dapat memperluasnya
Dengan demikian, kritik saya terhadap LGBT saya letakkan dalam 3 pandangan dunia: 1. Filsafat, 2. Agama, 3. Ilmiah.
Secara filsafat, persoalan LGBT adalah persoalan imajinasi seksual (rasionalitas seks) yang senantiasa menstimulasi hasrat. Secara pandangan dunia agama, LGBT adalah persoalan persepsi terhadap nilai kebebasan sebagai hak dan nilai manusia yang memiliki tanggungjawab etis/moral keagamaan., Secara ilmiah, LGBT adalah persoalan tubuh/fisik semata yang dikembangkan sebagai pandangan filsafat moral yang keluar dari pandangan ilmiah (mengideologikan yang ilmiah sehingga terkesan ilmiah padahal kembali kepada yang imajinatif (rasional). Hasrat seksual yang bersembunyi di balik ideologi, walaupun pada mulanya ini mungkin adalah persentuhan realitas individu yang memiliki seksual LGBT dengan sekelompok pemikir yang mencoba menganalisanya dengan pandangan filsafat yang bermaksud mulia untuk menghindari adanya diskriminasi dan kekerasan terhadap hak seksual seseorang berhadapan dengan dogmatisme agama dan budaya.

Jadi saya menolak LGBT oleh karena dalam pemahaman saya LGBT ini tidak relevan dengan pandangan dunia filsafat, agama dan ilmiah. Adapun kemungkinan memahami posisi LGBT pun berada dalam 3 level pandangan dunia tersebut.
Pertama, secara pandangan dunia filosofis , LGBT penting diletakkan dalam analisis imajinasi untuk sebuah perdebatan orientasi seksual.
Kedua, secara pandangan agama, LGBT perlu didekati dengan pendekatan cinta/kasih sayang (Islam Fitrah) , sehingga seksualitas sebagai landasan hasrat akan kenikmatan dapat dibangun sebagai seksualitas yang bertujuan cinta sebagai penjaga hasrat agar melahirkan seksualitas yang bertanggungjawab etik (kewajiban ketuihanan dalam etika sosial etik/keadilan. ) (Mulla Shadra).
Ketiga, secara pandangan dunia ilmiah, LGBT perlu dideteksi sejak dini/ awal kondisi dan orientasi seksualitas pada anak sehingga pendidikan ilmiah tentang seksualitas perlu dibangun sejak awal bukan hanya moralitas seksualitas.

LGBT adalah Persoalan Praktis
LGBT secara teoretis saya tolak dalam 3 level pandangan dunia (filsafat, agama dan ilmiah), tetapi secara praktis LGBT adalah fakta individu dan sosial yang tidak bisa begitu saja kita abaikan dan meremehkan mereka sebagai manusia yang walaupun dianggap menyimpang dalam orientasi seksual . Dengan demikian, LGBT perlu kita dekati dengan Islam Cinta dengan pendekatan rasional dan ilmiah.
Beberapa pendekatan awal dalam jangka pendek:
1. Mereka tidak boleh merasa dialienasi oleh lingkungannya, dhina dan apalagi dinistakan karena mereka juga manusia yang memiliki fitrah, justeru kita perlu banyak dialog dengan dengan pendekatan Islam cinta (tasawuf sosial/ realisme instingtif, Allamah Thabatabai)
2. Sebagaimana mereka yang pro LGBT aktif menjelaskan posisi mereka, maka kita pun yang anti LGBT harus aktif menjelaskan posisi kita di tengah masyarakat secara rasional dan ilmiah
3. Kita tidak anti terhadap kenikmatan seksual, kita hanya berbeda dalam metodologi, karena itu metodologi kita perlu efektif membendung arus itu secara terbuka dan damai melalui gerakan kebangkitan keluarga sebagai pilihan metode yang menurut saya paling efektif dan efisien. Di sini mungkin menjadi menarik mengkaji jangan-jangan merebaknya LGBT karena lemahnya keluarga sebagai basis kuat menjaga kesucian seksual manusia (keluarga sebagai spiritualitas seksual)
4. Latarbelakang paradigma LGBT menurut saya kembali kepada pandangan yang semata-mata material/ilmiah terhadap alam tetapi sekarang cenderung menjadi gerakan ideologi, sehingga pertarungan bukan semata-mata masalah seksual hasrat, tetapi ini adalah pertarungan terhadap ideologi pancasila kita yang berketuhanan dan berdasar pandangan dunia agama kita. LGBT sebagai masalah orientasi seksual adalah persoalan praktis saja, tetapi LGBT sebagai ideologi adalah pertaruhan ideologi Pancasila kita yang menerima pandangan moral agama (Tauhid-Ketuhanan Yang Maha Esa) adalah persoalan teoretis yang mendasar.
5. Secara kebudayaan perlu ada upaya kreatif mengelola persoalan LGBT sehingga fenomena ini dapat terkanalisasi sebagai semata-mata persoalan individu dan tidak merebak sebagai masalah sosial yang bertendensi ideologis apalagi paradigmatik untuk menghapus nilai moral agama sebagai sejarah panjang pertarungan sains terhadap agama dalam kerangka epistemologi dan aksiologi di Eropa masa renaisans.
Di sinilah saya melihat gerakan keluarga selain sebagai basis kehormatan institusi seksual dalam rumah tangga juga keluarga sebagai sebuah strategi kebudayaan menjaga kehormatan pengetahuan dan agama sebagai kerangka sistem kenabian (ilmu sosial profetik/Sosio Epistemologi Islam)
Wallahu'alam bi al shawab
Salam atas Al Mustafa Muhammad Saw dan
keluarganya serta para sahabat setianya

No comments:

Post a Comment