Thursday, 7 April 2016

Mencoba Belajar Ngaji Falsafatuna (Ringkasan Sesi 4)

A.M. Safwan - Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari RausyanFikr Yogyakarta

Teori Rasional : Tuhan di antara Descartes dan Kant

Tashawwur/konsepsi/teori rasional menempatkan alam (material) dan ide bawaan sebagai sumber konsepsi. Alam dipersepsi secara inderawi misalnya kita memahami panas, suara. Ide bawaan dipersepsi secara rasional yang berarti pikiran manusia memiliki konsep yang tidak diturunkan dari indera misalnya ide tentang Tuhan, jiwa, gerak. Rene Descartes berasal dari Prancis (1596-1650) dan Immanuel Kant dari Jerman (1724-1804) adalah filsuf yang menjadi peletak dasar teori rasional ini.

Pada Descartes kedua sumber konsepsi tersebut (alam dan ide bawaan) sebagai dua hal yang terpisah dan tidak memiliki kaitan, Descartes sebagaimana Platon menerima dualitas antara jiwa (rasio) dan tubuh (alam material) sedangkan Kant mensintesiskan antara rasio dan alam. Jadi Kant pada sisi ini tidak Platonik.

Pada Descartes ide bawaan itu adalah konsep yang sudah jelas, pada Kant ide bawaan itu belum menjadi konsep yang jelas. Kant menolak pandangan ide bawaan sejak lahir sebagai sesuatu yang murni (critique of Pure Reason). Kant mengartikan ide bawaan bukan pengetahuan a priori sebagaimana Descartes. Konsep yang diterima dari ide bawaan menurut Kant masih merupakan struktur formal dan alamiah pemahaman, konsep yang diterima dari alam masih merupakan objek-objek yang belum memiliki tatanan dan aturan, setelah disintesiskan dengan ide bawaan yang belum jelas barulah konsepsi hubungan antara konsep dari alam dan ide bawaan menjadi jelas. 12 kategori Kant adalah ide bawaan yang belum jelas tersebut, setelah mengambil bahan dari alam (sintesis) barulah muncul konsep yang jelas yang dikembangkan dari sintesis tersebut.

Dengan gambaran di atas saya memahami bahwa konsep Tuhan pada Descartes adalah ide bawaan yang sudah jelas, artinya manusia menerima konsep/ide itu sejak lahir sebagai sesuatu yang sudah jadi, sedangkan Kant tidak menerima Konsep Tuhan sebagai produk rasio murni. Konsep Tuhan pada Descartes tidak terkait dengan alam, oleh karena dualitas pemahamannya. Pada Kant, konsep/ide Tuhan bukan konsep yang sejak awal ada pada diri manusia, tetapi adalah upaya manusia melakukan pencarian (sintesis) di alam. Saya berpendapat konsep Tuhan Kant lebih progressif, kritis dan kreatif-imajinatif sedangkan pada Descartes konsep Tuhan yang diterima cenderung dogmatis, oleh karena kita tidak tahu bagaimana ide itu bisa ada di konsep manusia, pokoknya sudah ada. Inilah dogma ketuhanan yang agak aneh yang muncul dari klaim rasionalitas Descartes yang dianggap sebagai peletak dasar filsafat di Eropa.

Rasionalitas konsep Ketuhanan Kant yang diselesaikan dengan pendekatan sintesis dalam mencari hubungan antara konsep yang didapatkan dari alam dan ide bawaan berakhir pada pemahaman analitik (yang tidak tersentuh dalam hubungan rasio dan alam). Ini menarik, sekalipun Kant menolak dualitas Platonik tetapi konsep sintesisnya dalam pencarian konsep Tuhan (hal-hal non material) berakhir pada analitik (yang tidak tersentuh/diketahui setelah melalui proses sintesis tersebut). Secara sederhana, rasionalitas konsep Kant terhadap ide Tuhan berakhir pada analitik yang menetapkan bahwa ide Tuhan dan hal-hal metafisika tidak ditemukan sebagai hasil sintetik. Di sini Kant memiliki “kesamaan arketipe” dengan Platon, bedanya pada prosesnya, kalau Platon dengan pemisahan (dualitas) sedangkan pada Kant melalui sintetik.

Jadi tampaknya ada relevansi yang menarik pada konsepsi Kant tentang Tuhan yang analitik melalui proses sintetik dengan filsafat Islam dalam pemikiran Baqir Shadr yang mirip dengan teori gerak substansial pada materi – al harakah al jauhariyyah ).

Salam atas Al Mustafa Muhammad Saw, keluarganya dan para sahabatnya yang setia.

Wallahu'alam bi al-shawab

No comments:

Post a Comment