Tuesday, 19 April 2016

Mencoba Belajar Ngaji Falsafatuna (Ringkasan Sesi 19)

Nilai Pengetahuan

A.M. Safwan- Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari – RausyanFikr Yogyakarta

Pada sesi-sesi sebelumnya, kita telah membahas sumber utama pengetahuan atau persepsi manusia secara umum yang berwatak rasional sebagai kriteria / neraca pengetahuan untuk menilai realitas objektifnya dengan menggunakan pengalaman inderawi sebagai landasan pengetahuan. Pada beberapa sesi kedepan kita akan mempelajari dan membahas bersama kemungkinan pengungkapan realitas objektif dan nilai objektifnya. Dari pembahasan sebelumnya kita bisa memastikan bahwa satu-satunya cara yang tersedia dengan memadukan dalam suatu sistem pengetahuan disposesi (ilmiah dan rasional). Persoalannya apakah cara / metode pengetahuan ini (teoretis) mampu membawa pada tujuan (mencari kebenaran) dan apakah manusia mampu untuk menangkap realitas objektif dari pengetahuan yang kita miliki, misalnya konsep/ide tentang Tuhan?

Filsafat Marxis percaya bahwa mungkin saja bagi seseorang untuk mengetahui realitas objektif dari dunia ini sebagai sesuatu yang bersifat material/ilmiah, Marxis menolak keraguan akan realitas objektif dunia ini seperti kaum sophis. Sebaliknya, idealisme seperti tokoh utamanya George Berkeley (1685-1753 ) mengingkari kemungkinan mengetahui realitas objektif dunia ini dan hukum yang ada di dalamnya, artinya Berkeley tidak memandang adanya nilai pengetahuan di realitas dunia ini.

Filsuf seperti Hume dan Kant (yang sudah kita jelaskan pemikirannya dalam kaitan ini dalam sesi sebelumnya) juga tampak idealisnya yang menolak adanya realitas objektif pengetahuan yang berdiri sendiri terlepas dari pengalaman inderawi, mereka menganggap bahwa realitas itu subjektif kualitasnya, selalu realitas itu adalah hubungan dari objek dengan reaksi subjektif. Seperti pandangan Hume bahwa kualitas objektif bukan fenomena yang berdiri sendiri tetapi ada karena asosiasi ide (kesan yang hadir dalam benak manusia karena pengamatan inderari secara berulang-ulang). Atau seperti pandangan Kant yang menganggap bahwa ada realitas pada dirinya (sesuatu pada dirinya) tetapi manusia tidak dapat mengetahuainya, jadi pengetahuannya hanya terkait apa yang ada pada dirinya bukan sesuatu pada dirinya. Dalam Falsafatuna (M.Baqir Shadr) membuat hipotesis, jika kita dapat membuktikan adanya realitas objektif yang bukan merupakan fenomena yang kita ciptakan dan kita mampu mengetahui realitas objektif yang berdiri sendiri tersebut, maka gugurlah ilusi filsafat Hume dan Kant tentang realitas yang tidak bisa diketahui karena bukan merupakan realitas objektif dalam pandangan mereka.

Dengan filsafat Marxis saja kita bisa mengetahui adanya kepastian filsafat yang dapat mengungkap realitas objektif dunia ini yang bersifat material (lewat teori Dialektika Material Historis). Artinya bagi Marxis, kita dapat mengetahui realitas objektif dunia ini dengan sebuah pemikiran yang solid dan kuat (realisme material). Dari pengalaman Marxis saja, kita bisa membuat perbandingan dengan pandangan filsafat lainnya (Berkeley,Hume, Kant) dan menganalisis kuatnya nilai pengetahuan Marxis berhubungan dengan realitas dan membawa kita pada suatu kepastian adanya hukum-hukum yang objektif di alam ini yang bernilai material.

Bagaimana dengan nilai pengetahuan dalam pandangan filsafat Islam? Tentu, seperti dalam sesi sebelumnya, bahwa pandangan dunia Islam memastikan adanya realitas objektif di alam ini dengan landasan ilmiah /material dan neraca rasional, kita dituntun pada kenyataan bahwa realitas objektif tidak semata-mata bersifat material /ilmiah tetapi juga ada realitas objektif yang kita yakini sebagai sesuatu yang ada di realitas dan tidak terpisahkan hubungannya dengan hal-hal yang material sekalipun kita tidak dapat mempersepsinya secara inderawi.

Struktur teori dan doktrin dalam filsafat Islam menuntun kita secara metodologis pada kehadiran nilai pengetahuan yang objektif pada realitas yang tidak meragukan. Keyakinan akan realitas ini bukan muncul dari pandangan di luar pengetahuan (seperti nilai yang dogmatis-teologis) tetapi murni dihasilkan dari konstruksi pengetahuan sendiri (teori dan doktrin seperti dalam pembahasan sebelumnya). Oleh karenanya, pandangan hukumnya memang hadir oleh karena konsekuensi pengetahuan manusia. Seperti orang Islam menjalankan syariat (seperti dalam rukun Islam) itu karena keharusan secara pengetahuan bagi orang-orang yang telah mencapai keimanan (seperti dalam rukun Iman). Jadi, secara pengetahuan, pelaksanaan ibadah adalah konsekuensi dari Iman, dan Iman sebelumnya juga adalah konsekuensi dari pengetahuan. Kontruksi pandangan dunia Islam dalam kajian ini, tidak memandang nilai sebagai sesuatu yang berdiri di luar sebagai pandangan yang terpisah dari struktur pengetahuan manusia. Begitupula dengan keyakinan kita dengan Tuhan dan keinginan berjumpa denganNya itu karena pengetahuan kita yang menuntun kita kepadaNya.

Kesimpulannya, bahwa nilai pengetahuan berkaitan dengan keyakinan, kepastian, objektifitas dan keterkaitaan pengetahuan dengan realitas objektif dalam sebuah hukum-hukum yang pasti baik bersifat material maupun non material dalam hubungannya dengan hal-hal yang material. Dengan demikian, pandangan dunia Islam meyakini adanya realitas objektif di alam ini baik yang material maupun non material dan bahwa keduanya dapat dinilai dengan sebuah hukum-hukum yang objektif. Seperti nilai syariat dalam agama yang dapat dinilai dengan sebuah neraca kaidah-kaidah hukum akan kepastiannya melalui metode ushul figh dengan menjadikan akal sebagai salah satu sumber hukum. Sehingga di alam dunia ini, penetapan nilai sebuah perbuatan dapat dinilai dalam kaitannya dengan Tuhan sebagai pengatur alam ini dan hubungannya dengan kehidupan kita secara luas dengan manusia dan alam semesta melalui sebuah sistem hukum /nilai (proposisi benar salah).

Terdapatnya perbedaan nilai adalah sah saja, tetapi hal itu bukan terkait dengan tidak adanya nilai. Tetap saja perbedaan nilai itu bersandar pada keharusan adanya nilai. Di sinilah relevansi nilai pengetahuan dalam mengungkap realitas objektif.

Wallahu'alam bi al-shawab

Salam atas Al Mustafa Muhammad Saw, keluarganya dan para sahabatnya yang setia

No comments:

Post a Comment