Sunday, 24 April 2016

Epistemologi Agama dan Keadilan; Sebuah Ikhtiar Membangun keadilan Sosial dalam perspektif Agama




A.M.Safwan – Pengasuh Ponpes Mahasiswa Madrasah
Muthahhari RausyanFikr Institute Yogyakarta

Pokok-pokok Materi yang disampaikan dalam Short Course Epistemologi Islam Tentang Agama dan Keadilan yang dilaksanakan oleh Dewan Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang, Sabtu 28 April 2016

Pokok pemikiran ini ingin meletakkan hubungan antara agama dan keadilan. Apakah agama yang menjadi syarat (neraca) terjadinya keadilan atau keadilan yang menjadi syarat (neraca) berjalannya agama? Tulisan ini terinspirasi dari Pandangan Murtadha Muthahhari yang menekankan pentingnya keadilan dalam beragama.

Sebelum kita menjelaskan lebih lanjut hubungan tersebut, kita perlu mengenal pengertian / batasan dari agama dan juga pengertian / batasan dari keadilan dari beberapa pemikir keagamaan. Pandangan ini penting kita lihat lebih jauh agar penjelasan agama dalam kerangka epistemologi dapat membantu menganalisa persoalan-persoalan sosial melalui relasi struktur keadilan dan agama. Seringkali orang atas nama agama menetapkan dan menjalankan sebuah nilai keagamaan tetapi menurut kita hal itu bertentangan dengan neraca keadilan. Mereka seringkali mendahulukan penetapan nilai agama tanpa mempertimbangkan konteks keadilan. Atau bahkan seringkali penetapan nilai agama yang mulia justeru kemuliaan agama itu cenderung dibelokkan dalam kepentingan ekonomi politik pribadi dan kelompoknya, dan dari sini aspek keadilan dalam kepentingan ekonomi politik tersebut dapat dibaca sebagai pragmatisme yang jauh dari tuntutan suci tauhid Islam.

Allamah Muhammad Husein Thabatabai dalam sebuah bukunya (1989) menjelaskan agama sebagai keseluruhan kepercayaan-kepercayaan asasi yang berkenaan dengan tabiat manusia dan alam semesta , dan peraturan-peraturan yang selaras dengannya yang diterapkan untuk kehidupan manusia. Dalam pandangan ini berarti bahwa agama adalah kepercayaan mendasar (tauhid) yang mengaitkan hubungan / keterkaitan manusia dengan alam. Dalam penjelasan Allamah ini, penekanan bahwa datangnya agama sebagai cara Tuhan / Allah SWT mengaitkan manusia dengan kehidupan alam. Di sini Allah SWT menawarkan kehadiran diriNya di alam ini (manifestasi) agar manusia dengan agama itu memiliki kemampuan mengaitkan dirinya dengan Allah SWT melalui hubungannya dengan alam. Hal ini dapat berarti juga bahwa agama bukan hanya sebagai pengaitan moral terhadap diri manusia sendiri (etika individu), tetapi juga sebagai pengaitan Tuhan dalam struktur sosial di alam (etika sosial).

Penjelasan agama di atas jauh dari kesan idealis, oleh karena agama tidak diartikan sebagai sekedar ide-ide yang diyakini (idealisme filosofis) tetapi juga agama adalah sebagai metode menghadirkan Tuhan / Allah SWT (manifestasi) dalam hubungan manusia dengan alam (realisme filosofis). Sebuah keyakinan keagamaan dengan demikian kelayakannya diuji sejauh mana manusia dengan tabiatnya (kecenderungan dirinya) dapat berhasil mentransformasikan ajaran agama dalam kehidupannya di alam ini (material/berubah-ubah). Secara sederhana, agama dapat kita mengerti sebagai metode mengaitkan tabiat manusia dengan tabiat alam semesta dengan pandangan dunia tauhid. Sebuah pengaitan yang melihat dinamika karakter manusia (psikologi) dengan karakter alam (fisis).

Pertanyaan epistemologinya, bagaimana agama (tauhid/metafisik/non material) dapat menjadi penghubung tabiat manusia dengan alam (hal-hal material). Ada 2 kemungkinan epistemologi; 1. Mematerialisasikan kesadaran agama di alam agar agama dapat diobjektifikasi dengan landasan ilmiah, 2. Mengabstrakkan kesadaran material sebagai kesadaran keagamaan sehingga agama hanya menjadi kesadaran subjektif dalam diri manusia saja.

Dalam kajian epistemologi Islam (M.Baqir Shadr dan Murtadha Muthahhari), tujuan epistemologi adalah mengungkapkan realitas objektif di alam. Nilai pengetahuan pada realitas objektif. Alam dalam kajian epistemologi terdiri atas hal-hal material dan non material dan keduanya adalah keberadaan sebagai realitas yang satu (ontologi) dalam 2 sudut pandang pengetahuan (epistemologi). Oleh karenanya hal-hal yang material (lahir) dan hal-hal yang non material (batin) adalah realita objektif yang ada di alam ini. Lahir dan batin di alam ini dalam epistemologi kedua hal tersebut (materi dan non materi) bernilai dan karenanya dapat dijadikan sumber nilai. Dalam kajian aksiologi, kita bisa dudukkan hal-hal material itu sebagai posisi hukum dan hal-hal yang non material itu sebagai posisi etika. Sehingga hukum dan etika adalah kajian nilai yang harus diungkapkan keduanya dalam realitas objektif sebagai realitas yang tak terpisahkan.

Sebuah ilustrasi menarik dari William Chittick (2010) mengenai kedudukan hal-hal yang material (fakta) dan hal-hal yang non material (konsep) dalam dua kalimat syahadat:
Asyhadu an-laa ilaaha illallaah (Allah SWT. Adalah konsepsi hal-hal yang non material)
Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah (Muhammad Saw. adalah fakta sejarah akan hal-hal material)
Kedua hal tersebut (Allah SWT/ non material dan Muhammad Saw / material) dipertautkan dalam kalimat syahadat sebagai kalimat persaksian. Hal itu berarti, kita bersaksi akan realitas non material dan material.

Sampai di sini kita bisa mendudukkan agama sebagai dasar pertautan manusia dan alam (hal material) melalui kehadiran Tuhan/Allahn SWT. (non material) dalam hubungan tersebut. Secara sederhana bisa kita katakan pertautan hal-hal material (manusia dan alam) melalui hal-hal yang non material. Realitas objektif keduanya (materi dan non material) adalah bernilai. Inilah realisme filosofis tentang agama.

Jadi kita membutuhkan hal-hal material (sains-hukum) bersama dengan kebutuhan kita pada hal-hal yang non material (etika-metafisika). Pandangan dunia Agama berkaitan dengan upaya meneguhkan keduanya sebagai sesuatu yang suci dalam ikatan tauhid. Semua saja di alam ini (materi dan non materi) adalah faktor spiritual penting manusia yang tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan individu dan sosialnya.

Hubungan Agama dengan Keadilan
Dalam buku Keadilan Ilahi (1992) Murtadha Muthahhari memberikan pengertian keadilan dengan menjelaskan 2 aspek keadilan yaitu keadilan Tuhan dan keadilan manusia. Berikut kedua aspek tersebut yang saya adaptasikan dari pandangan Muthahhari:
1. Keadilan Tuhan dapat dipahami dari pengertian bahwa keadilan adalah memelihara hak atas berlanjutnya eksistensi (keberadaan di alam ini) dan peralihan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk eksisnya setiap hal yang ada di alam ini dan melakukan transformasi. Keadilan Tuhan dalam hal ini dikaitkan dengan pandangan bahwa suatu yang eksis (maujud) mengambil perwujudan dan kesempurnaannya dalam kadar yang menjadi haknya dan sejalan dengan kemungkinan yang dapat dipenuhi oleh manusia.
2. Keadilan Manusia dapat dipahami dari pengertian bahwa keadilan adalah memelihara hak-hak individu dan memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya, dan kezaliman dengan pengertian seperti ini pengrusakan dan pelanggaran terhadap hak-hak orang lain (keadilan sosial). Keadilan ini harus dihormati di dalam hukum manusia dan setiap individu benar-benar diperintah untuk menegakkannya.

Dari kedua aspek keadilan tersebut (keadilan Tuhan dan keadilan manusia) maka keadilan dapat kita ringkaskan dalam 3 hal pokok sebagai kerangka keadilan: 1) Keadilan Tuhan berkaitan dengan kemungkinan (potensi) kesempurnaan yang dicapai oleh manusia adalah sama (teoretis). 2) Keadilan manusia berkaitan dengan upaya manusia memelihara kondisi terjaminnya hak individu agar keadilan Tuhan dapat dicapai (praktis). 3) Syarat tercapainya keadilan Tuhan (teoretis) adalah terlaksananya keadilan manusia (praktis). Keadilan manusia harus dipenuhi agar manusia dapat menuju kepada Tuhan sebagai keadilan Tuhan kepada setiap manusia dengan segenap potensi (kemungkinannya).

Bagaimana posisi agama? Jika pengertian agama mencakup kehidupan material dan nonmaterial dalam hubungan ketuhanan (al tawhid). Maka Tuhan / Allah SWT dapat kita hadirkan dengan metode yang ditunjukkan oleh Tuhan sendiri melalui agama yang dibawa oleh Nabinya. Nah, upaya mewujudkan metode tersebut (agama sebagai metode) dengan struktur keadilan di atas tidak akan terwujud kalau saja aspek keadilan manusia tidak ditegakkan sebagai pendahuluan menegakkan keadilan Tuhan di alam ini.

Agama tidak akan tegak dalam menghubungkan manusia dengan kehidupannya di alam ini, jika keadilan sebagai neraca agama tidak diletakkan sebagai basis pertama. Dalam sebuah ungkapan lain, keagamaan tanpa keadilan sama saja tidak menegakkan keadilan Tuhan. Keadilan adalah basis objektif agama yang bisa dijadikan fondasi kemanusiaan kepada siapa saja (beragama ataupun tidak beragama). Modal keadilan adalah dasar penting agama. Artinya dengan keadilan orang memiliki jalan beragama dengan baik, tanpa keadilan, agama tidak akan tegak sebagai jalan kehadiran Tuhan. Bukankah Tuhan / Allah SWT adalah sang Maha Adil dan bukankah Nabinya al Mustafa Muhammad Saw adalah Nabi yang menetapkan hidupnya dengan dasar keadilan dan akhlak yang tinggi.

Pada akhirnya, kita mungkin akan sangat khawatir jika agama dibawa oleh orang-orang yang tidak adil, tetapi kita punya harapan agama sebagai jalan manifestasi Allah SWT ke dunia ini (kuciptakan dunia ini agar Aku dikenal-hadis) jika saja neraca keadilan dapat kita kondisikan pada semua manusia (beragama ataupun tidak).

Dalam analisis saya terhadap pemikiran Muthahhari, saya dapat menyimpulkan, orang-orang beragama belum tentu bisa adil tetapi orang adil sudah tentu akan menerima jalan kebaikan dalam agama. Tentunya Nabi al Mustafa Muhammad saw adalah orang yang beragama yang adil. Inilah tujuan kenabian membawa agama dengan pandangan dunia tauhidnya dengan landasan keadilan.
Wallahu’alam bi al shawab

Salam atas Al Mustafa Muhammad Saw, keluarganya dan para sahabatnya yang setia

No comments:

Post a Comment