Wednesday, 18 May 2016

PKI dan Kemungkinan Rekonsiliasi Bangsa

Sebuah Catatan Kecil

Silogisme Komunisme: Marxisme, Politik, dan Korban Politik

A.M. Safwan- Pengasuh Ponpes Mahasiswa Madrasah Muthahhari RausyanFikr Yogyakarta


Muhammad Baqir Shadr dalam buku Falsafatuna meletakkan upaya intelektualnya pada analisa dan kritik pada fondasi paradigma bangunan berpikir Marxisme hampir dalam 100-an lebih argumen kritis yang intinya menolak struktur fondasi Gerakan dan Kontradiksi sebagai inti dalam Dialektika Materialisme Historis (DMH) Karl Marx. Bahkan dalam analisisnya, Baqir Shadr juga memberikan sebuah hipotesis tentang kemungkinan maksud politik tersembunyi (under mind) dari dialektika Marx.



Dialektika sebagai hukum umum berpikir yang menguasai cara bertindak masyarakat untuk sampai pada tujuan pencapaian kelas tertindas pada masyarakat tanpa kelas (non dialektis), Tujuan utopis ini tentu dimaksudkan kata Baqir Shadr sebagai maksud politik menggerakkan kontradiksi kelas untuk sampai pada sesuatu yang bertentangan dengan prinsip dialektika material historis sendiri. Sebuah wacana membingungkan, menggunakan prinsip dialektika sebagai hukum umum berpikir dalam menggerakkan kontradiksi dan gerakan dalam masyarakat untuk sampai kepada keadaan yang sebaliknya (berhentinya gerak masyarakat/non dialektis). Padahal, tujuan utopis (tanpa kelas/non kontradiksi) bertentangan dengan prinsip berpikirnya (kontradiksi). Jadi, kita tidak mengerti tujuan masyarakat tanpa kelas itu di ambil dari mana?, mungkin semacam arketipe Plato.



Oleh karena basis doktrinnya adalah dialektika/kontradiksi kelas dalam masyarakat dengan tujuan masyarakat tanpa kontradiksi kelas. Bukankah ini mungkin ada sebuah maksud tersembunyi? Kalau ini bisa mendapatkan justifikasi sejarah, maka kontradiksi kelas adalah mitos yang dijadikan alat politik.



Mungkin ini adalah sebuah tujuan politik dengan justifikasi pemikiran, bahkan dalam pemikiran Marx, dari Dialektika (kuantitas bertentangan dengan kualitas) pun dia mengembangkannya sebagai lompatan perkembangan (kuantitas ke kualitas). Di sini juga membingungkan. Jika analisa ini benar, maka upaya apapun untuk melakukan upaya kreatif pemikiran di luar kerangka Marx akan menjadi sia-sia, karena dalam kerangka mereka masyarakat harus tunduk kepada dialektika (yang membingungkan dan rancu ini). Apalagi kalau mereka berada sebagai bagian dari kepentingan politik hingga menjadi sebuah rezim.



Dalil silogismenya adalah prinsip dialektika Marxis, dengan DALIL UMUM bahwa mereka menggunakan prinsip dialektika (gerakan dan kontradiksi sejarah) bahwa masyarakat di atur dengan hukum ini. Artinya, bahwa aktivitas dan misi dari kehidupan masyarakat untuk sampai kepada tujuan kesempurnaannya (masyarakat tanpa kelas) adalah dengan pertentangan internal masyarakat (kontradiksi kelas proletar dan borjuasi).



DALIL KHUSUSnya, Baqir Shadr dalam Falsafatuna mengutip Marx dan Engels yang menyatakan bahwa kaum komunis tidak tertutup untuk menyembunyikan pandangan-pandangan, niat dan rencana-rencana mereka. Mereka mendeklarasikan dengan terang-terangan bahwa tujuan mereka tidak bisa tercapai dan direalisasikan kecuali melalui kehancuran seluruh sistem sosial tradisional dengan kekerasan dan kekuatan. Lenin juga berkata sebagaimana dikutip juga Baqir Shadr bahwa revolusi proletariat mustahil dilakukan tanpa menghancurkan dengan kekerasan terhadap sistem borjuasi negara.



Sebagaimana dalam silogisme, kesimpulan diambil dari dalil khusus, maka kita bisa memberikan sebuah dasar analisa bahwa komunisme adalah pola politik (kekuasaan) mencapai tujuan dan pandangan Marxisme dengan semua cara yang mungkin mereka bisa tempuh hingga tingkat destruktif dan kekerasan. Sebuah tujuan mulia mungkin untuk menghilangkan kontradiksi dengan cara dan pola komunisme. Bisa kita pahami, bahwa Marxisme adalah pandangan dunia filosofisnya sedangkan komunisme adalah sebuah doktrin politik mencapai tujuan pandangan dunianya.



Marxisme sebagai sebuah doktrin pengetahuan adalah bagian dari realitas pengetahuan yang berkembang dalam ilmu pengetahuan oleh karenanya kita tentu tidak bisa menutup ruang berpikir untuk membicarakan, membahas dan mengembangkannya sebagai alat analisa, masyarakat tentu harus diajak masuk dalam iklim berpikir yang terbuka dan kritis. Namun tentu kita pun perlu ingat bahwa Marxisme sendiri menolak teori pengetahuannya dipandang sebagai sebatas wacana, doktrin pengetahuannya mengandung nilai objektif material akan watak praksis dari gerakan dialektia historisnya. Artinya, melepaskan watak pengetahuan Marx dengan ideologi adalah hal yang ditentang dalam pandangan para penganut Marx. Informasi yang tersedia sejuah ini bahwa pola komunisme adalah gerakan dengan klaim doktrin Marxisme bukanlah gerakan sosial tetapi pada pola pertarungan politik kekuasaan dengan mendirikan Partai. Tentu ini sah saja, persoalannya menjadi lain jika menyentuh wilayah metode yang membenarkan semua cara dalam mencapai tujuannya sebagaimana dalam DALIL KHUSUS di atas.



Jadi masalah kita bukan pada pemikiran dan pandangan dunia Marxisme. Ali Syariati yang mengkritik sesat pikir Marxisme dalam doktrinnya, tetapi melihat sosialismenya (spirit Marxisme) sebagai bagian dari semangat inti ajaran Tauhid Islam (pembebasan dari ketertindasan). Di sini menurut saya menjadi dinamika yang menarik, kerancuannya pada motif politik dari tendensi pemikiran ini yang digunakan sebagai dalil khusus (kesimpulan silogisme di atas), sehingga pandangan dunia Marxisme yang ilmiah-filosofis diambil sebagai justifikasi kepentingan politiknya.



Kemungkinan lain, Marxisme memang menjustifikasi gerakannya dengan hukum dialektika karena memang sejak awal motifnya adalah politik bukan ilmu pengetahuan sebagaimana yang dikhawatirkan oleh Baqir Shadr. Komunisme adalah pembajak doktrin Marxisme menurut Baqir Shadr, atau bisa jadi, doktrin Marx yang sejatinya memang tidak logis sekalipun mungkin menjadi bagian dari dinamika gerakan masyarakat industri awal di Eropa paska renaisans.



Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia jelas adalah tendensi politik dari gerakan kiri yang harus dipisahkan dari gerakan kiri dalam semangat pemikiran dan kritik terhadap dominasi struktural kelompok pemilik modal dengan negara (oligarki) atas kepentingan sosial masyarakat. Menurut saya, PKI sebagai gerakan politik dan korban politik yang ada di dalamnya dari kedua belah pihak adalah akibat dari kerancuan yang ditimbulkan oleh situasi sosial pada waktu itu, menurut saya, komunisme adalah romantisme sejarah dari pergulatan semua pihak yang ada di dalamnya, Imam Khumaini mengatakan bahwa komunisme (politik) adalah air mancur yang pasti jatuh.



Buat saya, PKI adalah masa lalu, mengangkat kembali ke permukaan hasrat gerakan ini dengan kepentingan apapun dan oleh siapapun adalah sebuah upaya romantis akan mungkin mimpi yang dibangun Marxisme dengan motif politik, yang bisa jadi ingin melakukan disharmoni sosial masyarakat menuju kepada disintegrasi awal sebuah bencana politik yang dibajak. Oleh karenanya, korban politik dari PKI (baik dari pihak pendukung dan anti pada waktu itu) harus dipisahkan dengan motif politik dari komunisme. Kita berkepentingan untuk membela korban politik ini dengan mencari solusi bersama (kemungkinan rekonsiliasi) sembari kita perlu terus mewaspadai orang-orang yang berkepentingan dengan romantisme PKI ini dengan upaya kita pada perbaikan struktur ketidakadilan sosial.



Mungkin lebih patut disimak dan dianalisa lebih lanjut, kepada kecenderungan mengembangkan komunisme sebagai pola yang dipakai oleh kepentingan politik di luar tendensi pengetahuan. Komunisme telah melebar ke mana-mana sebagai pola dan stigma yang dikaitkan pada hal-hal di luar prinsip umum Marx (misalnya Syiah sama dengan komunis). Komunisme memang adalah idealisme politik yang mungkin ampuh untuk membangun stigma tesa dan anti tesa sebagaimana dalam struktur dialektika sendiri.



Buat saya Pancasila lebih menarik dan objektif serta relevan dengan basis sosial budaya masyarakat. Pancasila adalah realisme kebudayaan dan kebangsaan kita dengan tantangan objektivikasi pandangan dunia Islam sebagai Rahmat al lil alamin.



Wallahu’alam bi al shawab



Salam atas Nabi al Mustafa Muhammad Saw, keluarga, dan

para pengikutnya yang setia.

1 comment:

  1. It's going to be ending of mine day, except before end I am reading this fantastic article to improve my knowledge. capital one login

    ReplyDelete