Thursday, 9 June 2016

Catatan Kecil Dialog dengan Prof.Hefner Islam Syiah, Filsafat Islam dan Ke Indonesiaan



A.M. Safwan (Madrasah Muthahhari - RausyanFikr Institute)

Hari ini Kamis, 26 Mei saya menerima kunjungan ilmiah/intelektual Prof. Robert W.Hefner, seorang Antropolog dari Universitas Boston, Amerika Serikat, Prof.Hefner pernah beberapa tahun (sekitar akhir tahun 1990-an) berada di Indonesia sebagai dosen tamu di Universitas Gadjah Mada dan melakukan penelitian di Indonesia, salah satunya tentang Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia.

Kunjungan ke tempat kami, dikatakannya bukan sedang dalam penelitian khusus, tetapi sebagai seorang intelektual yang menurut saya beliau adalah seorang peneliti yang simpatik, ramah dan terbuka dia ingin mengetahui (sense seorang peneliti) dinamika Islam Indonesia. Prof Hefner (yang sudah berusia 62 tahun) juga mengikuti dinamika gerakan-gerakan Islam di Indonesia termasuk isu Islam syiah di Indonesia, belakangan ini. Kami berbincang berdua saja dengan santai sekitar 2 jam sekitar masalah Islam di Indonesia, termasuk persoalan pemikiran Islam Syiah dan bagaimana pemikiran Islam Syiah dalam konteks ke Indonesiaan dan relasi pemikiran Islam Syiah dengan tradisi filsafat Islam dan Barat.

Sepanjang perbincangan dan pertanyaan-pertanyaannya, Prof. Hefner, tampak sangat antusias ketika perbincangan banyak saya pusatkan pada tradisi Filsafat Islam dan Tasawuf dalam agama Islam (termasuk dalam pandangan Islam Syiah). Saya berbicara bukan sebagai seorang profesional, demikian saya menegaskan kepada beliau, bahwa saya dan kami di Ponpes Mahasiswa Madrasah Muthahhari hanyalah sekelompok aktifis dan amatiran yang berminat pada pengembangan pemikiran Islam yang berbasis pada tradisi filsafat Islam dan tasawuf.

Saya mencatat salah satu poin penting menurut saya yang menarik yang dinyatakan oleh Prof. Hefner bahwa intelektualisme Islam di Indonesia secara umum jauh lebih maju dibanding beberapa negara besar Islam di dunia yang pernah di kunjunginya selain Iran (yang katanya belum dikunjungi Prof Hefner). Hal lain yang menarik dari perbincangan ini adalah kesan saya bahwa Prof. Hefner tampak sangat antusias jika saya menjelaskan bagaimana upaya kami (yang amatiran) ini ingin mencoba mendialogkan tradisi Islam filsafat Islam dan filsafat Barat sembari saya menunjukkan beberapa tulisan santri kami yang memang kami fokuskan pada review dan penulisan perbandingan dan analisis tradisi filsafat Islam dan filsafat Barat dalam kajian epistemologi.

Dalam hal ini saya memahami, bahwa mungkin ada banyak orang-orang Barat (dalam wilayah intelektual) juga sangat merindukan dan aktif mengupayaklan upaya-upaya perjumpaan dan dialog ini. Tesis Huntington tentang “benturan peradaban” menurut saya lebih banyak mewakili pandangan politik daripada pandangan ilmiah-intelektual. Upaya Ayatullah Misbah Yazdi, filsuf Iran Kontemporer untuk membangun dialog intelektual tradisi filsafat Islam dan Barat yang dikerjakan secara serius dan sistematik oleh Yazdi patut didukung lebih luas oleh kalangan intelektual Islam di Indonesia.

Dalam perbincangan ini, saya menekankan bahwa dalam pengkajian dan pemahaman saya bahwa: 1. Islam Syiah menarik dikaji terutama dalam kemampuan mereka mempertahankan tradisi filsafat Islam sampai sekarang, 2. Iran menurut saya adalah salah satu laboratorium intelektual dalam upaya saya menarik garis objektivikasinya pada konteks Ke Indonesiaan, 3. Semangat pemikiran rasional yang kritis dan Filsafat Islam dalam khazanah pemikiran Murtadha Muthahhari, Ali Syariati, M.Baqir Shadr menurut saya membawa para peminat, peneliti dan pengkajinya pada upaya membangun dialog pengetahuan (sebagai corak peradaban) antara Epistemologi Islam dan Filsafat Barat. Pemikiran mereka begitu kritis dan rasional terhadap Barat, tetapi tidak membuat kita tertutup pada pandangan Barat, justeru mereka menginspirasi kami betapa pentingnya menghidupkan tradisi pemikiran dan filsafat Islam ini agar kita dapat lebih mengedepankan dialog yang sistematis dan rinci, tanpa harus berteriak dengan slogan-slogan yang cenderung lebih artifisial/dangkal tanpa konteks intelektual yang jelas. 4. Tradisi filsafat Islam dan tasawuf dalam kajian Murtadha Muthahhari membawa saya pada pemahaman keagamaan yang inklusif dan bahwa Islam memiliki dimensi yang begitu tinggi yaitu cinta yang menjadi landasan utama mengapa agama ini diturunkan. 5. Hal lain yang juga saya sampaikan, betapa pentingnya konteks pemikiran filsuf di atas dikaitkan dengan pemikir Islam Indonesia yang menurut saya langka yaitu Cak Nur, Gus Dur, Pak Kuntowijoyo.

Wallahu’alam bi al shawab
Salam atas Rasul al Mustafa Muhammad Saw.,

No comments:

Post a Comment