Monday, 23 May 2016

Catatan atas kasus Pemerkosaan dan Pembunuhan Yuyun dan Eno



Epistemologi Seksualitas dan Kejahatan Seksual
Darurat Rasionalitas, Darurat Keluarga
A.M.Safwan- Pengasuh Ponpes Mahasiswa
Madrasah Muthahhari RausyanFikr

Kita tertegun dan kaget serta prihatin dan duka yang mendalam atas dua kasus sebulan terakhir ini yaitu pembunuhan setelah sebelumnya memperkosa korbannya. Yuyun, remaja belia (SMP) di Rejang Lebong Bengkulu dan Eno, buruh pabrik di Tangerang. Pelaku diancam dengan pasal berlapis karena ada pemerkosaan, pembunuhan berencana, pencurian. Ancamannya bisa hukuman mati dan penjara seumur hidup.

Dari informasi yang tersebar luas saya mencatat beberapa fakta: 1. Korbannya adalah perempuan dengan penampilan yang bersahaja, tidak menor dan seksi, bukan tipe perempuan elit, 2. Pelakunya berkelompok, Yuyun oleh 12 orang dengan 7 anak dibawah umur, Eno oleh 3 orang dengan 1 anak dibawah umur, 3. Pelaku bersama antara pria dewasa dan anak dibawah umur, 4. Korban diperkosa dan dibunuh bahkan Eno dengan cara yang sadis diduga dengan cangkul yang menancap di tubuh Eno, Yuyun dengan kondisi kemaluan yang lebam, 5. Korban ditemukan dalam keadaan sudah meninggal.

Beberapa pertanyaan kita: 1. Motif utama mereka ingin memperkosa sebagai pelampiasan hasrat atau memang ingin membunuh dengan sebelumnya memperkosanya? Kita tidak mendengar ada dendam atau kekuasaan tertentu yang menjadi kemungkinan untuk membunuh perempuan tersebut, 2. Kalau ingin melampiaskan hasrat saja mengapa mereka melakukan dengan cara pemerkosaan, bukan misalnya dengan pacarnya atau dengan perempuan pekerja seksual (yang tentu juga adalah perilaku yang tidak benar), 3. Mengapa mereka memperkosa dengan cara ramai-ramai, bukan dengan 1 atau 2 orang saja? 4. Mengapa anak dibawah umur ikut terlibat dalam peristiwa sampai pembunuhan, jadi motif seksual dan pembunuhan, sudah sampai sejauhkan itu imajinasi anak-anak dibawah umur? 5. Kalau motif membunuh mungkin bisa diminimalkan dengan ancaman hukuman maksimal tetapi motif kenikmatan seksual apakah akan tereliminasi dengan penjara dan atau dikebiri, karena perilaku membunuh akan terkontrol di penjara sedangkan bagaimana dengan perilaku seksual?

Kelima informasi yang terkait kejadian di atas dan 5 pertanyaan yang menggelisahkan saya,, membawa saya kepada sebuah analisa atau semacam hipotesis di luar masalah hukum yaitu persoalan epistemologi seksualitas dari kejadian ini: 1. Hasrat seksual yang agresif cenderung membawa kepada kejahatan jika terhambat secara psikologis dan moral serta budaya (nilai pengetahuan) , 2. Hasrat seksual menarik imajinasi manusia baik anak-anak dibawah umur maupun orang dewasa, sehingga kemungkinan kejahatan dapat distimulasi awalnya oleh bertemunya kepentingan imajinasi seksual (teori pengetahuan), 3. Hukuman atas kejahatan seksual apakah akan efektif dengan pengebirian selain dengan penjara (doktrin pengetahuan)?

Saya memandang hasrat seksual (teori pengetahuan) adalah sebuah landasan material yang alamiah yang bersentuhan dengan imajinasi kita sebagai awal konsepsi tentang seks yang tidak semata pada tubuh, tubuh seks ada di imajinasi. Pada landasan ini penilaiannya ada pada lingkungan yang kritis pada situasi dan keadaan yang berkembang secara moral dan ilmiah; sosial, psikologis (nilai pengetahuan). Pada akhirnya, basis penilaian utama (doktrin pengetahuan) pada metode kita menilai seksualitas sebagai masalah rasional (imajinasi) bukan semata ilmiah (tubuh/material/kelamin)

Seksualitas yang rasional berpangkal pada penilaian (tasdik) atas imajinasi seksual (konsep), penilaian itu bertumpu pada seksualitas yang instingtif (hasrat) bukan tubuh. Tubuh adalah sarana sedangkan sumbernya adalah imajinasi yang bersentuhan dengan naluri seksual. Dalam filsafat Islam, seksualitas bergerak dalam dinamika jiwa dan tubuh, jiwa sebagai basis neraca dari landasan yang terjadi pada tubuh.

Dari ketiga analisis epistemologi atas kejahatan seksual tersebut, mungkin akan menjadi sebuah gambaran betapa rumitnya menilai (tasdik) sebuah kerangka hubungan antara seksualitas dan kejahatan seksualitas apalagi merumuskan hukuman yang tepat atas persoalan imajinasi seksual yang merupakan dasar utama dari perilaku seksual bukan tubuh, bukan kelamin. Seksualitas bukan terbatas pada analisis tubuh dan kelamin, tetapi dalam filsafat Islam basisnya pada persepsi imajinasi yang wilayahnya menyentuh hasrat (desire) seperti dalam basis konsepsi psikoanalisis Freud tetapi filsafat Islam berbeda dalam penilaiannya.

Bagaimana menerapkan analisis epistemologi tersebut untuk mendekati permasalahan kejahatan seksual ini: 1. Bahwa seksualitas adalah modalitas hasrat yang memiliki kekuatan besar karena berkaitan dengan imajinasi manusia, apalagi jika imajinasi itu tidak berada dalam lingkungan kritis secara moral dan ilmiah, 2. Secara pengetahuan, imajinasi ini berkaitan dengan pendidikan imajinasi yang logis yang tahap awal kritisnya justeru pada masa awal pendidikan anak., 3. Tampaknya kita mungkin bisa menghukum kejahatan seksualnya (tubuh) tetapi bagaimana kita menghukum seksualitas sebagai naluri yang imajinatif bukan pada tubuh.

Saya dan kita yang perhatian terhadap hal ini patut menuntut hukuman yang seadil-adilnya atas kejahatan ini, sembari melihat bahwa seksual dengan basis imajinasi saat ini mengalami distorsi karena kecenderungan rasional seksualitas yang tidak logis dan lebih banyak pada seksualitas ilmiah/tubuh yang terus dikondisikan oleh lingkungan sosial yang tidak kritis oleh pola pendidikan dalam keluarga dan masyarakat yang berbasis pada aspek rasionalitas akan keberadaan hasrat seksual manusia (lebih banyak moralitas seksualnya daripadai logika seksualitasnya).

Fenomena anak terlibat dalam kasus kejahatan seksual dan sekaligus pembunuhan menurut saya menjelaskan bahwa unsur dasar imajinasi manusia yang tidak dibatasi oleh umur telah menemukan jalannya, telah membawa anak pada lingkungan sosial yang seharusnya mereka tidak berada di sana. Darurat kejahatan seksual, darurat keluarga, DARURAT RASIONALITAS sebagai unsur mendasar dalam moralitas.

Kita mungkin memerlukan realisme seksual yang ilmiah dan logis.
Semoga Yuyun dan Eno adalah titik balik dari upaya kita kembali kepada gerakan keluarga, Semoga Yuyun dan Eno menjadi monumen kritik kita atas sejarah seksualitas.
Insya Allah kedudukan yang terbaik atas mereka berdua di SisiNya dan keluarganya diberi ketabahan.

Wallahu'alam bi al shawab
Salam atas al Mustafa Muhammad Saw,
keluarganya dan para pengikutnya yang setia.

1 comment:

  1. https://drive.google.com/file/d/0B6ut4qmVOTGWMkJvbFpZejBQZWM/view?usp=drivesdk


    Salam


    Kepada:

     

    Redaksi para akademik


    Per: Beberapa Hadis Sahih Bukhari dan Muslim yang Disembunyikan


    Bagi tujuan kajian dan renungan. Diambil dari: almawaddah. info

    Selamat hari raya, maaf zahir dan batin. 


    Daripada Pencinta Islam rahmatan lil Alamin wa afwan. 

    ReplyDelete