Friday, 22 April 2016

Imam Ali, Keadilan Sosial dan Ahli Hakikat

Selamat Memperingati Kelahiran Imam Ali bin Abi Thalib 
13 Rajab 1437 H

A.M. Safwan (Madrasah Muthahhari - RausyanFikr)

Tulisan singkat ini saya adaptasi dari pemikiran Murtadha Muthahhari (Filsuf dan ulama Iran) tentang Imam Ali dalam kajian tentang karakteristik hak dan hak-hak masyarakat. Kajian Muthhahhari tentang hak dalam pandangan Imam Ali adalah salah satu tema yang senantiasa menarik dan sering kali saya baca dan mendalaminya kembali (review). Ulasan Muthahhari tentang tema ini membawa saya dalam suatu situasi pentingnya memandang kehidupan sosial masyarakat yang berpusat pada basis keadilan dan tidak terdapat cara lain untuk menjaga masyarakat kecuali dengan keadilan. Keadilan dalam konteks ini adalah hubungan hak dan kewajiban dalam kepemimpinan masyarakat. Inilah yang mungkin dimaksud keadilan sosial.


Ada 4 karakter hak dalam pandangan Imam Ali yang disampaikan Muthahhari yang direfleksikan dari khutbah Imam Ali dalam Nahjul Balaghah (Puncak Kefasihan) : 1. Hak seseorang tidak akan terpenuhi / terlaksana kecuali telah terlaksana hak yang ada dipundaknya (kewajiban), begitupula sebaliknya, tidak akan terlaksana hak yang ada dipundaknya (kewajiban) kecuali telah terpenuhi apa yang menjadi haknya. 2. Hak adalah sesuatu yang begitu mudah disifati, dibicarakan dan diterangkan, tetapi dalam pelaksanaannya, masalah hak inilah yang paling sulit terpenuhi. 3. Pemenuhan dan pelaksanaan hak tidak mudah kecuali dengan adanya kerjasama sosial. 4. Seorang ahli hak sama sekali tidak akan marah dan tersinggung oleh teguran dan nasihat yang ditujukan kepada dirinya. Apabila mereka marah dan tersinggung dengan teguran dan nasehat maka sesungguhnya mereka telah berpaling dari masalah hak.

Analisis Muthahhari mengenai keempat hak ini jika dikaitkan dengan hakikat (kebenaran). Hakikat menurut Muthahhari adalah sesuatu yang sebenarnya dengan mengenalinya melalui tatanan wujud dan pergerakan alam ini yang wujud sebagaimana mestinya, yaitu kenyataan yang ada di luar pikiran kita (bukan bayangan /imajinasi dalam pikiran kita). Seandainya kita telah mengenali diri, Tuhan, dan alam kehidupan kita dan mengenal dan berusaha terus memenuhi hak-hak mereka masing-masing di pundak kita, barulah dengan itu kita bisa menempatkan dan mengakui klaim keberadaan ahli hak / ahli hakikat. Jadi orang yang mengetahui hakikat dirinya adalah orang yang telah menempatkan realitas hak di alam, pada dirinya dan Tuhan. Menarik bahwa sang ahli hakikat adalah manusia yang telah memenuhi hak yang ada di pundaknya (kewajiban) dalam kehidupannya terkait yang ada di alam, Tuhan dan dirinya. Ahli hakikat bukan ahli bicara, ahli hakikat adalah ahli amal/perbuatan dalam pelaksanaan hak (kewajiban) terhadap diri, alam dan Tuhan.

Jadi, penting untuk terus membicarakan masalah hak ini agar kita semua terdorong mewujudkannya sehingga kita menjadi ahli hak (ahli hakikat/mewarisi kebenaran). Inilah menurut saya arti spiritualisme yang sejati (mendekatkan diri kepada Tuhan dengan standar etika akan pemenuhan akan hak (hak sosial kemasyarakatan adalah bagian di dalamnya). Pemenuhan hak dan kewajiban terkait erat dengan keadilan. Ahli hakikat adalah pelaku keadilan.

Spiritualitas adalah keadilan dengan objektifikasi hak atas diri, alam dan Tuhan. Maqam spiritualitas terletak dalam analisis akan tindakan sosial yang berkeadilan berdasarkan pandangan dunia Islam (Tauhid). Oleh karena itu spiritualitas terkait dengan pemenuhan hak dan kewajiban, dan salah satu fondasi hak dalam pandangan Imam Ali adalah pentingnya kerjasama sosial dalam pemenuhan hak dan kewajiban tersebut, maka tendensi sosial tauhid (tauhid sosial) adalah dasar dari aspek mengapa keadilan sosial itu hadir sebagai perwujudan tauhid secara sosial (tauhid praktis-sosial) sebagai fondasi tercapainya hak atas diri hubungannya dengan Tuhan (tauhid teoretis-individu).

Dengan demikian, keadilan sosial berlandaskan prinsip tauhid (tauhid sosial atau sosialisme Islam dalam bahasa Ali Syariati) memiliki ciri utama: 1. Memiliki kehendak kuat untuk memenuhi hak orang lain sebagaimana mereka menghendaki haknya terpenuhi, 2. Lebih banyak usaha yang tampak untuk mewujudkan keadilan dalam perbuatan daripada sekedar membicarakannya. 3. Pemenuhan hak dan kewajiban dibangun dengan kerjasama sosial bukan atas peran individu semata, seperti aspek ketokohan/figuritas). 4. Pelaku keadilan sosial pasti terbuka kepada kritik dan nasihat, kalau tidak terbuka, berarti mereka mengingkari hakikat dari hak sebagai kebenaran yang ada di manapun baik pada dirinya maupun orang lain.

“ Dan tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (Q.S. al Maidah: 5)

Semoga dengan berkah peringatan kali ini, kita diberi kesanggupan oleh Allah SWT agar lebih mampu hidup dengan suasana yang lebih berkeadilan dalam manifestasi hak dan kewajiban, sebagai syarat perjalanan menuju kepada Tuhan ( as sayr as suluk)

Wallahu’alam
Salam atas Amirul Mukminin, ahl tauwhid, wa as sulukin Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah

No comments:

Post a Comment