Wednesday, 13 April 2016

Mencoba Belajar Ngaji Falsafatuna (Ringkasan Sesi 13 & 14)


Doktrin Empiris versus Doktrin Rasional: Kausalitas, Fenomena, dan Realitas Objektif Tuhan

A.M. Safwan- Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari – RausyanFikr Yogyakarta


Doktrin / tasdik empiris tidak dapat mendemonstrasikan prinsip kausalitas dan tidak mampu memberikan suatu penilaian logis kausalitas sebagai suatu ide dan akhirnya doktrin empiris tidak bisa menjadikan prinsip kausalitas sebagai ide yang dapat ditasdik. Artinya bahwa penilaian dengan kriteria empiris/pengalaman atas prinsip kausalitas (hubungan sebab akibat) harus senantiasa dapat dipersepsi secara inderawi, padahal hubungan air dan api dalam mendidihnya air karena dipanaskan dengan api adalah hubungan yang dapat dilihat secara inderawi sebagai serangkaian fenomena setelah / melalui pengalaman memanaskan air. Tetapi apakah ketika kita melihat fenomena air dan api otomatis kita akan melihat secara inderawi adanya keadaan mendidih sebelum air dipanaskan?

Tentu saja kita tidak akan pernah mempersepsi secara inderawi fenomena mendidihnya air tanpa proses pemanasan, itu berarti doktrin empiris tidak dapat menggunakan dalil pengalaman mendidihnya air tertentu untuk mentasdik /menilai keniscayaannya setiap air dan api sebagai hubungannya mendidih sebelum pengalaman, karena tanpa dipanaskannya air kita tidak melihat fenomena mendidih. Inilah arti bahwa doktrin empiris tidak dapat meniscayakan kausalitas kecuali jika ada pengalaman. Padahal dalam doktrin rasional, ketiadaan pengalaman memanaskah air juga menjadi bukti adanya ide kausalitas, SEBAB tidak dipanaskannya air AKIBATnya air tidak mendidih (tanpa pengalaman/ non empiris/non ilmiah). Dengan demikian, kausalitas terjadi sekalipun tanpa pengalaman / fenomena. Bahwa fenomena dapat menjadi jalan menilai adanya kausalitas adalah hal yang tak terbantahkan, tetapi kausalitas bukan fenomena.

Dalam Falsafatuna (M.Baqir Shadr) menjelaskan adanya subjek perselisihan mengenai ide dan pengalaman terjadinya kausalitas yaitu bahwa kausalitas bukanlah hal yang niscaya dalam pengalaman empiris juga bukan keniscayaan dalam ide, tetapi ia hanyalah kesan / asosiasi pikiran atas pengalaman yang berulang-ulang atas sejumlah fenomena (David Hume dan John Stuart Mill). Dalam menanggapi hal ini, M.Baqir Shadr menyatakan, kalau kausalitas adalah ide asosiasi yang diambil dari pengalaman yang berulang-ulang. Dengan dasar ini, kita telah mendapatkan asosiasi relasi sebab akibat antara fenomena, apakah asosiasi ini menjadi dasar yang akan memperkuat relasi kausalitas dengan pengalaman relasi secara berulang-ulang. Tentu ide asoasiasi tidak diperkuat dengan pengalaman berulang-ulang, karena asosiasi hanyalah kesan bukan realitas. Jadi semakin kuat pengalaman menjelaskan hubungan fenomena dalam realitas, asosiasi tidak menjadi kuat, karena sekali lagi asosiasi hanyalah kesan dalam pikiran bukan realitas. Misalnya, jika ada kesan pada diri kita dari pengalaman tentang baiknya seorang pejabat pemerintah. Asosiasi yang berulang-ulang tidak memperkuat kesan niscaya tentang baiknya seorang pejabat pemerintah, jika saja satu kejadian yang bertentangan dengan penilaian baik tersebut maka bisa menggugurkan penilaian baiknya secara niscaya seorang pejabat pemerintah selama ini.

Dengan dalil doktrin empiris bahwa pengalaman sumber niscaya pengetahuan, maka ide asosiasi tentang relasi sebab akibat bukanlah keniscayaan dan ini akan menjadi dasar gugurnya doktrin empiris yang menyatakan kausalitas adalah fenomena, sekaligus melemahkan ide asosiasi sendiri yang mengambil asosiasi / kesan tersebut dari pengalaman, bukankah pengalaman (dalam asosiasi ide ini) bukan sumber keniscayaan, dengan begitu asosiasi tidak dapat diniscayakan sebagai sebuah doktrin oleh karena pengalamanpun bukan sumber keniscayaan.

Bagaimana halnya kausalitas dalam ide yang niscaya dalam doktrin rasional, dengan ide asosiasi yang menolak keniscayaan kausalitas dalam ide? Falsafatuna menjelaskan, adanya ide sebab dan ide akibat dalam pikiran David Hume (sebagai tokoh yang memiliki pandangan asosiasi) kemudian menghubungkannya kedua ide tersebut (sebab dan akibat) sebagai asosiasi. Apakah asosiasi sebab dan akibat tersebut adalah relasi yang niscaya, kalau niscaya, gugurlah pengalaman sebagai keniscayaan. Kalau ide asosiasi ini tidak niscaya dalam relasi ide sebab dan ide akibat, maka David Hume tidak berhasil mempertahankan argumentasinya menolak kausalitas sebagai keniscayaan dalam pengalaman dan keniscayaan kausalitas sebagai ide/konsepsi. Oleh karena penolakan terhadap hal-hal niscaya tidak dapat dilakukan oleh karena doktrin penolakannya juga tidak dapat diniscayakan dalam ide asosiasi ini.

Dalam doktrin rasional, keniscayaan kausalitas dalam ide dapat dinilai / ditasdik ke realitas objektif ada atau tidaknya fenomenanya, sebagaimana telah saya sebutkan di atas, artinya ide sebab dan ide akibat berhubungan secara niscaya dan sifat keniscyaan ini bukan dbangun dengan dorongan psikologis kita sebagai manusia tetapi hubungan sebab akibat terjadi secara niscaya dalam realitas. Dengan demikian kausalitas adalah keniscayaan objektif bukan dorongan / tendensi psikologis kita.
Sebagai contoh, fenomena gerakan tangan dan gerakan spidol ketika tangan memegang spidol dan menggerakkannya, secara fenomena gerakan tangan terjadi bersamaan dengan gerakan tangan, tampak secara inderawi kita tidak melihat relasi kausalitas (doktrin empiris), tetapi dengan doktrin rasional, akal kita memahami bahwa SEBAB gerak tangan akibatnya terjadi gerak pada spidol, jadi akal kita mampu mentasdik /menilai bahwa gerak tangan adalah yang prioritas aktual baru gerakan pada spidol padahal secara fenomena keduanya (gerak tangan dan gerak spidol) tampak bergerak bersamaan. Di sinilah kausalitas dalam doktrin rasional dapat meniscayakan kejadian kausalitas dalam realitas objektif sekalipun fenomenanya tidak tampak.

Bisa jadi paling tidak sebagai sebuah hipotesis : Tuhan / Allah SWT adalah realitas objektif sekalipun Dia bukan fenomena yang dapat dipersepsi secara inderawi. Jadi objektivitas tidak selalu hanya berhubungan dengan hal-hal yang inderawi.

Wallahu'alam bi al-shawab
Salam atas Al Mustafa Muhammad Saw, keluarganya dan para sahabatnya yang setia

No comments:

Post a Comment