Friday, 8 April 2016

Mencoba Belajar Ngaji Falsafatuna (Ringkasan Sesi 6 & 7)

A.M. Safwan- Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari – RausyanFikr Yogyakarta

Filsafat Islam: Teori Disposesi, Kausalitas dan Tuhan

Tashawwur/konsepsi/teori disposesi adalah teori pengetahuan yang digunakan M.Baqir Shadr dalam Falsafatuna yang menjelaskan terjadinya konsep melalui konstruksi dan inovasi pengetahuan (al nazhariah al intidza’) dari konsep yang dihasilkan persepsi secara inderawi (konsep primer) yang melalui hubungan sebab akibat (kausalitas), hubungan sebab akibat tersebut adalah konsep yang dihasilkan pikiran yang berasal dari persepsi rasional secara mandiri (konsep sekunder).

Konsepsi primer (alam sebagai sumber konsepsi) adalah fondasi konseptual pikiran manusia yang dihasilkan dari persepsi inderawi secara langsung. Jadi kita memahami panas karena kita mengetahuinya melalui persepsi inderawi melalui perabaan/sentuhan, kita memahami warna melalui persepsi inderawi dengan penglihatan, hal yang sama berlaku pada semua konsep yang dipersepsi melalui sarana inderawi kita.

Konsepsi sekunder (rasio/ide sebagai sumber konsepsi) adalah konsepsi / ide yang ada dalam pikiran kita sebagai akibat dari persepsi inderawi (konsepsi primer). Dari fondasi konseptual konsep primer ini pikiran membangun konsepsi sekunder.

Dengan demikian konsep/ teori disposesi ini mendudukkan hubungan terjadinya konsep / ide dalam pikiran manusia melalui hubungan sebab akibat antara konsep yang ada dalam pikiran manusia (sebagai akibat) yang dihasilkan dari persepsi inderawi (sebagai sebab). Hubungan antara konsep/ ide yang ada dalam pikiran manusia (konsepsi primer). Inilah fondasi utama terjadinya konsep/ide. Atas dasar ini kemudian pikiran manusia membangun konsep sekunder.

Sebuah gambaran sederhana untuk memahami teori disposesi tersebut. SEBAB kita mempersepsi panas dengan perabaan (tangan) secara langsung terhadap objek yang panas, AKIBAT dari persepsi inderawi ini (perabaan) munculllah ide/konsep dalam pikiran kita sebagai ide/konsep panas, ini yang disebut konsepsi primer (ide panas). Melalui hubungan SEBAB AKIBAT ini muncullah konsepsi sekunder tentang ide /konsep hubungan sebab akibat (KAUSALITAS). Jadi pikiran kita memahami fenomena panas melalui hubungan sebab akibat (konsep primer), dari ide/konsep panas yang terpahami melalui sebab akibat yang merupakan konsep yang dihasilkan dari rasio manusia secara mandiri.

Teori disposesi ini (al nazhariah al intidza’) mendudukkan bahwa konsep/ide terjadi dalam hubungan konstruksi dan inovasi konsep (disposesi) dari alam dan rasio. Jadi mirip seperti teori rasional yang menjadikan alam dan rasio sebagai sumber konsep, perbedaannya, teori rasional menempatkan keduanya sebagai sumber konsepsi yang terpisah dalam menghasilkan ide/konsep dalam pikiran manusia, sementara dalam teori disposesi menjadikan alam dan rasio sebagai sumber terjadinya konsep yang tidak terpisahkan, terjadinya konsep merupakan hubungan pembentukan dari kedua sumber konsep tersebut (alam dan rasio).

Konsep kausalitas dengan demikian adalah konsep terdisposesi dari hubungan konsep primer (alam sebagai sumber konsep) dengan konsep sekunder (rasio sebagai sumber konsepsi). Inilah penjelasan konsep/teori disposesi. Dalam teori rasional, kausalitas hanya konsep yang terjadi dari murni dari ide bawaan (innate idea) atau rasio. Teori empiris memahami konsep kausalitas sebagai konsep yang dihasilkan dari alam. Secara sederhana, kausalitas terjadi di alam dalam teori empiris, sedangkan teori rasional menjelaskan bahwa konsep kausalitas adalah konsep yang murni berasal dari rasio (ide bawaan/innate idea). Teori disposesi sebagai teori yang dianut Falsafatuna, menjelaskan bahwa kausalitas terjadi dalam hubungan pembentukan konsep yang berasal dari alam dan rasio.

Alam (material) sebagai sumber konsepsi diterima oleh semua teori yang ada (Alam Ide, Rasional,Empiris, Disposesi). Perbedaan keempat teori tersebut dalam menempatkan posisi rasio. Jadi secara teori, pengertian rasional keempat teori tersebut berbeda. Rasionalitas dalam teori Alam Ide (Platon) berarti sesuatu yang terpisah dari pikiran manusia, karena rasionalitas adalah pikiran keabadian/permanen (arketipe). Rasionalitas dalam teori Rasional berarti pikiran manusia yang terpisah dengan pandangan alam (ilmiah). Rasionalitas dalam teori empiris berarti pikiran terhadap hal-hal yang ilmiah/inderawi. Teori disposesi sendiri adalah teori yang menempatkan rasionalitas sebagai pikiran manusia yang tidak memisahkan pandangan ilmiah dan pandangan rasional. Menjadi rasional dalam teori disposesi berarti mendudukkan hubungan ilmiah dan rasional.

Pengertian rasional yang berbeda antara keempat teori tersebut tentu berimplikasi sangat berbeda dan jauh terpisah. Terutama jika bertanya bagaimana Rasionalitas hal-hal yang metafisik (seperti Tuhan). Tuhan dalam teori Platon berarti tidak dapat dijangkau pikiran manusia. Tuhan dalam teori Rasional berarti adalah produk pikiran manusia saja sedangkan realitas tidak dapat tersentuh secara ilmiah (tidak berhubungan dengan alam). Tuhan dalam teori empiris berarti sesuatu yang bukan hanya tidak dapat dipikirkan juga tidak dapat dikaitkan dengan alam.

Tuhan dalam teori disposesi adalah sebuah konsep yang dapat dipikirkan manusia melalui pemahaman teori kausalitas di rasio manusia yang dikaitkan keberadaan Tuhan dalam hubungan yang tidak terpisahkan di alam. Jadi Tuhan dalam teori disposesi dapat didekati dengan pikiran manusia untuk memahami Tuhan dalam hubungan yang tidak terpisahkan dengan segenap apa yang ada di alam.

(Maka ke mana pun engkau menghadap, di situlah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (meliputi) dan Maha Mengetahui-Q.S. al-Baqarah:115).
Tuhan dalam teori disposesi adalah sebuah konsep dan realitas yang terpahami ADANYA sebagai sesuatu yang tidak terpisah hubungannya dengan realitas alam.
..dan RahmatKu meliputi segala sesuatu (Q.S. al-A’raf:156)
Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin, dan Dia 
Maha Mengetahui SEGALA SESUATU (Q.S. al-Hadid:2-3)

Pada akhirnya teori Disposesi kita tentang Tuhan adalah bahwa PengetahuanNya adalah SEGALA SESUATU

Wallahu'alam bi al-shawab

Salam atas Al Mustafa Muhammad Saw, keluarganya dan para sahabatnya yang setia.

No comments:

Post a Comment