Wednesday, 13 April 2016

Mencoba Belajar Ngaji Falsafatuna (Ringkasan Sesi 11)

Bagian 1
Doktrin Empiris: Pengalaman dan keniscayaan

A.M. Safwan- Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari – RausyanFikr Yogyakarta

Doktrin/tasdik empiris ini menyatakan bahwa pengalaman empiris /ilmiah adalah kriteria satu-satunya yang menjadi dasar penilaian pengetahuan akan kebenaran sesuatu. Doktrin empiris tidak mengakui doktrin rasional sebagai kriteria pengetahuan untuk mendapatkan kebenaran objektif. Menurut doktrin empiris, neraca satu-satunya untuk menilai realitas objektif setiap konsep adalah pengalaman (ilmiah). Semakin luas pengalaman maka semakin luas pengetahuan yang didapatkan . Tentunya pengetahuan yang dinilai akan bervariasi/berbeda sebagaimana berbedanya pengalaman setiap orang.

Doktrin empiris menempatkan prinsip kenisicayaan dalam doktrin rasional harus tetap tunduk kepada pengalaman, seperti teori kausalitas yang dalam doktrin rasional adalah sebuah prinsip pengetahuan yang niscaya tanpa memerlukan bukti bahwa setiap akibat pasti butuh kepada sebab (kausalitas) oleh doktrin empiris dinyatakan bahwa prinsip ini tetap harus diuji dengan kriteria pengalaman bahwa setiap akibat membutuhkan sebab untuk aktualnya sesuatu menurut doktrin empiris tidak dapat langsung diterima kecuali setelah dinilai berdasarkan kriteria pengalaman. Padahal doktrin rasional tidak perlu dibuktikan bahwa secara rasional (akal) sudah dapat diterima kelogisannya tanpa bukti bahwa setiap akibat butuh kepada sebab, apapun fenomena ilmiahnya.

Falsafatuna / M.Baqir Shadr memberikan catatan bahwa dengan pemahaman doktrin empiris tersebut akan berimplikasi pada; 1. Kemampuan berpikir manusia dibatasi dengan batas-batas wilayah empiris sehingga penyelidikan metafisika (non ilmiah) akan menjadi sia-sia dan tak bermakna (muspra). Di sini doktrin empiris berlawanan dengan prinsip doktrin rasional. 2. Gerakan pemikiran dalam doktrin empiris bergerak dari hal-hal yang berasal dari eksperimen / partikular (ilmiah) ke hukum umum alam (universal). Sedangkan doktrin rasional menyatakan bahwa pikiran selalu bergerak dari yang umum (universal) ke yang khusus (partikular). Di sini doktrin empiris menegaskan bahwa hukum umum (universal) dalam doktrin empiris adalah pengetahuan yang berasal dari yang partikular / eksperimen.

Gerak pengetahuan dari yang umum ke yang khusus sebagaimana dalam doktrin rasional, menurut doktrin empiris hal itu tidak akan menghasilkan pengetahuan baru bagi manusia. Misalnya silogisme dalam doktrin rasional:

Semua manusia mati (premis umum /mayor)
Iwan manusia (premis khusus /minor)
Iwan mati (kesimpulan)

Kesimpulan yang diambil dari dalil/premis khusus dalam silogisme doktrin rasional tidak menghasilkan pengetahuan / informasi baru, oleh karena pengetahuan tentang “Iwan mati” telah terjelaskan sejak awal dalam dalil umum bahwa “semua manusia mati” . Ini kritik doktrin empiris terhadap doktrin rasional.

Falsafatuna melakukan kritik terhadap doktrin empiris dengan menyatakan apakah menjadikan pengalaman empiris sebagai kriteria utama dan satu-satunya dalam menerima pengetahuan adalah kriteria niscaya yang ditetapkan / ditasdik berdasarkan pengalaman sebelumnya? Ataukan ia sama dengan pengetahuan lainnya yang bukan pengetahuan bawaan dan bukan pula pengetahuan niscaya? Jika doktrin empiris menyatakan bahwa pengalaman adalah kriteria niscaya maka seharusnya menurut Baqir Shadr, doktrin empiris pun harus menerima kriteria pengetahuan niscaya dalam doktrin rasional, sebagaimana doktrin empiris menjadikan pengalaman sebagai kriteria pengetahuan niscaya. Kalau doktrin empiris tidak menerima kriteria pengetahuan niscaya (doktrin rasional) maka bagaimana doktrin empiris meniscayakan pengalaman sebelum adanya pengalaman (pengalaman terjadi). Jadi, meniscayakan pengalaman ilmiah sebelum dilakukan penelitian ilmiah. Bagaimana bisa mendemonstrasikan hal seperti ini? Sesuatu yang tidak bisa diterima akal sehat, ibarat seorang ayah meniscayakan adanya anak sebelum anak itu ada, meniscayakan adanya sesuatu sebelum sesuatu itu ada.

Dengan demikian, prinsip pengalaman sebagai KRITERIA NISCAYA pengetahuan dalam doktrin empiris menjadi gugur karena tidak mungkin ditetapkan pengalaman ilmiah sebagai sebuah kriteria keniscayaan pengetahuan sebelum adanya pengalaman. Bagaimana bisa kita niscayakan pengalaman kita kepada orang lain sebelum orang lain mengalami, sebagaimana pengalaman orang lain merasakan hal-hal yang tidak baik dalam hubungan dengan seorang teman apakah hal yang sama akan niscaya buat orang yang akan berhubungan dengan seorang teman kita sebelum orang lain itu berhubungan dengan teman tersebut. Jadi jangan diniscayakan pengalaman kita itu,bisa jadi pengalaman kita buruk terhadap seorang teman tetapi bisa jadi baik dengan pengalaman orang lain terhadap teman tersebut. Jadi jika kata orang pengalaman adalah guru yang terbaik, tetapi buat kita dalam doktrin rasional bukan niscaya, karena mungkin ada yang lain (Misalnya Tuhan / Allah SWT.)

Wallahu'alam bi al-shawab

Salam atas Al Mustafa Muhammad Saw, keluarganya dan para sahabatnya yang setia

No comments:

Post a Comment