Friday, 8 April 2016

Mencoba Belajar Ngaji Falsafatuna (Ringkasan Sesi 5)

A.M. Safwan-Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari Yogyakarta

Teori Empiris: Kausalitas dan Tuhan

Tashawwur/konsepsi/teori empiris menempatkan alam sebagai satu-satunya sumber konsepsi yang menjadi dasar / fondasi ilmu pengetahuan melalui persepsi inderawi. John Locke (1632-1704) adalah seorang filsuf Inggris yang mengembangkan pertama kali teori ini. Locke menolak teori ide bawaan (Descartes dan Kant), menurutnya ide/konsepsi yang berasal dari luar pengalaman inderawi tidak bisa diciptakan oleh jiwa, tidak pula dikonstruksi secara esensial dan mandiri. Pikiran hanya menerima dan mengelola konsepsi dari ide yang bisa diindera (persepsi inderawi).

Jadi, dalam teori empiris, langkah pertama dalam proses memperoleh pengetahuan adalah kontak pertama dengan lingkungan eksternal (persepsi inderawi). Langkah kedua adalah akumulasi, rangkaian dan pengorganisasi informasi yang kita kumpulkan dari persepsi inderawi. Teori empiris fokus pada eksperimen, karena menurut mereka eksperimen sains telah menunjukkan bahwa indera memberikan persepsi yang menghasilkan konsepsi.

Teori ini kelak diadopsi dengan cara yang ekstrem oleh George Berkeley (1685-1753). Filsuf Irlandia ini menyatakan apa yang disebut Locke sebagai kualitas primer atau objektif seperti jarak, ukuran, dan situasi hanya ada dalam pikiran. Ada/realitas ialah sesuatu yang hadir dalam pikiran menjadi suatu ide. Filsuf Skotlandia, David Hume (1711-1776) menyatakan bahwa pengalaman (hasil persepsi inderawi) mengandung kesan dan idea. Pengalaman menghasilkan kebiasaan pada diri kita yang menyebabkan dikaitkannya dua peristiwa berurutan sebagai sebab akibat. Jadi Hume menyatakan perbedaan mendasar antara fakta material yang berurutan sebagai relasi ide-ide (sebab akibat).

Hubungan sebab akibat (kausalitas) dalam teori empiris dipandang sebagai konsepsi yang berasal dari persepsi inderawi. Sedangkan dalam teori rasional, kausalitas adalah ide bawaan yang mandiri dalam pikiran manusia yang tidak dihasilkan dari pengalaman inderawi. Bagaimana Falsafatuna (M.Baqir Shadr) menempatkan perbedaan konsepsi ini dalam memandang hukum kausalitas?

Filsafat Islam menyimpulkan bahwa kausalitas sebagai sebuah konsepsi yang dibentuk dari penilaian (hukum) akan fenomena adalah satu hal, kausalitas sebagai sebuah ide (mandiri) adalah hal lain. Jadi persepsi inderawi menunjukkan secara ilmiah terjadinya hubungan kausalitas, pada sisi lain, ide bawaan (kemandirian rasional) menyatakan terjadi atau tidaknya hubungan kausalitas secara ilmiah,pada wilayah ide,kausalitas tetap akan terhukumi dalam pikiran kita.

Sebuah analogi, hubungan antara air dan api. Secara ilmiah (persepsi inderawi), jika air dipanaskan (didekatkan dengan api) maka berdasarkan pengalaman/hasil eksperimen, air akan mendidih (terjadi kausalitas ilmiah antara air dan api), jika air tidak dipanaskan maka tidak terjadi hubungan kausalitas ilmiah-mendidih, antara air dan api. Jadi kausalitas dalam teori empiris bergantung pada hasil eksperimen. Secara rasional, kausalitas sebagai ide memandang bahwa hubungan kausalitas terjadi dalam hubungan air dan api apakah air menjadi mendidih atau tidak mendidih tetap saja hukum kausalitas berlaku. Sebab air dipanaskan akibatnya air mendidih (terjadi kausalitas), pada sisi lain, sebab air tidak dipanaskan maka akibatnya air tidak mendidih (ide tetap menilai kausalitas tetap terjadi sekalipun eksperimen tidak menguji hubungan air dan api).

Apa yang dapat kita analisa dalam hubungannya dengan konsep Tuhan? Dengan pendekatan konsep/teori empiris jelas kita tidak menemukan penjelasan konsep Tuhan berasal dari persepsi inderawi. Teori empiris tidak menjadikan konsep Tuhan sebagai bagian dari teori pengetahuan mereka. Dapat kita katakan, dengan struktur konsep empiris bahwa ide / pikiran tentang Tuhan tidak memiliki kaitan dengan permasalahan epistemologi. Epistemologi tidak akan bisa sampai kepada ide tentang Tuhan. Fondasi pengetahuan manusia tentang Tuhan tidak akan tersentuh dalam struktur epistemologi manusia. Jadi konsep Ketuhanan bukan masalah yang dapat ditemukan melalui struktur epistemologi yang berdasarkan pada struktur pengetahuan manusia.

Jelas, teori empiris dapat kita pastikan menerima ide tentang Tuhan adalah dogma yang diterima manusia sebagai keyakinan/Iman yang tidak memiiki kaitan dengan pengetahuan manusia. Jika pengetahuan berbicara tentang alam inderawi dalam teori empiris, maka ide tentang Tuhan tidak terkait sama sekali di alam. Secara sederhana, dengan pendekatan teori empris, kita tidak boleh mengaitkan Tuhan dengan fenomena ilmiah ini. Jadi dengan teori ilmiah Locke dan teman-temannya akan menyatakan bahwa kita jangan bawa-bawa Tuhan di alam sebagai sebuah kerangka pandangan dunia.

Salam atas Al Mustafa Muhammad Saw, keluarganya dan para sahabatnya yang setia.
Wallahu'alam bi al-shawab

Bismillah

No comments:

Post a Comment