Sunday, 15 May 2016

Epistemologi Doa: Puisi Kehidupan dan Tanggungjawab Sosial

Mengenang kelahiran Imam Ali Zainal Abidin
cucu Imam Ali dan Sayyidah Fatimah

A.M. Safwan- Pengasuh Ponpes Mahasiswa Madrasah Muthahhari  RausyanFikr Institute

Imam Ali bin Husein atau juga sering ditulis dengan gelar Imam Ali Zainal Abidin atau gelar lain dengan nama Imam Sajjad (Imam yang senantiasa bersujud) lahir pada 5 syakban tahun 38 H, ayahnya Imam Husein (Putra Imam Ali dan Sayyidah Fatimah) dan ibunya adalah Syahzanan (putri Raja Persia Yazdajird) yang merupakan tawanan perang dari kerajaan persia, yang diperintahkan oleh Imam Ali memilih pasangan hidupnya sesuai yang dia kehendaki, putri Yazdajird memilih Imam Husein yang dari pernikahan mereka lahirlah Imam Sajjad.

Imam Ali Zainal Abidin adalah saksi sejarah tragedi Karbala yaitu kisah perjuangan dan terbunuhnya Imam Husein di Karbala (Irak) dalam rangka menegaskan sikapnya untuk menolak mengakui dan tunduk di bawah kekuasaan yang zalim dengan sebuah perjuangan yang panjang tanpa kekerasan dan tanpa caci maki tetapi tetap tegas untuk menolak kekuasaan dinasti Umayyah yang sudah melenceng dari tugas prinsip kepemimpinan Islam.

Imam Ali Zainal Abidin juga adalah saksi sejarah perjalanan panjang Sayyidah Zainab (bibinya) yang adalah saudara dari ayahnya (Imam Husein) dalam upaya menjaga kisah Karbala sampai ke kesadaran umat  sekalipun Zayyidah Zainab dan putri-putri Karbala berada dalam tekanan, di rantai sebagai tawanan dan hijab mereka dibuka dan di arak sepanjang jalan bersama jenazah Imam Husein untuk dihadapkan kepada penguasa.

Kita bisa membayangkan bagaimana suasana jiwa Imam Ali Zainal Abidin di usia yang masih belasan (secara psikologis) dan dalam keadaan sakit menyaksikan suasana kedukaan yang mendalam yang menimpa ayahnya (Imam Husein) dan Sayyidah Zainab (bibinya) dalam mempertahankan kehormatan Islam dengan reziko apapun dengan diperlakukan secara tidak manusiawi seperti hewan (sesuatu yang dipandang dari sisi kemanusiaan saja sudah tidak pantas apalagi bahwa mereka adalah cucu Nabi Muhammad Saw).

Tentu kita bisa empati (sembari bertanya-tanya heran) akan suasana tekanan batin seperti apa yang dirasakan oleh Imam Ali Zainal Abidin sehingga dalam masa panjang hampir 20 tahun sepanjang waktu dalam sehari, Imam Ali Zainal Abidin senantiasa berdoa, suasana psikologis yang dipendam dan diekspresikan dalam bentuk doa yang panjang yang dikenal dengan doa Ash Shahifah as Sajjadiyyah. Secara sederhana doa pasti mengandung harapan dan keinginan sekaligus menjelaskan suasana jiwa kepada  Sang PenciptaNya untuk berbicara tentang apa yang terjadi pada diri mereka sebagai manifestasi kesadaran dan cinta mereka. Kalau bukan karena kesadaran dan cinta, tentu orang yang mengalami musibah akan tenggelam dalam pilu, trauma dan bahkan mungkin meratapi musibah mereka sebagai sesuatu yang memenjarakan mereka untuk hidup dalam kepasifan. Imam Ali Zainal Abidin memilih aktif menjelaskan masalah yang dia saksikan dan rasakan dengan  secara langsung berdialog batin kepada TuhanNya melalui teks-teks doa yang panjang dengan berbagai dimensi kisah dan harapan di dalamnya yang terhimpun dalam kitab doanya yang terkenal yaitu Ash Shahifah as Sajjadiyah.

Ali Syariati menulis buku tentang Doa dalam Ash Shahifah as Sajjadiyyah, Syariati mengatakan tentang Imam Ali Zainal Abidin sehubungan dengan Ash Shahifah as Sajjdiyyah bahwa kumpulan doa ini adalah kitab perjuangan (jihad) dalam kesendirian, berbicara dalam diam, menangis dalam ketercekikan, mengajar dengan bibir terbungkam  dan tangan kosong yang terlucuti. Syariati menambahkan, dalam mazhab pemikiran Imam Ali Zainal Abidin (Imam Sajjad) doa memiliki dimensi keempat yang merupakan peran sosial khusus dan “peristirahatan” para pencinta kebenaran, pencari keadilan yang bertanggungjawab dan para pejuang yang sadar diri.

Syariati melihat doa Ash Shahifah as Sajjadiyyah sebagai jalan Imam Ali Zainal Abidin  merefleksikan perlawanannya sebagai orang yang tidak diberi kemungkinan untuk menegakkan keimanan, membela kebenaran dan berjuang melawan kekuasaan palsu dan orang-orang yang kehilangan sarana guna mewujudkan tanggungjawab ideologis dan sosial mereka.

Kita kutip salah satu ungkapan Imam Ali Zainal Abidin dalam Ash Shahifahnya: “ Dan daku adalah hamba yang sedikit amal perbuatannya namun banyak berharap. Sarana yang menyampaikan pada kebahagiaan telah lepas dariku kecuali jika RahmatMu yang menyampaikannya dan akar-akar harapanku telah putus kecuali apa yang kupegang berupa ampunanMu yang hingga kini kupegang erat ditanganku. Ketaatanku begitu sedikit, sementara maksiat yang kulakukan begitu banyak, namun tidak pernah menyempit ampunanMu untuk hambaMu kendatipun ia sangat buruk, maka maafkanlah daku.  Ya Allah, pengetahuanMu lebih mulia dari amal perbuatan yang tersembunyi dan setiap apa yang tersembunyi adalah tersingkap jelas bagiMu. Tiada sesuatu yang kecil tertutup dariMu dan tiada rahasia-rahasia yang tersembunyi tak tampak olehMu”

Epistemologi doa dalam pandangan Syariati ini menarik, oleh karena kita tidak boleh diam atas keadaan yang menekan  sekalipun dalam keadaan yang paling sepi / diam dalam hiruk pikuk sosial melalui doa, bahkan doa ini dapat menjadi sebuah data ilmiah dan historis menarik dan penting bak sebuah teks lepas yang indah dalam bahasa dan kuat secara spiritual yang mengandung konteks sosial sebuah persoalan besar  seperti puisi. Doa mungkin adalah puisi kehidupan yang datang dari kesadaran dan cinta kita kepada kemanusiaan dan keadilan yang dikaitkan dengan sebuah pandangan dunia tauhid (agama).

Doa menjadi refleksi manusia atas kesadaran mereka atas keadaan individu dan sosial yang menyertai mereka dalam kehidupan bermasyarakatnya. Doa dapat menjadi sebuah kerangka sosial hubungan manusia dan Tuhannya. Dalam doa sekaligus mengandung dimensi sosial, spiritual dan intelektual. Pada akhirnya, doa adalah tentang kita, alam dan Tuhan dalam satu kesatuan gerak sejarah.
Wallahu’alam bi al shawab


Salam atas Rasul al Mustafa Muhammad Saw, keluarga dan para pengikut setianya.

No comments:

Post a Comment