Wednesday, 13 April 2016

Mencoba Belajar Ngaji Falsafatuna (Ringkasan Sesi 12)

Bagian 2
Doktrin Empiris: Materi, Kemustahilan, dan
Kemungkinan adanya Tuhan

A.M. Safwan- Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari – RausyanFikr Yogyakarta



Sebagaimana telah disampaikan pada sesi sebelumnya bahwa doktrin/penilaian / tasdik empiris menjadikan pengalaman ilmiah sebagai hasil persepsi inderawi / material sebagai kriteria / neraca satu-satunya yang menjadi dasar pengetahuan yang diterima sebagai kebenaran. Dengan demikian, hal-hal yang di luar pengalaman inderawi menurut doktrin empiris bukanlah wilayah pengetahuan yang dapat dinilai kebenarannya dalam realitas objektif. Jadi ide Tuhan misalnya, sekalipun diantara kaum empiris seperti John Locke meyakini Tuhan, tetapi Tuhan berada di luar batas-batas inderawi / empiris maka Tuhan tidak berkaitan dengan pengetahuan yang dapat dinilai dalam realitas objektif. Dengan pengertian ini, maka doktrin empiris menilai pengetahuan terbatas pada hal-hal material.
Persoalannya, apa yang dimaksud dengan objek-objek ilmiah/material ?

Dalam Falsafatuna (M.Baqir Shadr), doktrin empiris tidak dapat mengafirmasi (menetapkan/menilai) hal-hal yang material. Artinya, materi dari sebuah objek yang dipersepsi secara inderawi tidak diungkap dengan pengalaman murni. Segala yang tampak dalam persepsi inderawi adalah fenomena dan aksiden dari materi bukan materi sebagai materi itu sendiri (substansi). Sebagai contoh, jika kita bertanya apa materi dari spidol, kita akan menilai/tasdik bahwa plastik, tinta,kapas tempat tinta sebagai materi pembentuk spidol (materi spidol). Jika plastik atau tintanya diambil apakah berarti plastik atau tinta itu adalah bagian dari spidol, tentu iya, inilah arti bahwa materi itu (plastik atau tinta) adalah aksiden dari spidol bukan substansi, karena substansi berarti sesuatu /materi yang tidak dapat dillepaskan dari spidol, tetapi karena plastik dan tinta bisa dilepaskan dari spidol maka ini yang disebut aksiden materi bukan substansi materi. Jadi apa yang inderawi adalah aksiden dari materi (plastik,tinta) bukan substansi dari materi spidol (yang tidak bisa dilepaskan dari spidol).

Rasionalitas adalah satu-satunya neraca / kriteria yang dalam contoh ini untuk menilai materi dari spidol dalam arti substansi spidol sedang doktrin empiris terbatas pada aksiden spidol (plastik,tinta). Seandainya bukan substansi spidol (doktrin rasional) tentu kita tidak akan bisa menilai tinta dan plastik (doktrin empiris), karena kedua aksiden materi spidol tersebut berada pada kespidolan (sebagai substansi materi). Dengan demikian masalah material dapat dinilai /ditasdik dengan pendekatan rasional (pada substansi materi) dan pendekatan ilmiah (pada aksiden materi). Tentu ini menarik bahwa masalah material terkait dengan pengungkapan secara ilmiah dan juga rasional. 

Sebagaimana misalnya dalam buku terkenal Ibn Khaldun berjudul Muqaddimah pada awal pembahasan, bahwa sejarah ada yang material (ilmiah) dan ada yang filosofis (rasional). Sejarah yang seringkali hanya dikaji dalam wilayah ilmiah juga mengandung hal-hal yang tidak ilmiah (filosofis). 
Secara sederhana, bisa kita katakan bahwa dalam sejarah yang ilmiah mengandung juga /tidak lepas dari kontruksi interpretasi yang merupakan wilayah persepsi (rasional).

Kita bisa memberi analisis atas kritik Falsafatuna terhadap doktrin empiris bahwa substansi materi (hal-hal yang tidak diinderawi /rasional) adalah realitas yang tidak dapat dipisahkan dengan aksiden dari materi (yang diinderawi/ilmiah). Dengan demikian di alam ini terdapat hal-hal yang bisa diinderawi dan terdapat juga hal-hal yang tidak dapat diinderawi. Secara sederhana, di alam / realitas ini ada hal yang bersifat material (aksiden materi/ilmiah) dan ada hal-hal yang bersifat non material (substansi materi / rasional). Bisa kita katakan keduanya (materi dan non materi) adalah realitas objektif di alam / dunia ini. Jadi penolakan hal-hal yang nonmaterial di alam ini (metafisika) misalnya tentang Tuhan,malaikat adalah hal yang tidak rasional. Keberadaan Tuhan / Allah SWT dalam struktur tersebut dapat kita katakan bukan HAL YANG MUSTAHIL (jelas kita meyakini adanya Tuhan sebagai realitas dan bukan semata konstruksi pikiran manusia) jika kita berdiskusi dengan kaum empiris. Hal-hal yang nonmaterial / metafisik bukanlah hal yang mustahil, paling tidak dimulai dari sini sebagai sebuah hipotesis awal tentang adanya Tuhan / Allah SWT dan hal-hal nonmaterial/metafisika lainnya dalam dialog dengan kaum empiris.

Kemustahilan dalam arti ketidakmungkinan adanya sesuatu/ hal-hal nonmaterial-substansi materi tidak dapat dinilai/tasdik oleh doktrin empiris oleh karena kriteria kebenaran dalam doktrin empiris hanya dapat diketahui melalui pengalaman ilmiah / inderawi, sedangkan hal-hal yang belum ada / tidak ada tentu tidak dapat dinilai/tasdik dengan doktrin empiris, bagaimana yang belum terjadi dan bahkan tidak ada bisa dijadikan landasan pengalaman ilmiah / inderawi karena memang belum terjadi. Dengan demikian doktrin empiris tidak dapat menilai selain sebatas yang terjadi/sudah terjadi, yang belum terjadi / tidak terjadi bukan wilayah doktrin empiris. Jadi tidak bisa dalam doktrin empiris (jika mereka konsisten dengan asas empiris) berhubungan dengan hal-hal yang tidak mustahil adanya/ hal -hal yang mungkin ada atau yang mungkin terjadi. Kalau mereka menilai hal-hal yang belum terjadi maka tentu doktrin empiris keluar dari asasnya sendiri (inkonsistensi pengetahuan).

Kita bisa mengatakan kepada kaum empiris, bahwa Tuhan ada. Mereka tidak boleh menolak oleh karena doktrin empiris kriteria / neracanya adalah hal-hal yang inderawi sedangkan Tuhan adalah sesuatu yang non inderawi. Artinya Tuhan tidak bersentuhan dengan pengalaman inderawi, bagaimana bisa doktrin empiris menilai/tasdik dengan menolak hal yang tidak dialami / berdasarkan pengalaman, bukankah yang mereka nilai /tasdik adalah hal-hal yang berdasarkan pengalaman inderawi. Di sini doktrin empiris tampaknya perlu membuka diri kepada doktrin rasional (filsafat Islam / pandangan dunia agama).

Wallahu'alam bi al-shawab

Salam atas Al Mustafa Muhammad Saw, keluarganya dan para sahabatnya yang setia

No comments:

Post a Comment