Thursday, 7 April 2016

Mencoba Belajar Ngaji Falsafatuna (Ringkasan Sesi 3)


A.M.Safwan-Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari RausyanFikr Yogyakarta

Konsepsi, Platon dan Tuhan

Tashawwur/konsepsi/teori Platon (di Indonesia filsuf Yunani ini populer di kenal dengan nama Plato) adalah teori Alam Ide (arketipe). Pengetahuan dalam pandangan Platon adalah fungsi mengingat kembali (rasio sebagai alat/ praktis). Alam ide (Arketipe) Platon adalah jiwa yang terpisah dari tubuh (hal-hal material). Pada Arketipe ada sifat dan kualitas permanen, abadi. Jiwa memiliki keberadaan independen jauh sebelum adanya tubuh.

Konsep/teori Platon berasal dari Arketipe ini yang bersifat universal abstrak. Saat jiwa "menyatu" dengan tubuh maka arketipe yang diketahui jiwa (hal-hal yang tetap/permanen/keabadian) kemudian tidak diingat lagi (lupa), Arketipe ini berada di luar pikiran/rasio manusia. Artinya pengetahuan Arketipe ini oleh Jiwa bukan pengetahuan rasional tetapi mungkin bisa kita istilahkan "pengetahuan ilahiah/ketuhanan" karena berhubungan dengan keabadian-Tuhan. Arketipe ini mungkin seperti 'Ayana Tsabitah dalam istilah Ibn 'Arabi.

Pengetahuan Arketipe (alam ide) yang telah terlepas dari jiwa akibat jiwa 'menyatu' dengan tubuh (materi) dapat diketahui kembali oleh jiwa dengan persepsi indera mengenai hal-hal yang spesifik dan partikular di alam material (teori Pengingatan Kembali). Jadi ketika jiwa yang 'bersatu' dengan tubuh mencoba menyerap aspek-aspek tertentu di alam, misalnya pengetahuan spesifik kita secara inderawi atas manusia tertentu dan manusia tertentu lainnya kemudian kita menjadi ingat realitas abstrak manusia universal di Arketipe (alam ide). Persepsi tentang manusia universal tidak terealisasikan kecuali dengan pengingatan kembali sebagai upaya menarik kembali pengetahuan jiwa tentang manusia universal sebelum 'menyatu' dengan tubuh.

Dari Pandangan Platon yang dideskripsikan struktur utamanya oleh Ayatullah Baqir Shadr, kemudian saya adaptasikan pokok-pokok pembahasannya dapat kita beri catatan sebagai berikut:

  1. Pandangan bahwa Jiwa memiliki keberadaan independen yang terpisah dari tubuh. Jiwa lebih tinggi dari tubuh (hal-hal material)
  2. Konsep/teori yang ada dalam benak kita dapat berhubungan dengan Arketipe (alam ide) yang memiliki hal-hal yang permanen,abadi dengan upaya kita melepaskan kembali hubungan jiwa dengan tubuh (hal-hal material)
  3. Konsep Platon yang menetapkan keadaan dualitas jiwa dengan tubuh meniscayakan munculnya pertanyaan apa yang menghubungkan jiwa dan tubuh sehingga mampu berhubungan? Atau apa hubungan jiwa dan tubuh ? Tampaknya teori Platon tidak cukup argumen menjelaskan secara masuk akal hubungan jiwa dan tubuh. Sehingga dualitas dan kemudian hubunganya serta keterpisahannya kembali seolah berlangsung begitu saja tanpa ada penjelasan bagaimana proses itu berlangsung. Apakah proses itu berlangsung dengan syarat jiwa atau syarat tubuh (material) atau keduanya, jika keduanya bisa berhubungan apa yang menghubung jiwa dengan tubuh
  4. Pandangan Filsafat Islam yang diuraikan Baqir Shadr menolak teori Platon tentang dualitas oleh karena jiwa dalam pengertian rasional bukanlah sesuatu yang ada dalam bentuk abstrak dan mendahului keberadaan tubuh, melainkan hasil dari gerakan substansial (al harakah al jauhariyyah) dalam materi (tubuh). Dengan begitu, dapat kita pahami bahwa pencapaian konsep jiwa yang universal diawali dari gerakan jiwa pada sesuatu yang bersifat dan berciri material. Secara sederhana saya mungkin bisa menyatakan bahwa gerak tubuh adalah gerak jiwa permulaan menuju apa yang di idealkan oleh jiwa. Tetapi semua dimulai dari kondisi material (tubuh)
  5. Jika kita mencoba memahami posisi konsep Platon di atas dan mengaitkan dengan pandangan Baqir Shadr, maka Jiwa kita dapat saja menyentuh konsep keabadian (Tuhan) sekalipun konsep Tuhan (Arketipe) ini masih dibatasi oleh kondisi tubuh (material). Dengan jiwa yang memiliki Arketipe maka menjadi tuntutan jiwa kita (Jiwa keabadian)untuk berproses menuju Tuhan (realitas kebadian) melalui perjalanan dinamika / proses material.

Penjabaran ini mungkin lebih relevan secara epistemologi karena mengandaikan adanya pijakan ilmiah sebagai suatu pengkondisian jiwa menemukan Arketipenya dengan peran hal-hal material. 

Sesuatu yang sulit dipisahkan manusia dengan fakta fisik materialnya yang memiliki sifat gerak. Buat saya ini memiliki penjelasan yang lebih realistis terhadap hubungan jiwa dan tubuh. Jadi, bukan jiwa ke tubuh, tetapi keberadaan jiwa bersama tubuh (material), dengan gerak materi (al harakah al jauhariyyah) jiwa berproses menuju arketipe (keabadiannya) melalui pengkondisian secara material.

Hal ini dapat lebih relevan dalam menjelaskan hubungan pengabdian dan penyembahan kepada Tuhan melalui aktifitas ibadah secara fisik / material seperti shalat dan puasa. Sebuah aplikasi yang menarik dalam menetapkan teori gerak substansial (al harakah al jauhariyyah) pada pandangan dunia agama.

Inilah mungkin pemaknaan yang lebih dekat kepada Allah yang Lahir dan Batin adalah dua hal yang tak terpisahkan (tasybih dan tanzih)

Salam atas Al Mustafa Muhammad Saw, keluarganya dan para sahabatnya yang setia.

Wallahu'alam bi al-shawab

No comments:

Post a Comment