Tuesday, 3 May 2016

Dalam Rangka Mengenang Perjuangan Imam Musa Kazhim cucu Nabi Muhammad Saw



Imam Musa: Dari Penjara ke Penjara Melawan Dengan Diam

A.M. Safwan – Ponpes Mahasiswa Madrasah Muthahhari RausyanFikr Institute

Musa Kazhim adalah putra Imam Jakfar Shadiq yang merupakan keturunan Imam Husain Putra Imam Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah putri Rasulullah Saw. Imam Musa hidup selama 54 tahun, dimakamkan di Kazhimiyah Baghdad. Murtadha Muthahhari mengutip salah satu ucapan Imam Musa yang terkenal dan karenanya juga menjadi dasar memahami mengapa Imam Musa senantiasa hidup dalam penjara dalam masa kekuasaan Harun ar Rasyid yang diambil dari kitab hadis Tuhaf al-‘uqul; “ ...katakanlah kebenaran meskipun disitu kamu harus binasa. Karena sesungguhnya di situlah letak keselamatanmu yang sesungguhnya. Serta tolaklah kebatilan meskipun di situ kamu selamat. Karena disitulah letak kebinasaanmu sesungguhnya”. Mendekati kebenaran berarti menuju keselamatan, mendekati kebatilah berarti menuju kebinasaan.

Muthahhari menjelaskan kehidupan Imam Musa dari penjara ke penjara sebagai jalan perjuangan yang dipilih oleh Imam Musa dengan tidak berkompromi dengan kehendak penguasa Harun ar Rasyid. Lebih memilih berada dalam penjara tampaknya memiliki logika sendiri bagi perjuangan Imam Musa. Di dalam penjara Imam Musa tidak banyak bicara, fokus pada ibadah puasa, salat dan doa. Sipir penjara senantiasa melihat Imam Musa dalam keadaan ibadah. Bagaimana logika perjuangan Imam Musa Kazhim di dalam penjara, kita akan menggunakan uraian dan analisis Muthahhari berdasar atas perilaku Imam Musa di penjara.

Di kota Basrah di penjara Isa bin Jakfar al Abbasi, Imam Musa tidak melakukan pelaknatan terhadap Harun ar Rasyid tetapi hanya mengucapkan permohonan rahmat dan ampunan kepada Allah SWT bagi dirinya sendiri. Kebiasaan Imam Musa dalam penjara tersebut akhirnya membuat Isa bin Jakfar al Abbasi membebaskan Imam Musa dari penjara.

Di kota Baghdad di penjara Fadhl bin Rabi, Imam Musa pun akan diancam dibunuh, tetapi permintaan itu ditolak oleh Fadhl bin Rabi dan mengeluarkan Imam Musa dari penjara dan menyerahkannya ke Fadhl bin Yahya al Barmaki. Oleh karena, Fadhl bin Rabi menyaksikan langsung kewibawaan Imam Musa sedemikian besar hingga mencegahnya untuk duduk di dekatnya dan memilih berdiri di hadapan Imam Musa dan bersandar pada pedangnya. Fadhl bin Rabi menyampaikan pesan Harun ar Rasyid bahwa sejumlah pelayanan makanan dan kebutuhan yang terbaik akan diberikan oleh Harun ar Rasyid selama Imam Musa di dalam penjara, Imam Musa menjawab dengan menyatakan bahwa dirinya tidak punya harta dalam penjara ini dan bahwa dirinya tidak diciptakan sebagai orang yang suka meminta. Sebuah kemuliaan Imam Musa, penjara tidak membuatnya lemah, Imam Musa terus melanjutkan ibadah shalat dan doanya.

Di Penjara berikutnya, Imam Musa ditempatkan di salah kamar Fadhl bin Yahya al Barmaki yang dijadikan sebagai penjara dan memerintahkan bawahannya mengawasi apa-apa yang dikerjakan Imam Musa dalam penjara. Pengawal penjara memberitahukan ke Fadhl bin Yahya al Barmaki bahwa kebanyakan waktu di dalam penjara digunakan Imam Musa untuk beribadah puasa, berdoa dan membaca alquran (bacaan alquran Imam Musa memang terkenal indah sehingga beliau dijuluki Zainal Mujtahidin oleh penduduk Madinah). Kabar dari bawahannya membuat Fadhl bin Yahya al Barmaki menghormati Imam Musa dan memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan hal-hal yang memudahkan kehidupan Imam Musa dalam penjara. Harun ar Rasyid mendengar kabar tersebut dan meminta Fadhl bin Yahya al Barmaki menyingkirkan Imam Musa.

Selanjutnya Imam Musa dikirim Harun ar Rasyid ke kota Raqqah di penjara yang dipimpin oleh Sanadi bin Syahik, seorang non muslim yang dikenal bengis dan zalim. Pada suatu hari Harun ar Rasyid mengirim petugas ke penjara Sanadi bin Syahik untuk mendapatkan kabar keadaan Imam Musa. Kepada petugas utusan Harun ar Rasyid dan Sanadi bin Syahik, Imam Musa menyatakan bahwa hari-hari sulit yang dijalaninya suatu hari akan berakhir dan begitu juga hari-hari menyenangkan yang dijalani Harun ar Rasyid akan berakhir, hingga akhirnya Imam Musa dan Harun ar Rasyid akan sampai ke suatu tempat di mana ahli kebatilan akan mendapatkan balasan atas kezaliman yang dilakukannya.

Dari kisah-kisah dalam penjara tersebut, setidaknya kita bisa memahami logika Imam Musa sebagai seorang tahanan: 1. Kehidupan Imam Musa dalam penjara diwarnai dengan kesibukan dalam beribadah dan berdoa serta puasa, 2. Imam Musa tidak melaknat penguasa dan termasuk tidak melaknat orang-orang yang menjadi suruhan penguasa. 3. Tidak bergantung kepada tawaran makanan dan apa-apa yang membuat nyaman atas tawaran penguasa, Imam Musa menolak semua itu. 4. Keyakinan bahwa hari-hari yang sulit bagi Imam Musa dan menyenangkan bagi penguasa akan berakhir pada suatu hari. Kebenaran akan menyelamatkan manusia dan kebatilan akan membinasakan manusia. 5. Keempat logika tersebut adalah logika penolakannya terhadap penguasa untuk berkompromi, sehingga Imam Musa harus menerima reziko menghabiskan sebagian umur dan perjuangannya dari penjara.
Seorang tawanan bagi Imam Musa mungkin adalah manusia yang logikanya berjalan dalam diam dan fokus dengan Tuhannya, tidak menjadi lemah dengan keadaan dalam penjara, keyakinan bahwa kebenaran akan membebaskan manusia. Sikap yang tegas tanpa memberontak dan tanpa melaknat apalagi berkompromi dengan penguasa, semua itu dipilih Imam Musa. Penjara adalah jalan sunyi bertemu dengan kebenaran dan keselamatan manusia dihadapan penguasa yang dipandangnya zalim. Tentu ini menarik untuk menjelaskan konteks sosial masyarakat dengan memahami mengapa Imam Musa melakukan langkah-langkah tersebut. Apa tujuan tindakan tersebut?

Imam Musa mungkin sedang menjalankan fungsi spiritual seorang pemimpin sosial dalam mendidik pengikut dan masyarakatnya yang harus menghadapi penjara, Muthahhari merefleksikanbahwa kesulitan dan siksaan yang menimpa Imam Musa lantaran mengatakan kebenaran, menuntut kebenaran oleh karena rasa kemanusiaan dan spiritualitas yang dimilikinya. Semua ini bukanlah aib, malah sebuah kebanggaan karena mempertahankan hak-hak masyarakat. Alasan lain, oleh karena kesulitan dan penderitaan yang dialami Imam Musa dalam penjara adalah cara untuk menyempurnakan, menyucikan dan memurnikan esensi wujud manusia. Penjara adalah jalan sejarah yang dipilih dengan kesadaran penuh Imam Musa sebagai konsekuensi tidak berkompromi dengan kehendak penguasa.

Mungkin kita bisa mengambil sebuah pelajaran, betapa penjara kemanusiaan dan spiritualitas dalam realitas sosial manusia telah menjadikan manusia hingar bingar dengan reaksi yang tidak sistematis dan dengan logika perlawanan yang tidak berbasis pada kepemimpinan yang menenangkan pengikutnya dan bahkan banyak memprovokasi masyarakatnya pada cara-cara perlawanan yang diwarnai dengan bahasa yang kasar dan dengan aksi kekerasan. Logika perlawanan Imam Musa, dengan diam, tanpa kekerasan dan aksi provokatif. Imam Musa fokus pada Tuhannya sembari bertahan dengan sikap tanpa kompromi dan meneguhkan sikapnya memilih penjara daripada harus melemahkan semangat perlawanan.

Melawan dalam diam tanpa kekerasan dan anarkisme, tetapi tetap tegak pada sikap awalnya untuk menolak kekuasaan yang zalim tanpa harus berteriak-teriak. Semua perlawanan ditampilkan dalam shalat, doa dan puasa. Bicara sekali tetapi menghunjam dan penguasa merasa terancam dengan setiap kata, semua karena politik Ibadah sebagai politik Ilahiah.

Wallahu’alam bi al-shawab

Salam atas Nabi al Mustafa Muhammad Saw dan keluarganya dan para pengikutnya yang setia

No comments:

Post a Comment