Monday, 11 April 2016

Mencoba Belajar Ngaji Falsafatuna (Ringkasan Sesi 8)

DOKTRIN, PENGETAHUAN, DAN TUHAN

A.M. Safwan-Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari Yogyakarta

Pengetahuan sebagai doktrin/tasdik adalah suatu bentuk pengetahuan yang sudah melibatkan penilaian atas sebuah konsep agar manusia memperoleh pengetahuan yang objektif. Kita mengetahui sejumlah proposisi dan membenarkannya (tasdik). Penilaian tersebut atas proposisi-proposisi (pernyataan) yang di dalamnya didasarkan atas realitas objektif partikular misalnya pernyataan “cuaca panas”, “matahari terbit” atau didasarkan pada dua ide umum misalnya dalam pernyataan “keseluruhan lebih besar daripada sebagian”, “panas menyebabkan mendidih”.

Dari batasan tersebut kita dapat mendudukkan karakteristik pengetahuan tasdik / doktrin : 1. Melibatkan suatu penilaian, 2. Penilaian dalam hal ini dalam bentuk proposisi /predikasi, 3. Objektif, 4. Berhubungan dengan realitas (partikular ataupun umum). Persoalan lebih lanjut adalah mengetahui sumber pengetahuan tasdik/doktrin tersebut dan bagaimana pengetahuan tasdik tersebut membentuk pengetahuan (akan kita jelaskan pada sesi-sesi selanjutnya)

Pengetahuan tasdik atau doktrin pengetahuan yang didasarkan atas sejumlah konsep-konsep pengetahuan yang menyimpulkan bahwa pengetahuan dikonsepsi atas dasar ilmiah dan rasional. Sebagaimana dalam pembahasan sesi sebelumnya, disebutkan ada teori yang empiris, rasional dan disposesi. Jika mengaitkan struktur konsep ketiga teori pengetahuan tersebut dengan menilai berdasarkan karakteristik pengetahuan tasdik maka pengetahuan dapat disimpulkan dalam 2 model doktrin yaitu rasionalisme dan empirisme.

Dalam Falsafatuna, teori rasional dan teori empiris termasuk kelompok pengetahuan yang doktrinnya empiris (empirisme) sedangkan teori disposesi adalah pengetahuan yang doktrinnya rasional (rasionalisme). Menarik bahwa teori rasional dan empiris ternyata berada dalam doktrin yang sama dalam pengetahuannya yaitu empirisme. Artinya, akan kita temukan sebuah pemetaan yang menarik bahwa struktur teori rasional berbeda dengan struktur doktrin rasional. Jadi sekalipun Rene Descartes dan Immanuel Kant dalam sesi sebelumnya dijelaskan bahwa konsepsi pengetahuan mereka mengakui rasio sebagai sumber pengetahuan, tetapi dalam struktur tasdiknya / doktrinnya mereka tidak dapat melakukan penilaian rasional atas sejumlah gagasan/konsep/teorinya (misalnya Tuhan) di realitas objektif. Jadi buat mereka gagasan/ konsep Tuhan adalah sesuatu yang tidak dapat dianalisis sebagai gagasan yang memiliki landasan objektif di realitas (Tuhan bukan doktrin yang terkait dengan reaitas objektif)

Tampaknya dalam sejarah awal yang membentuk teori pengetahuan dalam filafat Barat adalah adanya doktrin yang tidak dapat mengaitkan antara keimanan/kepercayaan terhadap Tuhan dalam konstruksi pengetahuan. Artinya doktrin pengetahuan mereka tentang Tuhan tidak memiliki relevansi epistemologis. Dengan demikian, keimanan terhadap Tuhan tidak dapat dikaitkan dengan doktrin pengetahuan mereka. Keimanan tidak berkaitan dengan seluk beluk penilaian, objektivitas. Keimanan adalah masalah subjektif yang tidak tersentuh pemikiran manusia, keimanan dengan demikian adalah wilayah yang tidak dapat dibicarakan sebagai persoalan identitas manusia yang berpengetahuan. Corak arketipe Platonik tampak menonjol dalam keyakinan dan agama di Eropa waktu itu.

Tampaknya memang perlu (sebagaimana ditekankan Baqir Shadr dalam Falsafatuna) dibedakan pengetahuan sebagai konsep/teori/tashawwur dan pengetahuan sebagai penilaian/doktrin/tasdik. Ketidakmampuan membedakan akan berimplikasi pada penerimaan sebuah doktrin yang tidak memiliki pertanggungjawaban teoretis. Kenyataannya kita sering menemukan sebuah keyakinan (doktrin) yang diberikan kepada masyarakat tanpa penjelasan teoretis tentang alasan mengapa kita berkeyakinan tentang sebuah agama atau kepercayaan. Lebih mengkhawatirkan lagi jika ini terjadi di kalangan “intelektual” para penganut keyakinan masing-masing, menjadikan doktrinnya sebagai sebuah penilaian yang dibenturkan dengan doktrin lainnya tanpa usaha keras mendudukkan latar belakang keyakinan/doktrin masing-masing.

Dalam sebuah seminar nasional beberapa waktu lalu di sebuah kampus, ada seorang mahasiswa pascasarjana bertanya kepada saya sehubungan dengan tema pembahasan, bahwa syiah dan ahlusunnah waljamaah tidak bsa berdamai dengan mengacu kejadian di Suriah, di mana Bashar Assad yang Syiah (katanya) memerangi kelompok Ahlsunnah di Suriah. Tentu saja saya menimpali pertanyaan tersebut dengan menggunakan struktur Falsafatuna, sebuah keyakinan/doktrin dari pertanyaan di atas perlu didudukkan dulu konsep/teori kita tentang apa yang disebut Syiah?, apa itu ahlusunnah waljamaah?, dari mana keyakinan bahwa Bashar Assad seorang syiah?, dari mana keyakinan bahwa di Suriah adalah Perang Syiah dan Sunni?. Sebelum konsep /teori itu didudukkan dan bagaimana konsep itu terjadi, maka penilaian (doktrin) yang ditanyakan tidak dapat dinlai (doktrin/tasdik).

Oleh karena itu, penilaian/tasdik yang kita lakukan atas sebuah keyakinan (doktrin) pihak lain perlu dijembatani dengan sebuah pemahaman bersama akan konsep/teorinya. Jika tidak, yang terjadi adalah benturan doktrin dan ini akan menghalangi upaya mendapatkan sebuah pengetahuan yang objektif atas sebuah permasalahan. Hingga dialog akan cenderung berakhir pada tirani doktrin/kepercayaan.

Wallahu'alam bi al-shawab

Salam atas Al Mustafa Muhammad Saw, keluarganya dan para sahabatnya yang setia

No comments:

Post a Comment