Monday, 11 April 2016

Mencoba Belajar Ngaji Falsafatuna (Ringkasan Sesi 9 & 10)

Doktrin Rasional: Antara Sains, Filsafat dan Tuhan

A.M. Safwan- Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari – RausyanFikr Yogyakarta

Doktrin Rasional adalah bentuk pengetahuan yang menilai (tasdik) realitas objektif konsepsi berdasarkan kriteria (neraca) rasional niscaya/mandiri melalui informasi / pengalaman empiris yang dilakukan / pengetahuan terdahulu. Misalnya apakah panas yang menyebabkan air mendidih? Dengan doktrin rasional kita menilai (tasdik) apakah ada relasi sebab akibat / kausalitas yang niscaya (neraca rasional) antara air, panas dan mendidih. Kita memastikan berdasarkan pengamatan empiris terjadi hubungan air, panas dan mendidih, tetapi hubungan kausalitas yang niscaya (sebab akibat) kita tidak lihat sebagai sebuah hubungan ilmiah. Hal-hal ilmiah menunjukkan terjadinya fenomena berurutan antara air yang dipanaskan kemudian terjadi fenomena mendidih pada air.

Hubungan sebab akibat bukanlah fenomena yang kita lihat / empiris tetapi akal (rasio) memastikan adanya hubungan sebab akibat. Kita tidak melihat secara empiris fenomena mendidih pada air dan panas kecuali setelah dihubungkannya air dan panas kita melihat fenomena mendidihnya bukan fenomena sebab akibat. Sebab akibat yang menjelaskan hubungan air, panas, dan mendidih, tetapi hubungan kausalitas itu bukan fenomena, yang fenomena adalah mendidih. Ada kejadian hubungan kausalitas yang dipahami oleh rasio kita tetapi fenomena hubungan itu secara empiris yang kita lihat adalah fenomena mendidih. Inilah struktur konsep disposesi (sebagaimana dalam penjelasan sesi sebelumnya) yang menjadi dasar tasdik / doktrin rasional.

Dalam pandangan doktrin rasional pengetahuan dibagi atas 2 jenis pengetahuan yaitu pengetahuan niscaya / intuitif dan pengetahuan teoretis. Jenis yang pertama adalah pengetahuan niscaya adalah pengetahuan atau proposisi tertentu yang diterima oleh jiwa manusia tanpa perlu pembuktian apapun akan kelogisannya. Misalnya “satu adalah setengah dari dua”, “air itu panas pada waktu yang sama tidak mungkin air itu dingin (kualitas yang bertentangan (panas-dingin) tidak mungkin selaras dalam satu subjek yaitu pada air dalam contoh tersebut)” Rasio kita menilai (tasdik) tanpa kebutuhan untuk membuktikan keniscayaan konsep tersebut, karena rasio sudah menerima kebenaran proposisi tersebut dengan neraca rasional, inilah doktrin rasional, kalau kita ingin menjelaskan bagaimana terjadinya pengetahuan tersebut itu adalah wilayah konsepsi (tashawwur) bukan doktrin (tasdik).

Jenis yang kedua adalah pengetahuan teoretis yaitu pengetahuan yang kebenarannya yang tidak diyakini langsung oleh jiwa manusia kecuali melalui serangkaian pembuktian melalui pengalaman /keterangan pengetahuan sebelumnya. Tasdik atas pengetahuan teoretis melalui proses pemikiran atas turunan pengetahuan dari kebenaran pengetahuan terdahulu. Misalnya partikel-partikel benda memuai karena panas, jiwa tidak langsung menerima kebenaran proposisi ini kecuali melalui serangkaian pengujian dengan kebenaran pengetahuan terdahulu yang dicapai melalui proses ilmiah /empiris (metodologi). Oleh karena itu, dalam pengetahuan teoretis penilaian akan kebenarannya (tasdik) bergantung pada pengetahuan primer (ilmiah/pengalaman terdahulu). Dengan demikian pengetahuan teoretis adalah aspek metodologi dalam tasdik/doktrin rasional dalam menilai realitas objektif konsepsi berdasarkan kriteria rasional yang niscaya.

M.Baqir Shadr dalam Falsafatuna menyatakan bahwa doktrin rasional menunjukkan bahwa pijakan pengetahuan manusia adalah informasi primer yang dipersepsi /konsepsi dari pengalaman ilmiah / empiris dan atau informasi pengetahuan terdahulu. Dari fondasi konsepsi primer (ilmiah) ini dibangunlah pengetahuan baru yang memiliki konsep sekunder (rasional mandiri). Doktrin rasional menunjukkan keterkaitan antara pengetahuan niscaya, pengetahuan teoretis dan informasi primer (ilmiah). Operasi yang dilalui oleh seseorang untuk menurunkan pengetahuan teoretis dari pengalaman sebelumnya (ilmiah) adalah operasi yang disebut “berpikir”. Berpikir adalah adalah suatu upaya yang dilakukan manusia dengan tujuan memperoleh tasdik baru atas pengetahuan terdahulu.

Menurut saya menarik, bahwa Falsafatuna menjelaskan arti BERPIKIR sebagai kerja pengetahuan teoretis (bukan pengetahuan niscaya) dalam menarik pengetahuan baru (tasdik) dari informasi primer (ilmiah). Dengan penjelasan seperti ini, kita bisa meletakkan tujuan dari kegiatan berpikir adalah mencapai pengetahuan baru melalui relevansi pengetahuan yang ada di tasdik di alam. Berpikir dengan begitu adalah upaya terus menerus menyingkap hal-hal baru yang ada di alam. Berpikir dalam doktrin rasional bukanlah rasionalisasi tetapi berpikir adalah upaya menyingkap realitas baru di alam berdasarkan kriteria rasional. Dengan demikian filsafat Islam dalam Falsafatuna meneguhkan sebuah keterkaitan antara sains (ilmiah) dan filsafat (rasional) sebagai sebuah kerja rasio dalam upayanya untuk berpikir dalam konstruksi pengetahuan teoretis dengan tujuan menemukan pengetahuan baru yang memiliki relevansi dengan alam. Filsafat Islam berarti berpikir dalam konstruksi rasional dan ilmiah. Berpikir dalam filsafat Islam berarti upaya mencari relevansi konsep (rasional) di alam melalui sebuah pengetahuan teoretis yang berpijak pada pengalaman empiris.

Berpikir dalam filsafat Islam (Falsafatuna) memiliki arti dan makna pada realitas objektif, jika berpikir tidak mampu diletakkan hubungannya dalam relevansi alam (ilmiah) dengan kriteria prinsip-prinsip rasional niscaya maka keterkaitan antara filsafat dan sains (ilmiah) tidak ditemukan disposesinya (hubungan konstruksi dan inovasi). Filsafat Islam (Baqir Shadr) menunjukkan keterkaitan yang tidak dapat dilepaskan dari hubungan antara filsafat dan sains. Operasi berpikir rasional dalam doktrin rasional adalah upaya filosofis (rasional ) dan saintifik (ilmiah). Dengan demikian, pengetahuan manusia dalam Falsafatuna memberi manusia kemampuan BERPIKIR hingga sejauh kebenaran dan proposisi (tasdik) yang berada dl luar jangkauan material/ilmiah dari kemungkinan yang ada/melalui hal-hal material (hubungan sains dan filsafat)
Bagaimana halnya dengan konsep/ide Tuhan jika didekati dengan struktur tasdik / doktrin rasional di atas? Sebagaimana dalam struktur konsepsi kita tidak memiliki gambaran ilmiah/empiris tentang Tuhan, yang tersedia secara konsepsi (tashawwur) adalah ide-ide bawaan (innate idea) tentang adanya konsep/ide tentang Tuhan seperti yang diteguhkan oleh Descartes dan Kant. Jika ditasdik, maka ide-ide Tuhan tidak dapat dinilai secara objektif.

Dengan struktur konsep disposesi yang dinilai dengan tasdik / doktrin rasional, maka ide tentang Tuhan harus dijelaskan dalam pengetahuan teoretis berdasarkan data pengetahuan terdahulu / pengalaman empiris. Secara teoretis, filsafat Islam menjelaskan bahwa konsep Tuhan diambil dari pengalaman seorang manusia yang bertemu dengan Tuhannya (dalam data tentang Nabi Muhammad Saw.misalnya). Secara teoretis, data pengalaman Nabi dijadikan acuan untuk mendapatkan penjelasan konsepsional tentang Tuhan dengan melibatkan kriteria-kriteria rasional (logis). Dengan begitu, analisis teoretis tentang konsep Tuhan dalam filsafat Islam dinilai dengan kriteria rasional mandiri melalui data pengalaman ilmiah seorang Nabi yang diakuinya (klaim wakil Tuhan) patut diuji secara pemikiran akan kelogisannya.

Dari sini upaya untuk menemukan realitas objektif dari konsepsi Tuhan melalui sebuah kerangka pengetahuan teoretis sebagai basis BERPIKIR untuk menguraikan kerangka struktur pertemuan dengan realitas objektif kebenaran adanya Tuhan. Struktur teoretis ini diharapkan menjadi penjelasan dalam menganalisis teori kebenaran agama agar pengetahuan kita tentang agama menjadi pengetahuan objektif. Kebenaran objektif agama adalah jalan menemukan kebenaran objektif adanya Tuhan. Agama adalah metode (Filsafat agama / philosophy of religion)

Wallahu'alam bi al-shawab

Salam atas Al Mustafa Muhammad Saw, keluarganya dan para sahabatnya yang setia

No comments:

Post a Comment