Thursday, 28 April 2016

Studi Kasus Penerapan Falsafatuna (1)

Islam dan Syiah; Antara Ajaran dan Kelompok

Analisis Pemikiran Filsafat Sejarah Islam Syiah M.Baqir Shadr dan Kontekstualisasi Islam KeIndonesiaan kita berdasarkan Pancasila

A.M. Safwan (Pengasuh Ponpes Mahasiswa Madrasah Muthahhari – RausyanFikr Institute)
*) Bahan kajian penerapan Falsafatuna pada kajian Sejarah untuk santri Madrasah Muthahhari RausyanFikr Yogyakarta


Muhammad Baqir Shadr (Penulis buku Falsafatuna) menjelaskan konsep Syiah sebagai ajaran dan konsep Syiah sebagai kelompok. Berikut ini akan saya uraikan secara singkat apa yang bisa saya pahami dan melakukan analisis dengan kerangka/ metode pemikiran khas Baqir Shadr bahwa setiap pemikiran harus memenuhi unsur ilmiah dan logis (al nazhariah al intidza’/disposesional theory)
Kerangka Rasional (logika Ajaran Islam)

Logika ajaran kepemimpinan Islam menurut Islam syiah adalah memandang perjalanan dakwah Islam dalam arti yang dikondisikan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai penutup para Nabi (tidak terdapat lagi Nabi setelah Muhammad Saw) hingga akhir zaman dengan menyampaikan kelanjutan kepemimpinan Islam pada ahlulbayt sebagai keyakinan Imamah sebagai kelanjutan misi kenabian. Dalam hal ini kepemimpinan Islam secara substantif menurut Islam Syiah adalah ajaran yang mengikuti Islam seperti yang dikondisikan Nabi Muhammad Saw yang misi kenabiannya akan dilanjutkan oleh para Imam Ahlulbayt dengan sebutan Imamah.

Islam Syiah sebagai pengikut ajaran Nabi Muhammad Saw. yaitu Islam yang mengakui Nabi sebagai otoritas intelektual dan sekaligus sebagai otoritas sosial politik. Otoritas intelektual dan otoritas sosial politik ini berlanjut kepada Imamah ahlulbayt sebagaimana yang telah dikondisikan Nabi Muhammad Saw sebelum beliau wafat. Dalam pengertian ini, Islam syiah menilai bahwa kepemimpinan Islam (Nubuwwah dan Imamah) adalah salah satu substansi pokok ajaran Islam (rasionalitas /logika ajaran Islam) yang menempatkan kepemimpinan Islam Nabi Muhammad Saw sebagai otoritas intelektual dan otoritas sosial sekaligus menyatu dalam diri Nabi Muhammad Saw. yang berlanjut kepada Imamah ahlulbayt juga dengan pengakuan kedua otoritas ini menyatu pada Imamah ahlulbayt.

Oleh karena itu, kita tidak menemukan kategori dikotomi Syiah dan Sunni pada periode kenabian. Islam Syiah memandang Islam adalah mereka yang mengikuti substansi ajaran kepemimpinan Islam yang disampaikan oleh Nabi. Pada masa Nabi Muhammad Saw belum ada Imamah yang terpisah dari Nabi, karena masih ada Kenabian Muhammad Saw, tetapi Nabi Muhammad Saw telah mengkondisikan Imamah setelah kenabiannya berakhir oleh karena tidak terdapat lagi Nabi setelah Nabi Muhammad Saw., karena beliau adalah penutup para Nabi, Imamahlah yang dikondisikan sebagai ajaran penutup para Nabi. Jadi semua yang hidup pada zaman Nabi menurut Islam Syiah dikontruksikan menjadi pengikut Islam yang telah diorientasikan oleh Nabi Muhammad Saw tentang keberlangsungan dakwah Islam hingga akhir zaman setelah tidak terdapat lagi Nabi, pada masa Nabi tidak terdapat perdebatan dan perbedaan. Inilah logika ajaran Islam yaitu pada substansi kepemimpinan Islam dalam pandangan Islam syiah.

Pengertian Islam ini terjaga selama hidup Nabi Muhammad Saw. Pandangan dan substansi kepemimpinan Islam ini yang diterima sebagai ajaran Islam oleh Islam syiah. Pandangan ini kemudian menjadikan Islam syiah sebagai kelompok muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw. akibat adanya perbedaan meletakkan kepemimpinan Islam sebagai otoritas sosial politik tanpa harus memandang kualifikasi/kelayakan intelektual seorang otoritas sosial politik.
Kerangka Ilmiah /Sejarah

Islam Syiah sebagai kelompok berkaitan dengan mempertahankan otoritas intelektual dan otoritas sosial politik sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dalam kepemimpinan Islam yang dijadikan umat Islam sebagai pijakan yaitu bersandar pada Imamah ahlulbayt sepeninggal Nabi Muhammad Saw. Sehingga para pengikut Islam yang bersandar kepada Imamah ahluilbayt adalah sebagai kelompok Islam yang memandang bahwa kepemimpinan sepeninggal Rasulullah Saw. atas dasar otoritas intelektual dan otoritas sosial politik yang menjadi satu dalam kepemimpinan /imamah ahlulbayt. Pada sisi lain ada kelompok yang menempatkan otoritas sosial politik yang tidak terkait dengan kualifikasi otoritas intelektual yang kemudian disebut kelompok Islam Sunni.

Jadi, masalah Islam syiah yang menjadi rumit dipahami oleh banyak orang dan cenderung menjadi pangkal sengketa pada Islam Syiah sebagai ajaran dan Islam syiah sebagai kelompok yang berbeda dengan kelompok yang bukan Syiah. Terjadilah pengelompokkan menjadi kelompok syiah yaitu Islam dengan keyakinan atas otoritas intelektual tidak dapat dipisahkan dengan otoritas sosial politik dan kelompok bukan syiah yaitu Islam dengan keyakinan bahwa otoritas sosial politik tidak harus terkait dengan kualifikasi otoritas intelektual. Sehingga dikotomi berkembang dalam analisis kelompok Islam bukan analisis ajaran Islam

Dapatlah kita katakan bahwa pengelompokkan Islam dengan Islam syiah dan Islam sunni lahir/muncul karena pandangan dan sikap atas masalah otoritas sosial politik yang berbeda pada apakah mereka harus terkait dengan otoritas intelektual atau tidak.

Analisa Kasus
Kepemimpinan Imam Ali yang oleh kelompok Islam Syiah dipandang sebagai Imamah yang memiliki otoritas sosial politik berdasarkan kelayakannya sebagai otoritas intelektual, dan kelompok Islam sunni yang memandang Imam Ali sebagai khalifah yang memiliki otoritas sosial politik tidak terkait pada keharusan adanya kualifikasi/otoritas intelektual.
Dipandang dalam sudut otoritas politik, Imam Ali mempersatukan Islam Syiah dan Islam Sunni. Jadi secara politik, seharusnya Islam syiah dan Islam Sunni dapat bersatu untuk kepentingan sosial masyarakat/umat sebagaimana ungkapan Imam Ali, demi maslahat umat. Buat saya ini makna kehadiran Imam Ali dalam Imamah Islam syiah dan kehadiran Imam Ali dalam kekhalifahan Islam Sunni.

Saya mungkin dapat berhipotesa bahwa untuk kembali kepada ruh dan semangat Islam awal pada masa kenabian Muhammad saw adalah dengan menghadirkan kepemimpinan Islam yang memiliki otoritas politik yang terlegitimasi oleh kualifikasi intelektualnya agar bisa diterima oleh kelompok Islam syiah dan kepemimpinan Islam yang memiliki otoritas intelektual yang memiliki legitimasi sebagai otoritas politik agar dapat diterima oleh kelompok Islam sunni.

Saya memiliki optimisme yang kuat (rasional/logis pada substansi ajaran dan ilmiah pada fakta-fakta sejarah hingga kini) bahwa kedua kelompok Islam ini yaitu Islam Syiah dan Islam Sunni berasal dari kandungan sejati Islam dan bahwa watak asli Islam adalah non sektarian. Optimisme ini perlu dimulai pada pembangunan kapasitas intelektual umat bukan pada otoritas sosial politik, sehingga perbedaan kelompok Islam dapat dikembalikan pada semangat dan substansi ajaran Islam. Oleh karenanya dinamika sosial politik Islam kritisismenya pada aspek intelektualisme Islam sebagai cara pandang. Kalau ada yang membangun dikotomi ini di luar aspek intelektual maka itu patut diduga akan merusak substansi ajaran Islam dengan menempatkan masalah kepemimpinan Islam lebih pada masalah politik bukan pada aspek intelektualisme kepemimpinan Islam.

Imam Ali telah menjaga aspek intelektualisme Islam demi maslahat umat dengan pilihan politik beliau dalam masa awal kepemimpinan Islam pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw.hingga terpilihnya beliau sebagai khalifah keempat. Aspek intelektualisme kepemimpinan Islam itu telah berkembang menjadi konsep politik yang menarik garis masyarakat pada dinamika demokrasi (partisipasi manusia) dalam otoritas politik Islam. Menurut saya di sinilah, makna kontekstualisasi politik Islam yang dapat mempertautkan aspek intelektual Islam pada kelompok Islam Syiah dan Islam Sunni. Seperti konsep wilayah al faqih Iran yang diteguhkan Imam Khomeini sebagai konsep negara dan konsep dalam Ideologi Pancasila kita sebagai basis objektif pertautan ajaran Islam dalam semua kelompok Islam bahkan masyarakat secara keseluruhan dalam ikatan politik Islam berbasis demokrasi Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saya berbahagia ajaran Islam syiah hadir dan hidup dalam masyarakat yang berdasarkan Pancasila dalam bingkai NKRI. Tantangannya tentu bagaimana menjaga dinamika politik Islam sebagai dinamika intelektualisme Islam dalam bingkai objektif kita yaitu pertautan kehidupan kita berdasarkan Pancasila (Pancasila menurut saya mungkin dapat dipandang sebagai objektivikasi Islam di Indonesia)

Wallahu’alam bi al-shawab

Salam atas Nabi al Mustafa Muhammad Saw dan keluarganya dan para pengikutnya yang setia

No comments:

Post a Comment