Wednesday, 27 April 2016

Mengenang Sayyidah Zainab cucu Nabi Muhammad Saw Putri Fatimah Az Zahra dan Imam Ali bin Abi Thalib /15 Rajab

Sayyidah Zainab; Perempuan dan Keadilan Sosial

A.M.Safwan – Pengasuh Ponpes Mahasiswa Madrasah
Muthahhari RausyanFikr Institute Yogyakarta

*) Materi kajian yang disampaikan dalam rangka mengenang salah satu sosok Perempuan Islam Sayyidah Zainab cucu Nabi Muhammad Saw Putri Fatimah Az Zahra dan Imam Ali bin Abi Thalib


Sayyidah Zainab adalah saudara al Husain putra Imam Ali bin Abi Thalib dan Ibundanya adalah Fatimah Az Zahra Putri Nabi Muhammad Saw. Sayyidah Zainab dilahirkan 5 tahun setelah hijrah Nabi ke Madinah. Ketika Zainab dilahirkan, Imam Ali dan al Husain turut bersamanya, al Husain waktu itu masih berumur 3 tahun dan menyambut dengan gembira kehadiran adiknya sebagaimana umumnya kebahagiaan menyambut kelahiran bayi. Suara kegembiraan di dengarkan Imam Ali tetapi beliau malah bersedih dan menangis. Al Husain bertanya mengapa beliau menangis. Imam Ali menjawab, kelak al Husain akan mengetahui jawabannya.

Nama bayi perempuan itu disampaikan oleh malaikat Jibril yang turun setelah Zainab berada dipangkuan Nabi Muhammad Saw. Setelah menyampaikan namanya, malaikat Jibrial as. pun menangis. Rasulullah Saw bertanya kepada Jibril as. Mengapa ia menangis. Malaikat Jibril as. menjawab bahwa sejak awal kehidupan Sayyidah Zainab ia mengalami kesengsaraan dan kesulitan. Ia akan menangis karena wafatnya Rasul Saw, kemudian akan sedih oleh karena kepergian ibundanya Fatimah Az Zahra dalam keadaan sedih akibat perlakuan sekelompok orang yang dulunya adalah orang-orang yang senantiasa berada di sisi Rasulullah Saw. dan Syahadah ayahnya Imam Ali yang terbunuh di tempat shalatnya, syahadah kakaknya al Hasan karena di racun dan terakhir syahadah al al Husain di Padang Karbala, sebuah tempat di mana Sayyidah Zainab akan mengambil tanggung jawab menjaga risalah Nabi Muhammad Saw yang terinjak-injak oleh penguasa yang zalim setelah membunuh Imam al Husain dan puluhan pengikutnya melawan ribuan pasukan yang menentang Islam yang diperjuangkan Imam al Husain. Islam yang menolak kekuasaan yang zalim atas nama risalah Islam dan menjadikan kekuasaan Islam sebagai cara mempertahankan kepentingan ekonomi politik segelintir penguasa. Mereka yang menjadikan Islam sebagai istana sebagai warisan kekuasaan despotik tanpa mempertimbangkan kualitas moral pemimpinnya sebagaimana yang dikehendaki Nabi Muhammad Saw.

Kisah di atas saya ambil dan adaptasikan dari buku seorang penulis dari Iran, M.H.Bilgrami (2005). Jauh sebelum Sayyidah Zainab mengambil tanggungjawab menjaga risalah Islam setelah syahadah Imam al Husain, beliau adalah seorang anak perempuan yang ikut mengurusi dan bertanggungjawab atas rumah tangga ayahnya (Imam Ali bin Abi Thalib) sepeninggal Ibundanya Fatimah Az Zahra. Beliau memberikan kenyamanan persaudaran bagi saudara laki-laki dan perempuannya. Hidup sederhana dan dermawan kepada kaum miskin dan anak yatim, dan setelah menikah, diceritakan juga bahwa beliau adalah seorang ibu terbaik bagi rumah tangganya sebagaimana pengakuan suaminya.
Penggalan kisah kehidupan Sayyidah Zainab, saat bersama orang-orang yang dicintainya, beliau menjadi anak perempuan yang bersahabat dan membuat nyaman saudara-saudaranya baik saudara laki-laki maupun saudaranya yang perempuan. Zainab mengambil peran mengurus rumah tangga ayahnya Imam Ali bin Abi Thalib, setelah menikahpun Zainab menjadi Ibu terbaik bagi rumah tangganya. Sepeningal orang-orang yang dicintainya, di Padang Karbala adalah tempat terakhir sekaligus tempat pertama dalam transformasi jiwa Zainab sebagai seorang perempuan , dari perempuan yang menjadi sumber kenyamanan dalam keluarga menjadi perempuan sumber kekuatan yang menjaga masyarakat oleh karena adanya risalah Islam yang tercabik oleh kekuasaan yang membunuh Imam al Husain dan puluhan pengikutnya akibat penolakan Imam al Husain mendukung kekuasaan yang akan memegang tampak kepemimpinan Islam dengan cara-cara paksaan dan menindas rakyatnya dengan atas nama Islam. Sebagaimana pernyataan terkenal Imam al Husain, “ lebih mulia saya mati daripada hidup terhina bersama penguasa yang zalim”.

Murtadha Muthahhari (2000) menyatakan bahwa dalam sejarah telah diperlihatkan bahwa berbagai kejadian berdarah dan berbagai musibah tidak terdapat bandingannya dalam sejarah yaitu peristiwa Karbala (terbunuhnya Imam al Husain dan para pengikut setianya). Peristiwa ini telah menjadikan Sayyidah Zainab tidak ubahnya seperti sepotong baja yang telah ditempa. Zainab yang keluar dari Madinah tidak sama dengan Zainab yang telah kembali dari Syam ke Madinah. Zainab yang telah kembali dari Syam adalah Zainab yang lebih berkembang dan telah kokoh. Bahkan sikap yang ditunjukkan Zainab pada peristiwa setelah Karbala (setelah Syahadah Imam al Husain), dan pada saat beliau menjadi tawanan berbeda dengan sikap yang diperlihatkan saat-saat peristiwa Karbala sedang berlangsung sewaktu Imam al Husain masih hidup. Saat tanggungjawab belum diletakkan ke pundak Sayyidah Zainab.

Peristiwa Karbala inilah yang telah menjadikan suara keadilan Zainab menjadi pidato politik yang berani dan berapi-api disertai dengan sikap keras penolakannya untuk tunduk kepada kekuasaan politik waktu itu. Zainab dan beberapa perempuan yang menyertai rombongan Imam al Husain tetap pada pendiriannya, terus berjalan dan menerima keadaan sebagai tawanan sekalipun hijab mereka dilepas secara paksa oleh penguasa. Semua tidak menjadikan Zainab tunduk, sekalipun dalam keadaan hijab yang terlepas, Zainab diarak di depan masyarakat oleh pasukan penguasa. Ia tetap terus berbicara kepada masyarakat akan penindasan penguasa kepada keluarga Nabi Muhammad Saw yang hendak menjaga risalah islam yang berbasis pada keadilan. Dalam tekanan fisik dan psikis, Sayyidah Zainab terus bertambah tegar dan bersemangat, dalam perjalanan panjang kembali ke Madinah, Zainab membentuk majelis-majelis duka mengenang peristiwa Karbala, sehingga akhirnya kisah itu terjaga sampai kini karena peran Sayyidah Zainab.
Inilah penggalan suara keadilan Zainab kepada penguasa waktu itu yang diceritakan oleh M.H.Bilgrami (2005):

“ Wahai putra budak-budak yang dimerdekakan, apakah ini KEADILANmu di mana engkau biarkan putri-putri dan budak perempuan kalian memakai hijab, sementara putri-putri Rasulullah diarak dari satu tempat ke tempat lain tanpa hijab”

“Wahai Yazid, jika saja engkau memiliki cukup hati untuk memperhatikan perbuatan jahatmu, maka engkau pasti akan menginginkan tanganmu cacat dan terlepas dari sikumu, dan engkau pasti berharap orangtuamu tak melahirkanmu, karena engkau tahu bahwa Allah tak berkenan atas perlakuanmu terhadap kami. Ya Allah, Berikanlah HAK-HAK KAMI, balaslah mereka yang telah menindas kami”
Sebagai kesimpulan berdasarkan uraian kami di atas, mungkin dapat kita letakkan keadilan Sayyidah Zainab pada aspek: 1) Penerimaan tanggungjawab menuntut keadilan setelah hak mereka dirampas secara paksa, 2) Penindasan sebagai ketidakadilan begitu mudah diidentifikasi oleh mereka yang memiliki hati nurani. 3) Pengetahuan dan keyakinan akan Tuhan (tauhid) meniscayakan orang mengetahui mana perbuatan yang adil dan mana perbuatan yang zalim.

Jadi, keadilan adalah tanggungjawab yang dirasakan oleh setiap hati manusia, dengan pandangan dunia tauhid, keadilan akan terkukuhkan sebagai dasar perbuatan manusia.
Sayyidah Zainab sebagai seorang perempuan adalah salah satu peletak dasar keadilan dalam sejarah dan penegak keadilan bagi perempuan korban penindasan. Perempuan juga adalah penjaga sejati rumah keadilan dan akan menuntut jika rumah itu diganggu. Dengan kelembutannya, perempuan akan menampakkan keadilan dalam bahasa hati yang kuat memasuki jiwa manusia

Wallahu’alam bi al shawab
Salam atas Sayyidah Zainab dan seluruh perempuan di alam ini yang berjuang menentang ketidakadilan dengan cara mereka masing-masing

Salam atas Al Mustafa Muhammad Saw, keluarganya dan para sahabatnya yang setia

No comments:

Post a Comment