Sunday, 17 April 2016

Mencoba Belajar Ngaji Falsafatuna (Ringkasan Sesi 15 & 16)

Watak Rasional Doktrin Empiris: 
Kebergantungan doktrin empiris pada prinsip rasional dan Keharusan Sejarah

A.M. Safwan- Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari – RausyanFikr Yogyakarta

Setelah kita menelusuri aspek kausalitas pada doktrin empiris, Falsafatuna menyimpulkan bahwa doktrin empiris akan menyebabkan tidak terpakainya (hilangnya) prinsip kausalitas dan kegagalan mendemontrasikan relasi yang diperlukan dalam berbagai hal. Padahal kehilangan prinsip kausalitas akan menyebabkan runtuhnya sains (ilmiah) oleh karena sains mengakui kausalitas sebagai prinsip sains.


Kebergantungan doktrin empiris kepada prinsip kausalitas adalah sesuatu yang diterima sebagai hubungan fenomena (ilmiah) yang dipersepsi secara inderawi, oleh karena doktrin empiris tidak mengakui adanya pengetahuan yang didapatkan di luar pengalaman maka tentu penerapan prinsip kausalitas dengan menggunakan doktrin empiris terbatas hanya pada hubungan sebab akibat pada batas fenomena, padahal kesimpulan yang sering digunakan doktrin empiris termasuk hal-hal yang belum memiliki pengalaman ilmiah dalam bukti penerapannya (generalisasi) justeru menggunakan doktrin rasional. Misalnya, pada percobaan ilmiah ditemukan bahwa air yang dipanaskan mendidih (pengalaman/ilmiah). Dasar ini dijadikan kesimpulan dalam doktrin empiris bahwa “SETIAP air dipanaskan akan mendidih” adalah kesimpulan umum yang tidak menjangkau semua air (terbatas pada air tertentu bukan semua air yang ada di alam) dalam wilayah pengalaman (belum diuji semua) tetapi sudah menjadi doktrin dalam empiris. Padahal, bukankah yang belum memiliki pengalaman (belum diuji) tidak dapat dijadikan dasar penilaian dalam doktrin empiris.

Dalam penjelasan Falsafatuna, bahwa sains alam yang dibangun dengan eksperimen murni membutuhkan prinsip rasional primer yang mendahului eksperimen, karena ilmuwan mengadakan eksperimennya di laboratorium atas partikular-partikular objektif terbatas, kemudian kaum empiris mengemukakan suatu teori untuk menjelaskan fenomena yang telah diungkap oleh eksperimen dengan menjustifikasikan dengan satu sebab umum. Tentu pertanyaannya, bagaimana pikiran bisa sampai pada sebuah sebab umum (dalil umum) dalam klaim empirisme, bukankah mereka menilai / mentasdik terbatas pada hal-hal khusus /partikular objektif terbatas bukan pada keseluruhan (umum). Tak syak lagi, empirisme mengambil sebagian kesimpulan dengan menggunakan penalaran rasional (doktrin rasional) yang mendahului eksperimen.

Dengan demikian, jelaslah bahwa semua teori empiris dalam sains akan didasarkan pada sejumlah penggalan pengetahuan rasioanl yang tidak menjadi subjek eksperimen / pengalaman, melainkan pikiran yang menerimanya sebelum eksperimen. Dalam Falsafatuna disebutkan beberapa penggalan pengetahuan rasional dalam kesimpulan doktrin empiris (watak rasional dalam doktrin empiris), Berikut akan saya uraikan penjabarannya di bawah ini.

Pertama; Prinsip kausalitas dalam pengertian kemustahilan adanya kebetulan di alam ini, apabila kebetulan itu mungkin, maka tidak mungkin bagi ilmuwan alam untuk mencapai penjelasan umum tentang banyak fenomena yang muncul dalam eksperimen. Jika hasil pengujian eksperimen terhadap objek spesifik tertentu dijadikan kesimpulan umum untuk semua objek, maka jika kebetulan yang terjadi pada beberapa objek yang hasil spesifiknya berbeda maka tentu maka doktrin empirisme tidak dapat mengambil kesimpulan umum, oleh karena bisa saja ada kebetulan yang berlangsung di luar pengalaman subjek tertentu.

Kedua; Prinsip keselarasan antara sebab dan akibat. Prinsip ini menyatakan bahwa segala sesuatu yang realitasnya sama pasti akan bergantung pada satu sebab yang sama. Artinya, jika doktrin empiris menyimpulkan secara umum bahwa berdasarkan pengujian eksperimen akan berlaku pada semua subjek tentu didasarkan pada asas keselarasan (watak rasional) pada subjek-subjek lain yang sama sekalipun belum diuji. Misalnya, jika subjek besi tertentu dipanaskan memuai, doktrin empiris menyimpulkan bahwa setiap besi (semua besi) akan memuai jika dipanaskan (belum diuji dengan memanaskan, tetapi jika (andaikan) dipanaskan). Bagaimana doktrin empiris bisa menyimpulkan semua besi akan memuai jika dipanaskan kalau tidak mengambil prinsip keselarasan satu subjek (besi tertentu yang dipanaskan) atas subjek lain yang sama (besi yang belum dipanaskan). Tentu dibutuhkan peran rasional, sehingga doktrin empiris bisa menyimpulkan untuk semua subjek sekalipun belum diuji semuanya.
Ketiga; Prinsip non kontradiksi yang menyatakan bahwa mustahil bagi penetapan dan pengingkaran untuk sama-sama berlangsung bersamaan (sekaligus).

Artinya, penetapan kebenaran ilmiah (empiris) terhadap subjek tertentu harus dipastikan kebenarannya pada subjek tersebut, dan tidak mungkin diingkari kebenarannya pada waktu yang sama. Kalau kebenaran ilmiah mendapatkan penilaian empiris maka dengan kemungkinan ilmiah, bisa saja kebenaran yang didapatkan dalam pengujian objek spesifik tertentu akan salah jika dilakukan pengujian dalam objek lainnya yang sama, sebagaimana dalam klaim empirisme, sesuatu yang benar saat ini bisa saja salah pada waktu yang akan datang. Dengan watak rasional,kita tetap menyimpulkan kebenaran ilmiah tertentu dan tidak mungkin diingkari kebenarannya pada waktu yang sama. Pengingkaran bisa terjadi pada waktu yang lain (berbeda).

Inilah yang dimaksud, bahwa doktrin empiris membutuhkan penyimpulan rasional yang mendahului eksperimen ketika menetapkan pengalaman ilmiah tertentu sebagai kebenaran dan tidak mungkin kita mengatakan salah pada waktu yang sama walaupun ada kemungkinan salah pada waktu yang akan datang dan ini bukan kontradiksi.

Jelaslah bagi kita dari penjelasan terdahulu bahwa penyimpulam dalam kesimpulan sains dalam eksperimen selalu bergantung pada penalaran silogisme yang di dalamnya manusia bergerak dari yang general (umum) ke yang spesifik atau dari yang universal kepartikular, tepatnya sebagaimana ketiga tinjauan doktrin rasional di atas. Dengan demikian, apa yang seringkali diklaim banyak orang sebagai kesimpulan ilmiah menurut saya setiap kesimpulan pasti menggunakan anasir rasional. Jadi, tidak terdapat hal-hal yang murni ilmiah/faktual dalam kesimpulan, kecuali di dalamnya ada kontruksi rasional. Jadi apapun, setiap orang yang menyimpulkan dapat dianalisis dan dikritik kontruksinya yang berwatak rasional. Pada akhirnya, setiap perdebatan ilmiah/empris bertumpu pada sebagian pada neraca rasional. Saya meyakini secara rasional bahwa tidak terdapat fakta-fakta ilmiah (empiris) yang dapat disimpulkan kecuali di dalamnya ada determinasi rasional dalam batas tertentu. Kesimpulan atas fakta ilmiah pasti memiliki penggalan watak rasional.

Maka dalam konteks keilmuan teoretis dan praktis, Kajian dan studi sejarah misalnya, membutuhkan kajian filsafat sejarah. Selamat bergabung kembali sejarah dengan filsafat sejarah yang telah lama dipisahkan oleh sains Barat. Sejarah bukan hanya tentang masa lalu tetapi juga tentang masa depan (filsafat sejarah). Studi tentang kehidupan Nabi Muhammad Saw (masa lalu) perlu juga dipertimbangkan kesimpulan rasionalnya mengapa Nabi berlaku demikian pada masa lalu, secara rasional kemungkinan memiliki tendensi ke masa depan perilaku Nabi Muhammad pada masa lalu. Buat saya, inilah hakikat sejarah dalam pendekatan filsafat Islam. Sejarah dilihat SEBABnya pada masa lalu dan dikontruksi AKIBATnya pada masa depan.

Wallahu'alam bi al-shawab
Salam atas Al Mustafa Muhammad Saw, keluarganya dan para sahabatnya yang setia

No comments:

Post a Comment